Taipei, 28 Feb. (CNA) Insiden 228 menandai gerakan demokrasi besar pertama Taiwan setelah Perang Dunia II, kata Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun (鄭麗文) pada hari Jumat (27/2), sambil mengimbau masyarakat untuk menjaga demokrasi bangsa yang telah diperjuangkan dengan susah payah.
Menjelang Hari Peringatan Perdamaian 28 Februari, Cheng mengatakan insiden tersebut bukan hanya sebuah tragedi tetapi juga babak pembuka perjuangan Taiwan untuk demokrasi.
Cheng, bersama pejabat senior KMT dan perwakilan kelompok sipil, meletakkan bunga di Monumen Peringatan Perdamaian 228 di Taman Peringatan Perdamaian 228 Taipei. Ia mengajak warga untuk melindungi pemerintahan demokratis berdasarkan hukum, kebebasan berbicara, dan independensi peradilan.
Ia menggambarkan insiden tersebut sebagai akibat dari kekerasan negara dan penyalahgunaan kekuasaan, yang meninggalkan warisan menyakitkan berupa penindasan dan pertumpahan darah.
Cheng mengatakan sistem demokrasi dan hukum Taiwan ditempa melalui gerakan-gerakan demokrasi berturut-turut dan dimaksudkan untuk memastikan peradilan yang independen.
Namun, ia mengkritik apa yang ia sebut sebagai penurunan netralitas peradilan, dengan menuduh sistem tersebut telah menjadi alat yang digunakan untuk melawan lawan politik.
"Peradilan Taiwan saat ini dengan sukarela merendahkan dirinya menjadi alat bagi mereka yang berkuasa, berfungsi sebagai cakar mereka untuk menyerang lawan politik," katanya.
Cheng menambahkan bahwa demokrasi konstitusional memerlukan pembatasan kekuasaan negara. Konstitusi, katanya, ada untuk membatasi mereka yang berwenang dan mencegah penyalahgunaan, bukan untuk menjadi alat penguasa.
Insiden 228 merujuk pada pemberontakan sipil yang meletus di Taiwan pada 28 Februari 1947 dan penindasan berikutnya oleh pemerintah KMT yang saat itu berkuasa.
Puluhan ribu orang tewas atau dipenjara.
Selesai/