Taipei, 27 Feb. (CNA) National Taiwan University Hospital (NTUH) pada hari Kamis (26/2) mengatakan bahwa mereka telah mengembangkan model diagnostik berkinerja tinggi yang mampu mendeteksi lesi prakanker dan kanker pankreas tahap awal hanya dengan menggunakan 110 mikroliter serum darah, dengan tingkat akurasi setinggi 90 persen.
Model tersebut, yang diberi nama PanMETAI, dikembangkan melalui kolaborasi antara NTUH dan Academia Sinica, menurut siaran pers NTUH yang dikeluarkan pada hari Kamis.
Pendekatan ini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan analisis resonansi magnetik nuklir (NMR) melalui biopsi cair untuk menciptakan platform skrining yang "sangat stabil dan dapat diskalakan secara global," kata pihak rumah sakit.
Temuan ini telah dipublikasikan pada 13 Februari di jurnal internasional Nature Communications dalam makalah berjudul "PanMETAI -- a high performance tabular foundation model for accurate pancreatic cancer diagnosis via NMR metabolomics."
Chang Yu-ting (張毓廷), seorang profesor penyakit dalam di NTUH yang ikut menulis makalah tersebut, mengatakan dalam sebuah acara media bahwa kesulitan terbesar dalam menyembuhkan kanker pankreas di masa lalu adalah "menemukannya terlalu terlambat."
Kanker pankreas sering didiagnosis pada tahap lanjut karena gejala awalnya tidak jelas dan metode skrining yang efektif masih kurang, serta tingkat kelangsungan hidup lima tahunnya sekitar 13 persen, jelas Chang.
Chang mengatakan beberapa penelitian telah menemukan bahwa kanker pankreas memicu "serangkaian perubahan metabolik dan jaringan lunak yang progresif" yang "memberikan potensi untuk deteksi dini kanker pankreas."
Kemajuan dalam teknologi big data dan AI memungkinkan tim, setelah bertahun-tahun bekerja, untuk mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam platform yang hanya memerlukan sampel darah untuk deteksi yang presisi.
Chang menjelaskan bahwa tim peneliti menggunakan platform analisis metabolomik berbasis NMR yang sangat terstandarisasi untuk memperoleh hingga sekitar 260.000 sinyal metabolik dari setiap sampel serum 110 mikroliter dan kemudian menerapkan model pembelajaran mendalam untuk secara sistematis mengekstrak fitur-fitur kunci yang terkait dengan kanker pankreas.
"Metode ini dapat secara komprehensif mencerminkan perubahan metabolik secara keseluruhan dari kanker pankreas mulai dari lesi prakanker hingga kanker tahap awal, secara signifikan meningkatkan kemampuan identifikasi risiko dini," kata Chang.
Ia menambahkan bahwa dalam dataset uji buta independen di NTUH, PanMETAI mencapai kinerja prediktif keseluruhan sebesar 0,99, dengan sensitivitas 93 persen dan spesifisitas 94 persen.
Chang mengatakan teknologi ini "tidak terbatas pada kanker pankreas," dengan mencatat bahwa tim telah mulai menerapkan platform deteksi multi-kanker untuk mendeteksi kanker lambung, kanker kolorektal, dan kanker hati.
Ia menggambarkan hasil awal sebagai "cukup ideal," dan pendekatan ini diharapkan dapat menjadi alat skrining dini untuk berbagai jenis kanker.
Selesai/IF