Stockholm, 2 Mar. (CNA) Sebuah asosiasi Taiwan yang bertujuan mempromosikan keragaman budaya Taiwan dan menyoroti nilai-nilai demokrasinya secara resmi diresmikan di Denmark pada Sabtu (28/2), bertepatan dengan Hari Peringatan Perdamaian 228.
Peluncuran Taiwanese Association Denmark (TAD) tidak hanya menandai berdirinya kelompok baru yang melayani warga Taiwan di Denmark, tetapi juga menegaskan komitmen bersama untuk mengingat sejarah dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi Taiwan, kata Presiden TAD Huang Yi-min (黃伊敏) di upacara pendirian.
Demokrasi dan kebebasan Taiwan tidak diraih dalam semalam, melainkan diperoleh melalui pengorbanan dan perjuangan tak terhitung banyaknya orang di masa-masa kelam, ujar Huang, seraya mencatat bahwa Hari Peringatan Perdamaian 228 memperingati para korban pemberontakan 28 Februari 1947, di mana ribuan orang tewas dalam penindasan pemerintah yang menandai awal dari puluhan tahun pemerintahan otoriter di Taiwan.
Warga Taiwan di Denmark -- sebuah negara yang juga menghargai demokrasi dan kebebasan -- seharusnya sangat menghargai warisan Taiwan mereka dan membantu mempromosikan pentingnya, kata Huang.
Upacara Sabtu itu juga dihadiri warga Taiwan lainnya di Eropa dan pejabat dari misi diplomatik Taiwan, yang memberikan ucapan selamat atas berdirinya TAD.
Robin Cheng (鄭榮俊), perwakilan Taiwan untuk Denmark, mengatakan bahwa posisi Taiwan di komunitas internasional tidak hanya berasal dari upaya 23 juta penduduknya, tetapi juga dari dukungan aktif dan advokasi warga Taiwan di seluruh dunia.
Cheng berterima kasih kepada Huang dan timnya atas peluncuran asosiasi tersebut dan mengatakan kantornya menantikan kolaborasi dengan warga Taiwan di luar negeri untuk meningkatkan profil Taiwan dan memperluas kerja sama Taiwan-Denmark.
Huang mengatakan ia terinspirasi untuk meluncurkan TAD setelah insiden tahun 2023 di mana pihak berwenang Denmark menandai izin tinggal warga Taiwan di sana sebagai "Tiongkok".
Meskipun beberapa warga Taiwan melakukan protes di depan parlemen Denmark, komunitas tersebut masih kekurangan wadah untuk menyuarakan pendapat, membangun koneksi, dan mendapatkan dukungan, ujarnya.
Huang mengatakan juga ada kebutuhan untuk program bahasa Mandarin bagi generasi kedua warga Taiwan dan upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang Taiwan di kalangan masyarakat Denmark.
Selesai/JC