Tainan, 25 Feb. (CNA) Praktik pertukaran mata uang bawah tanah telah terbongkar dalam penyelidikan pasca tertinggalnya uang tunai NT$4 juta (Rp2,1 miliar) yang dibawa pekerja migran di dalam Taiwan Railway pada Mei tahun lalu, kata kejaksaan, yang telah menuntut empat orang dan menerbitkan satu perintah pencarian.
Kantor Kejaksaan Distrik Tainan melalui keterangan tertulis hari Selasa (24/2) mengatakan bahwa setelah menerima laporan dari kepolisian kereta api di Kaohsiung, mereka melancarkan penyelidikan yang menemukan kasus ini diduga merupakan pelanggaran Undang-Undang Perbankan terkait remitansi ilegal.
Seorang wanita warga Vietnam bermarga Phan Le yang mengelola sebuah warung makan di Distrik Yongkang, Tainan, diduga sejak Februari 2023 hingga Mei 2025 menerima titipan dari rekan senegaranya di Taiwan yang ingin menukarkan dolar Taiwan ke dong Vietnam, kata kejaksaan.
Setelah menyepakati jumlah dan kurs, ia mentransfer dong Vietnam ke rekening bank domestik di Vietnam yang ditunjuk oleh penitip, yang kemudian menyerahkan dolar Taiwan secara tunai atau melalui transfer, kata kejaksaan.
Penyidik menemukan Phan Le, pekerja migran bermarga Ho, dan pegawai warung makan warga Vietnam bermarga Phan Trang menerima dolar Taiwan dari para penitip. Untuk setiap transaksi, mereka mengenakan biaya administrasi antara NT$50 hingga NT$300, dengan yang paling umum NT$100, kata kejaksaan.
Dalam proses penyidikan juga terungkap bahwa seorang pria warga Taiwan bermarga Tsai (蔡) dan istrinya, seorang warga Vietnam yang telah dinaturalisasi bermarga Mandarin Chih (制), secara ilegal terlibat dalam kegiatan remitansi bawah tanah, kata kejaksaan.
Kejaksaan Tainan mengatakan Phan Le, Phan Trang, Tsai, dan Chih diduga melanggar Undang-Undang Perbankan dengan secara ilegal menjalankan usaha remitansi dalam dan luar negeri serta memperoleh keuntungan dari selisih kurs dan biaya administrasi.
Setelah penyidikan selesai, kejaksaan mengajukan tuntutan terhadap empat orang tersebut ke Pengadilan Distrik Tainan dan menerbitkan surat perintah pencarian terhadap Ho, yang telah meninggalkan Taiwan dan melarikan diri pada 16 Mei tahun lalu.
Kejaksaan menyebutkan bahwa jumlah transaksi remitansi dalam kasus ini sedikitnya mencapai 924 kali dengan total nilai setidaknya NT$230,38 juta, yang berdampak dan merusak pengelolaan serta ketertiban sistem keuangan.
Uang NT$4 juta yang dirampas pihak berwenang merupakan dana yang telah ditransfer Phan Le dalam bentuk dong Vietnam ke rekening domestik Vietnam yang ditunjuk penitip, kemudian diterima Ho untuk dibawa kembali ke warung makan dan diserahkan, menurut kejaksaan.
Karena uang tersebut merupakan alat tindak pidana, kata kejaksaan, mereka meminta pengadilan untuk menyatakannya dirampas sesuai ketentuan.
Sebelumnya, cabang Biro Kepolisian Kereta Api di Kaohsiung pada 7 Mei tahun lalu menerima laporan dari Taiwan Railway Corp. bahwa seorang penumpang kehilangan uang tunai dalam jumlah besar di dalam kereta.
Pemeriksaan menemukan bahwa Ho, yang saat itu bekerja di sebuah pabrik batu di Chiayi, lupa membawa tas berisi uang tunai tersebut saat turun dari kereta lokal yang ia naiki dari Stasiun Zhongzhou sampai Stasiun Tainan. Ia kemudian meminta bantuan di meja layanan stasiun.
Kepala kondektur kereta menemukan tas yang ciri-cirinya sesuai di antara gerbong dan menyerahkannya kepada petugas di Stasiun Xinying serta kepolisian kereta api untuk diamankan. Karena jumlahnya dianggap sangat besar, pihak terkait segera melaporkan kepada polisi untuk datang ke lokasi.
Saat itu, Hu mengaku bahwa uang tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman pembelian properti di Vietnam. Setelah mengumpulkan bukti, polisi melaporkan kasus ini kepada Kejaksaan Distrik Tainan.
(Oleh Yang Ssu-jui dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF