Oleh Chen Yu-ting dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Sikap malas dan menghindari kerja keras sering menjadi stigma yang ditempelkan pada tunawisma. Namun, menurut otoritas Taipei, di antara para "penghuni jalanan" yang tercatat di kota tersebut, 60 persen termasuk lansia dan memang tidak bisa bersaing di pasar kerja utama, sementara sisanya juga tidak punya banyak opsi.
"Kondisi tunawisma saat ini adalah menua dan melemah. Mereka sama sekali tidak bisa bersaing di pasar kerja utama," kata Kepala Divisi Pekerjaan Sosial Departemen Kesejahteraan Sosial Kota Taipei, Chiu Ching-hsiung (邱慶雄).
Dari hampir 400 tunawisma yang tercatat di Taipei, ujarnya, 60 persen berusia 60 tahun ke atas, yang sekitar 40 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun, memiliki ketidakmampuan fisik, atau diduga memiliki disabilitas mental atau fisik.
"Orang luar sering mengira tunawisma menjadi seperti itu karena malas bekerja, tetapi sebenarnya bukan," Chiu mengatakan.
Chiu menjelaskan, bahkan bagi 40 persen tunawisma yang berusia di bawah 60 tahun dan berniat bekerja secara stabil, pilihan pekerjaan mereka umumnya terbatas pada layanan rumah tangga, buruh kasar, pekerja sementara, atau satpam.
Pekerjaan ini tidak hanya menuntut tenaga fisik, tetapi juga memiliki banyak syarat terselubung dan biaya, misalnya harus memiliki ponsel yang bisa dihubungi kapan saja, kata Chiu. Artinya, selain membeli perangkat, mereka juga harus membayar pulsa bulanan dan menjaga baterai tetap terisi, ujarnya.
Untuk menurunkan hambatan, Departemen Kesejahteraan Sosial telah mendorong program kerja komunitas, dengan upah dasar NT$700 (Rp375 ribu) untuk empat jam kerja per hari, memungkinkan tunawisma melakukan pelayanan sambil diperkenalkan pada konsep menerima gaji bulanan dan menabung.
Namun, memiliki arus kas stabil saja belum cukup untuk keluar dari jalanan. Salah satu pendiri Charitable Service Association, Cheng Yu-sheng (程郁盛) mengungkapkan bahwa untuk menyewa tempat tinggal, seseorang kerap harus langsung membayar tiga bulan sekaligus, termasuk untuk deposit.
Sementara itu, selama menabung, para tunawisma juga tetap harus tidur di jalan, menahan gigitan nyamuk dan kebisingan lalu lintas. "Bayangkan memulai dari nol seperti neraka, jangan bilang bertahan, bahkan tenaga dan mental sulit dipertahankan," kata Cheng.
Tujuan asosiasi tersebut juga bukan sekadar melayani tunawisma, tetapi menghapus kemiskinan. Cheng dan rekan pendirinya, Chang Tzu-wen (張子文) merumuskan pengalaman lebih dari satu dekade menjadi program edukasi, membawa masyarakat merasakan berbagai wajah kemelaratan, termasuk melalui pengalaman tidur di jalan.
Mereka membagikan kisah para peserta yang pernah menginap di sekitar Stasiun Kereta Wanhua. Pada keesokan harinya, semua orang bangun dengan kondisi fisik sangat lelah, karena digigit nyamuk, terganggu suara kendaraan, atau mencium aroma masakan dari restoran sehingga tidak bisa tidur.
"Hanya satu hari saja seperti itu, apalagi harus bertahan sampai menabung cukup untuk sewa rumah," kata pendiri asosiasi tersebut.
Meskipun kondisi hidup ini sangat sulit, ada hampir 30 persen tunawisma, atau sekitar seratus orang, yang telah tidur di jalan lebih dari lima tahun, menurut statistik Departemen Kesejahteraan Sosial.
Cheng mengakui, banyak di antara mereka adalah tenaga kerja yang menua dan melemah. Bahkan yang usianya belum dianggap tua secara umum, tetap bisa mengalami kesulitan di tempat kerja karena tidak bisa berdiri atau duduk lama, ujarnya.
Pola ini berulang, membuat mereka semakin enggan bekerja, hingga akhirnya tersingkir oleh kerangka sosial kapitalis dan tetap berada dalam kondisi tunawisma, kata Cheng.
Cheng mengatakan, untuk mencapai tujuan keluar dari jalanan, diperlukan keinginan dari tunawisma itu sendiri yang dibarengi intervensi sumber daya yang tepat.
Selain pekerjaan, tunawisma yang menua dan melemah, jika menyadari dirinya bukan bagian dari populasi tenaga kerja normal dan memenuhi syarat untuk bantuan sosial, dapat dengan lancar ditempatkan atau dirawat, ucapnya.
Di sisi lain, jumlah tunawisma yang tercatat di Taipei telah menurun secara bertahap setiap tahunnya, dari lebih dari 600 orang pada akhir 2020 hingga kurang dari 400 orang pada akhir 2025, menurut statistik Departemen Kesejahteraan Sosial.
Kunci dari keberhasilan penurunan ini, kata Chiu, adalah intervensi dini dan pembangunan kembali kehidupan.
Jika pada saat tunawisma baru datang dibangun hubungan kepercayaan dan kebutuhan mereka diidentifikasi, kemungkinan mereka untuk berhasil keluar dari kehidupan jalanan akan maksimal, menurutnya.
Oleh karena itu, kata Chiu, dalam tiga tahun terakhir, pihaknya setiap tahunnya berhasil membantu sekitar 200 orang dalam hal penyewaan rumah, penempatan, atau kembali ke kampung halaman.
Selain itu, Chiu mengatakan bahwa persyaratan di Taipei terhadap tunawisma relatif ketat, membuat kehidupan mereka tidak terlalu bebas atau santai, sehingga jumlah orang yang datang maupun yang bertahan menjadi lebih sedikit.
Dalam beberapa tahun terakhir, Departemen Kesejahteraan Sosial juga bekerja sama dengan organisasi masyarakat untuk membangun jaringan perawatan tunawisma yang erat, termasuk dengan Charitable Service Association.
Asosiasi tersebut sejak pandemi COVID-19 mulai mengadakan layanan medis jalanan di sekitar Taipei Main Station, kemudian memperluas layanan ke integrasi makanan dan pendidikan bagi yang miskin, dengan patroli minimal dua kali sehari untuk mendeteksi "wajah baru" di antara para tunawisma.
Cheng dan Chang mengatakan bahwa untuk benar-benar membantu para tunawisma, diperlukan pembangunan kepercayaan terlebih dahulu, hingga hubungan bisa terjalin. Memberikan makanan adalah cara yang paling tepat, kata mereka.
Selain pekerja sosial yang aktif mendekati, asosiasi juga mempekerjakan seorang "petugas kepedulian" yang dulunya tidur di jalanan, menggunakan tindakan dan bahasa yang paling dekat dengan tunawisma untuk mendapatkan pengakuan mereka.
Cheng mengatakan, setelah memahami mereka, barulah terlihat bahwa masalah utama mereka tidak selalu tentang tidak punya rumah. Beberapa tidak memiliki keluarga, beberapa lebih mementingkan jaringan sosial, ada yang harus mendapatkan perawatan medis, dan hanya sebagian kecil yang ada di sana karena tidak menemukan pekerjaan.
Setelah memahami kebutuhan inti tunawisma, Departemen Kesejahteraan Sosial, Departemen Ketenagakerjaan, dan organisasi masyarakat bisa bersama-sama merumuskan solusi, seperti bekerja untuk mendapatkan bantuan, penempatan atau perawatan, dan membantu mereka kembali ke kampung halaman.
Namun, Chang menyatakan, masyarakat umum selalu beranggapan bahwa menemukan pekerjaan stabil adalah langkah maju yang baik, tetapi mungkin bagi para tunawisma, menjadikan dunia ini sebagai rumah justru adalah keadaan paling bahagia.
Selama tidak berdampak negatif pada masyarakat, jenis gaya hidup mana yang benar-benar tepat patut dipertimbangkan lebih lanjut, kata Chang.
Sebelum kesadaran tumbuh di antara para tunawisma, kata Cheng, hidup di jalanan dalam kondisi yang tidak merugikan publik sebenarnya bisa dianggap bentuk kehidupan bebas dan santai.
Ia memberi contoh bahwa pihaknya pernah membantu sepasang suami istri menyewa rumah dengan sukses, tetapi tidak lama kemudian bertemu mereka di jalanan lagi.
Alasannya, "Teman-teman saya semua ada di sini, saya lebih senang tinggal di sini," kutip Cheng. Tunawisma dengan kebutuhan kuat akan hubungan sosial seperti ini bukanlah kasus yang jarang, tambahnya.
Selesai/