WAWANCARA /"Cece" di tepi pelabuhan Pingtung dobrak perbedaan untuk jangkau ABK Indonesia

22/02/2026 14:40(Diperbaharui 22/02/2026 14:40)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Huang Yu-jing dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Menembus batasan perbedaan, seorang pemilik toko minuman di Pelabuhan Perikanan Donggang, Kabupaten Pingtung belajar bahasa Indonesia demi menjalin kedekatan dengan para anak buah kapal (ABK) migran. Seiring dengan terbentuknya persahabatan tulus di antara mereka, ia kini mendapat panggilan khas: Cece, yang berarti kakak perempuan.

Di tepi Pelabuhan Donggang berdiri sebuah toko minuman. Pemiliknya adalah orang Taiwan, tetapi 90 persen pelanggannya adalah ABK Indonesia. Di toko ini, mereka tidak perlu khawatir akan hambatan bahasa. Menu-menunya diterjemahkan, dan sang pemilik bisa berbicara dalam bahasa Indonesia sederhana.

Banyak ABK tidak mengingat nama toko tersebut dalam bahasa Mandarin. Dari mulut ke mulut, tempat ini dikenal sebagai toko "Cece" -- sebuah panggilan yang disematkan para pelaut migran asal Indonesia kepada sang pemilik.

Cece membuka toko bersama suaminya saat berusia lebih dari 30 tahun, dan kini telah mengelolanya selama sekitar 20 tahun. Kepada CNA, ia mengatakan bahwa ia awalnya hanya berpikir untuk melayani orang-orang yang bekerja di sekitar kawasan pelabuhan, dan tidak pernah secara khusus menargetkan pelanggan asing.

Namun, pada masa itu, kata Cece, masyarakat umumnya memandang pekerja migran dengan sikap diskriminatif atau rasa takut, dan ia menjadi satu di antara sedikit pemilik usaha yang bersikap ramah kepada mereka.

Namun, dari sana, tanpa di sengaja, prinsip "mulut ke mulut" di antara para ABK membuat tokonya secara perlahan memiliki basis pelanggan yang stabil, ucapnya.

Seiring pelanggan asal Indonesia di tokonya semakin banyak, Cece mulai dari komunikasi dengan bahasa isyarat hingga memberanikan diri berbicara, belajar bahasa Indonesia sedikit demi sedikit dari para pelanggan.

Dari menyebut bilangan dan nama minuman, menasihati ABK muda agar tidak sembarangan menghabiskan uang, bahkan berbincang tentang isi hati, semua ia berusaha jalani dalam bahasa Indonesia, membuatnya semakin menjadi seperti kakak bagi para perantau ini.

Ia teringat seorang ABK yang sudah seperti saudara sendiri pernah mencurahkan isi hatinya kepadanya: "Kita semua manusia, mereka juga punya mata, punya hidung, punya perasaan. Hanya saja kewarganegaraan, standar hidup, dan kemampuan ekonomi kita berbeda. Kami berharap tidak diperlakukan berbeda di negeri orang."

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Seperti yang dikatakan putranya, toko minuman itu lambat laun menjadi semacam "pos layanan". Jika ABK sakit, Cece akan memberi tahu klinik mana yang sebaiknya didatangi, atau menuliskan catatan dalam bahasa Mandarin agar mereka bisa membeli obat yang sesuai. Setelah toko tutup, ia juga mengizinkan para pelaut migran menonton pertandingan sepak bola hingga usai.

Putra Cece, Chun Hung (俊宏), kini juga bekerja di toko tersebut. Meskipun sejak kecil melihat para ABK keluar-masuk toko, ucapnya, baru dalam dua atau tiga tahun terakhirlah, setelah kembali ke kampung halamannya, ia memiliki lebih banyak interaksi dan pemahaman, serta menyadari betapa istimewanya toko yang dikelola orang tuanya.

Pemuda berusia 28 tahun ini mewarisi cara ibunya melayani pelanggan, perlahan belajar mengobrol santai dengan para ABK baik dalam bahasa Indonesia maupun Hokkien Taiwan. "Saya sangat menyukai perasaan ketika bahasa dan budaya berbeda, tetapi melalui interaksi sehari-hari yang sederhana, kita bisa merasakan kebahagiaan."

Penerimaan Cece terhadap ABK migran bukan tanpa pertanyaan atau keraguan dari orang lain. Pernah ada kerabat dan teman yang, dengan alasan khawatir soal keamanan, menyarankan agar ia menyimpan kursi-kursi dan tidak membiarkan para pelaut perantau itu beristirahat di sana.

Namun, ia tidak terlalu memedulikannya dan hanya berkata bahwa mereka semua adalah pelanggan lama yang sudah sangat akrab, dan ia tidak pernah dengan sengaja membedakan antara orang Taiwan dan Indonesia. "Pekerja migran dan kami, tidak ada yang berbeda."

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.