Oleh Chen Chih-chung dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Analisis penyelenggara Ujian Kemampuan Bahasa Mandarin (TOCFL) menunjukkan kemampuan lisan bahasa Mandarin pekerja migran di Taiwan biasanya cukup baik, tetapi membaca dan menulis aksara Han menjadi tantangan besar bagi mereka. Hal ini dapat menjadi momok, seiring kemampuan bahasa menjadi salah satu syarat dalam program Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM).
Sebelumnya, seluruh pekerja migran di Taiwan diharuskan peraturan untuk pulang kembali ke negara asal mereka setelah mencapai masa kerja tertentu. Sebagai jalan keluar, pemerintah pada 2022 menyetujui program PTTM yang dapat mengizinkan mereka tinggal bekerja lebih lama. Kemampuan berbahasa Mandarin menjadi salah satu syaratnya.
Gelombang pertama program PTTM membuka sektor industri dan kesejahteraan sosial, di mana pekerja migran yang sudah bekerja di Taiwan selama setidaknya enam tahun dan memiliki kemampuan bahasa Mandarin tertentu -- mencapai level A2 ujian lisan atau mendengar dalam TOCFL -- dapat mendaftar.
Menurut statistik Steering Committee for the Test of Proficiency-Huayu selaku penyelenggara TOCFL dan Kementerian Pendidikan, pada 2022, jumlah pekerja migran yang mengikuti ujian ini mencapai 2.210 orang, dengan mayoritas berasal dari Indonesia, disusul Vietnam dan Filipina.
Sebelumnya, TOCFL diadakan enam kali dalam setahun, dan sekarang telah menjadi sepuluh kali per tahun, dengan tambahan sesi ujian lisan khusus untuk pekerja migran.
Chen Po-hsi (陳柏熹), direktur eksekutif komite tersebut, dalam wawancara dengan CNA, menyatakan bahwa sempat terjadi gelombang peserta ujian saat program PTTM diluncurkan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya menurun: 984 peserta pada 2023, 331 pada 2024, lalu 430 dari awal hingga Agustus 2025.
Penurunan ini, kata Chen, salah satunya dikarenakan pekerja migran sudah tidak selalu harus mengikuti TOCFL untuk memenuhi syarat program PTTM.
Kini, ada berbagai cara untuk melewati persyaratan kemampuan Mandarin, misalnya gaji yang mencapai batas tertentu, atau "penilaian mandiri oleh pemberi kerja" untuk perawat migran yang telah bekerja di majikan yang sama selama setidaknya tiga tahun, ujarnya.
Berdasarkan statistik Kementerian Ketenagakerjaan, hingga akhir November tahun ini, di antara kasus perawat migran yang beralih menjadi PTTM, 30.899 memenuhi syarat berdasarkan gaji minimal NT$26.000 per bulan, 3.060 melalui penilaian mandiri oleh pemberi kerja, 197 melalui 36 jam pembelajaran bahasa Mandarin, dan 512 melalui TOCFL.
Chen menambahkan bahwa TOCFL level A2 sebenarnya tidak terlalu sulit. Menurutnya, pekerja migran yang sudah tinggal di Taiwan lima hingga enam tahun dan sering berbicara menggunakan Mandarin sehari-hari seharusnya dapat mencapai standar tanpa harus mengikuti kursus khusus.
Namun, TOCFL menguji mendengar dan membaca sekaligus, sehingga banyak pekerja migran yang lancar berbicara tetapi kesulitan membaca aksara Han, menurut Chen.
Sejarah aksara Han sendiri telah tercatat sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Berbeda dari alfabet Latin yang digunakan dalam bahasa Indonesia, abjad Tionghoa berasal dari bentuk-bentuk piktografis, yakni simbol yang menyerupai gambar benda nyata yang kemudian berkembang menjadi sistem tulisan yang kompleks dan terstruktur. Secara total, ada ribuan huruf Mandarin yang berbeda.
TOCFL sendiri memungkinkan nilai kemampuan lisan dicantumkan secara terpisah dalam hasil ujian, kata Chen. Namun, banyak pekerja migran hanya mendaftar ujian berbicara, yang ironisnya lebih sulit dibandingkan kemampuan pendengaran, sehingga tingkat kelulusannya biasanya lebih rendah daripada mendengar, ucapnya.
Chen menduga pemerintah khawatir terlalu banyak perawat gagal ujian Mandarin, sehingga banyak lansia kehilangan perawatan, sehingga dibukalah opsi "penilaian mandiri oleh pemberi kerja". Namun, kebijakan ini juga menurunkan kebutuhan pekerja migran untuk mengikuti TOCFL.
Selain itu, Chen menyoroti bahwa perawat migran paling sering berinteraksi dengan lansia atau pasien, sehingga informasi yang dibutuhkan mereka untuk dapat komunikasi terbatas.
Jika anggota keluarga lain juga sibuk atau sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris, rangsangan Mandarin yang diterima pekerja migran relatif rendah, sehingga motivasi mereka mempelajarinya kurang, menurut Chen.
Bisa jadi, kata Chen, mereka lebih sering berbicara dengan sesama warga negara mereka saat pergi ke taman atau berkumpul di akhir pekan menggunakan bahasa ibu.
Mengenai penambahan sektor perhotelan dan pelabuhan komersial dalam program PTTM pada Januari mendatang, Chen menilai kemampuan bahasa Mandarin yang dibutuhkan berbeda tergantung sifat pekerjaannya.
Jika pekerjaan utamanya adalah membersihkan kamar hotel atau menyiapkan bahan makanan, mencuci sayur, dan menata peralatan makan, tingkat A2 sudah cukup, kata Chen. Namun, jika pekerjaan melibatkan menjaga loket atau menjelaskan fasilitas ke tamu, dibutuhkan kemampuan yang lebih tinggi, kemungkinan B2 ke atas.
Chen menyarankan agar pusat bahasa Mandarin universitas bekerja sama dengan industri untuk merancang kurikulum sesuai kebutuhan, agar lebih sesuai dengan tuntutan industri dan dapat disesuaikan dengan perubahan cepat.
Di sisi lain, menurut Chen, mempertahankan pekerja migran agar tetap tinggal di Taiwan tidak harus sepenuhnya mengandalkan kemampuan Mandarin. Memperkuat layanan hidup sehari-hari dan konseling psikologis juga bisa menjadi cara, ucapnya.
Chen menambahkan bahwa masyarakat Taiwan lebih menghormati orang asing dan konsep kesetaraan etnis dibandingkan Jepang, Korea Selatan, atau negara Barat, sehingga banyak orang benar-benar memperlakukan pekerja migran seperti keluarga.
Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Taiwan membaik, dan gaji pekerja migran lebih tinggi dibanding sebelumnya, catatnya. Selama dukungan yang tepat disiapkan, Taiwan dapat menarik banyak pekerja migran untuk bekerja keras di sini, tambah Chen.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan menyatakan kepada CNA bahwa menanggapi kebutuhan tenaga teknis asing, mereka sedang bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk memetakan kapasitas ujian di Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina.
Batas kemampuan bahasa Mandarin atau syarat terkaitnya ditetapkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan bersama instansi terkait, sementara Kementerian Pendidikan mendukung di bagian pengujian, kata mereka.
Selesai/IF