WAWANCARA /Agus Lie, mantan PMI dapat Penghargaan Imigran Baru Teladan dan Terbaik

31/01/2026 15:34(Diperbaharui 31/01/2026 15:34)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Agus Lie (kiri) mendapat penghargaan Imigran Baru Terbaik tahun 2025. (Sumber Foto : Agus Lie)
Agus Lie (kiri) mendapat penghargaan Imigran Baru Terbaik tahun 2025. (Sumber Foto : Agus Lie)

Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA

Agus Lie, mantan pekerja migran Indonesia (PMI) ini dikenal sebagai migran berprestasi. Selain mendapat penghargaan dari pemerintah kota (pemkot) Taoyuan pada tahun 2025 sebagai Imigran Baru Terbaik, sebelumnya ia juga menggondol penghargaan lain pada tahun 2021 sebagai Pekerja Teladan Elit dari Asosiasi Perawatan Wanita Imigran Baru Kota Taoyuan.

Dalam wawancaranya bersama CNA, Agus, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa jauh sebelum dirinya mendapatkan dua penghargaan ini, hidupnya pernah mengalami kesulitan, terutama saat menjadi PMI pada tahun 2000 silam. Agus pun menuturkan bahwa ia sempat menjadi pekerja hilang kontak karena keadaan. Berikut ini kisah Agus yang diceritakan pada reporter CNA.

Pernah ditindas agensi liar

Agus menceritakan kehidupannya pada masa silam jika ia mulai datang sebagai PMI pada tahun 2000. Di kontrak pertamanya, selama tiga tahun ia bekerja di sebuah pabrik di Taoyuan. Pertama mengenal lingkungan baru, tidak bisa bahasa Mandarin. Ia juga beradaptasi dengan keras dengan makanan sehari-hari dan tidak tahu kebiasaan kehidupan dan budaya di Taiwan. Namun semangat Agus untuk belajar Mandarin tidak pupus.

Setiap hari pulang kerja, ia meluangkan waktu satu jam khusus untuk belajar mengenal tulisan Mandarin. Ia mulai dari mengenal dua huruf sehari dan belajar menulis setiap hari. Agus juga sering menonton drama Taiwan dan berita di TV Taiwan. Dari kebiasaan itulah ia mengenal dan bisa membaca huruf Mandarin.

Meski begitu, ia mengalami banyak kendala yang menyedihkan. Ia mengatakan perbedaan cuaca di musim dingin yang tidak enak, dan pabrik yang tidak ada lembur. Pernah juga ia mendapat kabar jika hasil medical di Taiwan tidak lolos. Hatinya pun berdebar-debar dan takut dipulangkan ke Indonesia. Agus hanya berharap ia ingin tetap di Taiwan dan bekerja. 

Agus Lie (berbaju Batik) setelah mengajar menjadi relawan di salah satu sekolah di Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)
Agus Lie (berbaju Batik) setelah mengajar menjadi relawan di salah satu sekolah di Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)

Agus mengatakan, lingkungan kerjanya pun tidak bagus. Ia harus rela tinggal di tempat kerja yang panas, kotor, berdebu, setiap hari mengepel dan menyapu untuk ukuran pabrik besar. Pada saat seperti itu, Agus mendapat pelajaran penting dari manajernya. Melihat kerja Agus, sang manajer pernah mendekatinya dan mengajarkan langsung bagaimana menyapu tempat kerja dengan baik. 

Agus pun berpikir bahwa ia belajar dari seorang manajer dengan jabatan tinggi yang sudi mengajarkan bawahan yang paling bawah utuk bekerja dengan baik, bahkan menyontohkannya secara langsung. 

Ketika ditanya bagaimana keadaan PMI pada saat itu, Agus mengatakan bahwa tahun 2000 kehidupan PMI sangat mengharukan karena hak-haknya tidak bisa terlindungi. Ia menuturkan pada saat itu mengalami potongan dari agensi yang jumlahnya fantastis. Dikarenakan hal itulah, dan ajakan dari teman-temannya, Agus memutuskan untuk kabur dan menjadi PMI hilang kontak selama lima tahun. 

Selama jadi PMI tak berdokumen, ia pun malah ditindas oleh agensi liar. Kesehariannya diliput dengan rasa takut tertangkap polisi, dan ia juga tidak punya kebebasan untuk keluar ditambah lagi perlakuan semena-mena dari agensi liar. Agus menuturkan bahwa per bulan ia hanya mengantongi uang NT$3.000 (Rp1,6 juta) saja. 

Namun, meski begitu waktu istirahatnya digunakan untuk mempelajari kehidupan dan budaya orang Taiwan. Ia pun rajin mengatur gaji dan kebutuhan sehari-hari dengan hemat. 

Agus Lie (kiri berbaju batik) juga mengajarkan budaya Indonesia di sekolah Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)
Agus Lie (kiri berbaju batik) juga mengajarkan budaya Indonesia di sekolah Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)

“Saya usahakan untuk menabung sebagian hasil jerih payah, meskipun tak banyak,” ujar Agus yang berusia 48 tahun ini.

Tak hanya itu saja, Agus juga menceritakan bahwa dulu, saat ia memperpanjang paspor di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) ia juga mengalami penarikan ongkos yang memberatkan.

“Dulu KDEI tak seperti sekarang ini yang bagus mengalami kemajuan pesat. Dulu bikin paspor di KDEI saja harganya selangit,” ujarnya. 

Petugas di bursa kerja Taoyuan

Agus yang tinggal di Taiwan sudah puluhan tahun ini mengatakan bahwa saat ini ia bekerja di Pusat Layanan Ketenagakerjaan Taoyuan (桃園就業服務中心) sebagai  penerjemah dan membantu PMI yang sedang mencari pekerjaan baru atau PMI yang putus kontrak kerja. 

Sebelumnya, Agus juga dikenal telah membantu para PMI dan juga pemerintah Taiwan sebagai pengurus organisasi yang menjabat sebagai Direktur Asosiasi Imigran Baru Taiwan, Pengawas Asosiasi Pertukaran Budaya Indonesia Kota Taoyuan, Presiden Tim Relawan Imigran Baru Kehormatan Perguruan Tinggi Komunitas Zhongli, Wakil Direktur Jenderal Kehormatan Asosiasi Perawatan Wanita Imigran Baru Kota Taoyuan.

Ia pun juga pernah menjadi pembicara di Seminar Imigran Baru Perguruan Tinggi Komunitas Zhongli dan juga menjadi anggota Asosiasi Kawasan Bisnis Stasiun Kereta Api Taoyuan, pernah juga menjadi relawan di perpustakaan mainan Taiwan, dan pernah juga menjadi penerjemah Bahasa Indonesia untuk Unit Kepolisian dan ada banyak lagi organisasi lain yang pernah ia ikuti dan dirikan. 

Agus lie saat menjadi relawan di perpustakaan mainan Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)
Agus lie saat menjadi relawan di perpustakaan mainan Taiwan. (Sumber Foto : Agus Lie)

Di akhir wawancaranya bersama CNA, Agus memberikan pesan khusus pada teman-teman PMI agar bekerja di Taiwan lebih serius untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

“Luangkan waktu kerja di Taiwan untuk pengembangan diri, dari belajar bahasa Mandarin dengan cara menggunakan aplikasi AI atau ikut kelas- kelas pengembangan diri yang diadakan oleh Departemen Tenaga Kerja setempat,” ujar Agus yang berasal dari Jakarta ini.

Ia pun menyemangati PMI untuk lebih dapat mengembangkan diri agar tidak selamanya menjadi PMI dan bisa mengubah status di kemudian hari menjadi pengusaha atau mahasiswa di Taiwan. 

“Pastinya, dijamin hasil jerih payah kalian akan lebih bernilai dari pekerjaan sekarang,” ujar Agus menutup perbincangan.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.