Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA
Ratusan kali menerima undangan menari Bali dari pihak imigrasi dan pemerintah kota di Taiwan hingga dianugerahi penghargaan pada 2014 oleh presiden saat itu, Ni Ketut Juni Artini dikenal sebagai aktivis pariwisata yang gencar mempromosikan Pulau Dewata di tanah Formosa.
Wanita yang juga akrab disapa Junie Lee ini pun mempunyai lokakarya dan usaha perjalanan di Taiwan yang membawa orang lokal ke Bali. Di balik kesuksesannya, ternyata ia pernah menangis saat datang ke Formosa.
Menepis pandangan kelam imigran di mata orang Taiwan
Dalam panggilan seluler bersama CNA, Junie menggebu-gebu saat menceritakan kebudayaan Bali dan perkembangan promosi wisata Pulau Dewata di Taiwan. Namun, siapa sangka, di balik kegigihannya, ia pernah merasakan pahit getir ketika mulai berpijak datang ke Taiwan pada 29 tahun silam.
Junie bertemu dengan suaminya, seorang warga Taiwan, di Bali, tempat kelahirannya. Saat itu, sang suami perprofesi sebagai pengusaha ekspor-impor, yang sangat piawai berbahasa Indonesia. Mereka sempat berpacaran dua tahun hingga pada 1996 menikah di Pulau Dewata. Pada 7 Maret 1997, Junie terbang ke Taiwan saat hamil delapan bulan.
Ia mengaku kala itu adalah pertama kalinya ke luar negeri. Junie tak bisa membayangkan seperti apa Taiwan. Selama di perjalanan dalam pesawat, dirinya terus menangis hingga membuat pramugari ketakutan. Air matanya menetes karena akan meninggalkan Bali tercintanya dan hidup baru di negeri yang tak pernah ia singgahi.
Setelah 20 hari di Taiwan, ia melahirkan anak pertamanya. Namun, saat itu sang suami tidak mengetahui bagaimana cara mengurus visa tinggal dan asuransi kesehatan, sehingga membuat Junie hanya bisa tinggal di Taiwan enam bulan dan bolak-balik ke Bali selama dua tahun.
"Waktu itu masih belum banyak informasi mengenai imigran baru maupuan informasi cara pendaftaran tentang ARC atau asuransi kesehatan," ungkapnya.
Setelah menetap di Taiwan dan anak pertamanya berusia 3 tahun, ia mulai belajar bahasa Mandarin dengan mengikuti sekolah anak-anak SD. Lambat laun, kemampuannya pun terasah sedikit-sedikit.
"Dulu susah banget berkomunikasi karena saat saya datang, tidak bisa bahasa Mandarin sama sekali. Dan kalau saya keluar rumah, saya merasa terasing karena pandangan orang lokal terhadap orang Indonesia itu meremehkan," ungkapnya.
Dikarenakan suaminya sibuk bekerja, Junie sering keluar ditemani bapak mertuanya untuk mengantar ke sekolah anaknya maupun pergi ke pasar. Warga lokal pun berpikir itu adalah suami Junie. Tak sedikit yang menggunjingkan bahwa Junie menikahi pria tua karena harta, yang membuat hatinya teriris.
Belum lagi, kata Junie, saat ditanya orang-orang dari mana asalnya dan ia menjawab Indonesia, banyak yang mengira ia hanyalah seorang pembantu. Bahkan, ujarnya, warga lokal tidak percaya jika anak Junie adalah anaknya. Mereka bersikukuh mengatakan itu anak majikan Junie, serta meremehkannya.
Anggapan remeh dan cacian dari warga lokal itulah, kata Junie, yang menyiutkan hatinya pada awalnya, dan membuatnya enggan bersosialisasi. Namun, suatu saat, ia membuka niatnya untuk menari Bali, yang diutarakannya kepada sang suami meski awalnya tidak ada dukungan.
Pada 2010, ada seorang aktivis organisasi perkumpulan imigran yang mendatanginya dan menawari untuk mengisi acara menari Bali di suatu tempat. Pada saat itu, kata Junie, pemerintah masih belum fokus dengan urusan imigran seperti sekarang ini.
Ia pun menyanggupinya. Tak pernah dibayangkan, setelah menari di acara tersebut, ia mendapat respons yang luar biasa dari warga Taiwan. Junie pun kebanjiran permintaan foto bersama karena banyak orang Taiwan yang menyukai budaya Bali.
Berawal dari kesempatan tersebut, ia pun akhirnya memutuskan untuk membuka sanggar menari Bali untuk warga lokal dan orang Indonesia lainnya.
Antusias para warga lokal saat itu membludak. Puluhan orang mendaftar sebagai murid Junie untuk berlatih tari Bali. Bahkan, tawaran tampil di acara-acara terkemuka datang setiap minggu, dan berbagai media Taiwan mengadakan wawancara dan meliput profilnya sebagai imigran yang mengajarkan budaya Indonesia.
"Dari situlah saya merasa bahwa saya mempunyai tanggung jawab untuk memperkenalkan budaya yang benar," ujar Junie yang mempunyai satu putra dan satu putri ini.
Debut penghargaan dari presiden
Saat ditanya pengalaman yang paling menarik, Junie mengatakan ia pernah tampil di acara pembukaan museum National Palace Museum Cabang Selatan di Chiayi pada 2015, di mana ia menjadi satu-satunya perwakilan kebudayaan tari Indonesia. Bahkan hingga kini, pihak museum masih memakai video tarian Junie.
Selain itu, Junie juga banyak mengisi acara yang diadakan kantor Direktorat Jendera Imigrasi (NIA) di kota Kaohsiung, Taipei, dan daerah-daerah lainnya.
Junie mengatakan, pada 2015 lalu, ia juga diminta Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei untuk mempromosikan Bali lewat budaya ogoh-ogoh di Dream Mall Kaohsiung.
Dikarenakan banyaknya partisipasi Junie dalam mempromosikan budaya Bali di Taiwan, ia pun didapuk menerima penghargaan dari berbagai institusi, salah satunya penghargaan Keluarga Imigran Baru Teladan Nasional tahun 2014 dari Ma Ying-Jeou (馬英九), presiden saat itu.
Selain itu, NIA memberikannya piagam penghargaan kategori pembawa budaya Indonesia ke Taiwan pada generasi kedua. Ia juga meraih penghargaan dari Wali Kota Kaohsiung, KDEI, dan organisasi Penduduk Asli Kabupaten Taitung, bahkan dikontrak dua tahun untuk pengenalan budaya.
Junie juga menuturkan, mulai 2006 hingga saat ini, ia kerap menjadi promotor Bali yang membawa orang Taiwan ke Pulau Dewata dengan cara memperkenalkan tarian hingga tradisi termasuk sembahyangan, bahkan ada lokakarya khusus untuk pengenalan kebudayaan tersebut.
"Saya biasanya membantu warga lokal yang mau ke Bali dengan merancang jadwal keberangkatan dan kunjungan mereka. Kemudian nanti ada tim saya yang ada di Bali siap untuk melayani," ujar Junie.
Meskipun kini disibukkan dengan seabrek kegiatan, seperti menjadi guru sanggar tari Bali, mengisi acara tari Bali di beberapa tempat dan instansi, Junie juga didapuk sebagai promotor yang mengadakan lokakarya mengenai pengenalan budaya Bali oleh Pemerintah Kota Kaohsiung dan beberapa wilayah lainnya
Lahir dari budaya Bali yang kental, Junie pun tak lupa berpesan kepada rekan-rekan sesama warga Indonesia lainnya di Taiwan sebagai imigran untuk terus menghargai budaya Nusantara dan diri sendiri.
"Sebagai imigran di sini dari pengalaman saya kita berusaha untuk membuat diri lebih baik dengan memperkenalkan hal-hal yang baik, belajar lebih banyak lagi dan jangan lupa hargailah diri kita sendiri agar orang lain bisa menghargai kita. Jangan merasa malu bahwa kita sebagai imigran di sini. Kenalkan budaya Indonesia kepada generasi selanjutnya," ujarnya.
Junie juga menekankan pentingnya percaya diri sebagai ibu orang Indonesia, untuk tidak malu mengungkapkan bahwa kita adalah ibu imigran dari Indonesia yang kaya akan budaya.
"Perlihatkan keunikan diri kita pada orang Taiwan. Hargai budaya kita dulu, sehingga mereka menghargai budaya kita. Terus berjuang dan belajar. Kembangkan diri kita untuk mempromosikan budaya Indonesia, itulah yang membuat saya menjadi percaya diri," tutur Junie mengakhiri wawancara.
Selesai/