Anak di Tainan meninggal saat dalam pengasuhan pengasuh tanpa izin

17/07/2026 18:00(Diperbaharui 17/07/2026 18:00)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Gambar ilustrasi diambil dari Unsplash
Gambar ilustrasi diambil dari Unsplash

Taipei, 17 Juli (CNA) Kematian seorang bocah laki-laki berusia satu tahun di Tainan saat diasuh oleh pengasuh anak tanpa izin sedang dalam penyelidikan.

Pengasuh tersebut, bermarga Lee (李), menelepon polisi untuk meminta bantuan pada hari Rabu (15/7), melaporkan bahwa jantung anak itu telah berhenti berdetak dan anak itu telah berhenti bernapas, namun anak tersebut dinyatakan meninggal sebelum tiba di rumah sakit.

Polisi merujuk kasus tersebut ke Kejaksaan Distrik Tainan untuk penyelidikan lebih lanjut setelah tidak dapat menentukan penyebab kematian. Mereka juga tidak memberikan indikasi bahwa pengasuh terlibat dalam kematian anak tersebut.

Biro Urusan Sosial Tainan mengatakan kepada CNA pada hari Jumat bahwa setelah menerima laporan kematian anak tersebut pada hari Rabu, mereka juga memeriksa latar belakang Lee dan menemukan bahwa ia tidak memiliki izin sebagai penyedia jasa pengasuhan anak.

Disebutkan bahwa Lee tidak memiliki sertifikat pekerja pengasuhan anak maupun terdaftar sebagai penyedia pengasuhan anak berbasis rumah, dan karena ia merawat anak-anak di luar derajat kekerabatan ketiga (bukan orang tua, saudara kandung, atau paman/bibi) ia telah melanggar Undang-Undang Perlindungan Hak dan Kesejahteraan Anak dan Remaja.

Karena hal tersebut, Lee akan didenda NT$60.000 (Rp33,1 juta), namun biro tersebut mengatakan bahwa penentuan penyebab kematian anak laki-laki itu dan apakah ada tanggung jawab pidana akan menjadi wewenang Kejaksaan Distrik Tainan.

Namun, biro tersebut mengatakan bahwa jika Lee terbukti melanggar Pasal 49 Undang-Undang Perlindungan Hak dan Kesejahteraan Anak dan Remaja dengan melakukan tindakan tidak pantas terhadap anak, ia dapat dikenai denda hingga NT$600.000.

Tiga pemuda juga ditangkap setelah mencoba mengganggu Lee pada Kamis malam.

Ketiga pria tersebut, seorang berusia 21 tahun bermarga Tsai (蔡), seorang berusia 22 tahun bermarga Cheng, dan seorang berusia 20 tahun bermarga Wang (王) mendatangi kediaman Lee setelah alamatnya tersebar di internet ketika berita ini menjadi viral, dan melempar telur serta menaburkan kertas sembahyang di lokasi tersebut.

Polisi menangkap Tsai dan Cheng pada malam itu juga, sementara Wang melapor ke kantor polisi sekitar pukul 3 pagi hari Jumat.

Polisi merujuk ketiga pria tersebut ke Kejaksaan Distrik Tainan atas dugaan intimidasi dan pelanggaran terhadap ketertiban umum berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Petugas polisi Tainan mengawal para tersangka di trotoar pada hari Kamis setelah tiga pria ditangkap karena melempar telur dan menaburkan kertas sembahyang di kediaman seorang pengasuh anak yang anak asuhnya telah meninggal. Foto milik Biro Kepolisian Kota Tainan
Petugas polisi Tainan mengawal para tersangka di trotoar pada hari Kamis setelah tiga pria ditangkap karena melempar telur dan menaburkan kertas sembahyang di kediaman seorang pengasuh anak yang anak asuhnya telah meninggal. Foto milik Biro Kepolisian Kota Tainan

(Oleh Chang Jung-Shiang, Lee Chieh-yu, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.