Taipei, 13 Mei (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德), saat berbicara di KTT Demokrasi Kopenhagen hari Selasa (12/5), menyebut dugaan penghalangan Tiongkok terhadap kunjungan kenegaraannya baru-baru ini ke Eswatini, satu-satunya sekutu Taiwan di Afrika, sebagai bukti "konsolidasi" rezim otoriter di seluruh dunia.
Dunia berada pada "titik kritis" dalam persaingan antara demokrasi dan otoritarianisme, di mana rezim otoriter di Eropa, Timur Tengah, dan kawasan Indo-Pasifik terus menguat, kata Lai dalam pesan yang direkam sebelumnya, yang disiarkan di acara tersebut.
Rezim-rezim ini telah menggunakan intimidasi militer, pemaksaan ekonomi, serangan siber, dan operasi "zona abu-abu", yang menimbulkan "tantangan yang semakin serius" terhadap perdamaian, stabilitas, dan demokrasi, kata Lai.
"Bulan lalu, saya berencana memimpin delegasi untuk mengunjungi Eswatini," kata Lai. "Namun, kami harus menunda sementara perjalanan tersebut karena tindakan koersif Tiongkok yang memblokir jalur penerbangan yang normal."
"Tindakan-tindakan ini membuat komunitas demokrasi global melihat dengan jelas bahwa rezim otoriter berusaha memaksakan aturan mereka sendiri kepada dunia," tambah Lai.
Hal ini juga menunjukkan Tiongkok tidak akan ragu untuk merusak keselamatan dan ketertiban penerbangan demi kepentingan politik, serta menjadi pengingat bahwa "tidak ada negara demokrasi yang mampu berdiam diri terhadap meluasnya otoritarianisme."
Dalam pesannya, Lai beberapa kali menekankan Taiwan bersedia dan mampu berkontribusi kepada dunia, baik dengan memanfaatkan kekuatan teknologinya untuk membangun rantai pasokan "demokratis" yang tepercaya dan tangguh, maupun dengan berbagi pengalamannya menghadapi otoritarianisme di pusat rantai pulau pertama.
"Rakyat Taiwan memiliki hak penuh untuk berinteraksi dengan komunitas internasional, dan mereka sangat mampu memberikan kontribusi," katanya. "Tidak ada upaya untuk mengisolasi Taiwan yang akan mengubah tekad kami untuk berpartisipasi dalam komunitas internasional."
Ia berterima kasih kepada mitra-mitra demokrasi yang telah mendukung Taiwan di bawah tekanan, termasuk Amerika Serikat yang membantu Taiwan memperkuat kemampuan pertahanannya, serta Jepang, Filipina, dan Australia yang "bersuara dengan kejelasan moral dalam mendukung stabilitas kawasan."
Copenhagen Democracy Summit, yang didirikan pada 2018, adalah forum internasional tahunan yang digelar Alliance of Democracies Foundation untuk memperkuat kerja sama antarnegara demokratis dan menghadapi tantangan yang dihadapi demokrasi liberal, dengan mempertemukan para pemimpin politik, akademisi, dan anggota masyarakat sipil.
Selesai/