Namanya mulai dikenal di media sosial TikTok, semenjak ia menyanyikan lagu berbahasa Mandarin, Taiwan (Taiyu) dan Indonesia di berbagai acara, termasuk diundang secara khusus ke stasiun TV Taiwan. Yuan Roni, yang bernama asli Syahroni, atau yang akrab disapa Roni, ini membawa nama baik Indonesia di kancah dunia tarik suara Taiwan sebagai sosok penyanyi multilingual. Di tengah melejitnya nama sang biduan, Roni memiliki kisah sedih tentang kesehatannya. Berikut ini penuturan Roni dalam wawancaranya bersama CNA.
Juara satu hingga diundang Dali TV
Roni datang ke Taiwan pada tahun 2018 bekerja di sebuah pabrik di Taoyuan. Sebenarnya, awal mula motivasinya ke Taiwan ialah dapat melanjutkan kuliah program magister. Namun, dikarenakan kemampuan bahasa Mandarinnya saat itu belum mencukupi, Roni pun akhirnya memilih untuk datang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).
Pada tahun 2023, tersingkap tirai kesempatan untuknya mengikuti kejuaraan lomba menyanyi tingkat kota Taoyuan. Tak disangka, pada kesempatan pertama kalinya tampil, Roni justru menggondol juara satu. Ia mulai mengembangkan talentanya dengan mengikuti beberapa kejuaraan menyanyi serupa di kota lain, meskipun tak menang.
Tak patah semangat, Roni mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba menyanyi di ajang lainnya yang juga diadakan oleh pemerintah Kota Taoyuan dan ia berhasil meraih juara satu, dua, empat, dan enam.
“Sudah lebih dari 10 kali penghargaan yang saya dapatkan,” pungkas Roni.
Beruntung dirinya dikelilingi oleh orang-orang Taiwan yang sangat terbuka dan memberikan banyak kesempatan dengan mengundangnya bernyanyi.
“Sejak saat itu saya mendapat undangan menyanyi di acara orang lokal Taiwan maupun acara orang Indonesia di Taipei, Taoyuan, Kaohsiung dan Pingtung. Bahkan saya pernah mendapatkan undangan menyanyi dua kali di Dali TV. Rata-rata saya menyanyi menggunakan Bahasa Taiwan, Mandarin, dan Bahasa Indonesia. Bahkan ada lagu Bahasa Indonesia dangdut yang saya terjemahkan ke bahasa Mandarin,” tutur Roni.
“Mungkin karena saya bernyanyi dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti, dan sekarang saya lebih banyak berteman dengan orang-orang Taiwan yang juga berprofesi sebagai penyanyi. Inilah tirai pembuka yang dapat saya gunakan untuk berkarir sebagai penyanyi di Taiwan,” tambahnya.
Kisah sedih kulit mengelupas
Saat ditanya bagaimana caranya mengatur waktu, penyanyi asal Lampung itu mengatakan bahwa bernyanyi itu harus berlatih. Ia mengungkapkan pentingnya latihan yang rutin di waktu libur, untuk mengasah kemampuannya. Namun, statusnya sebagai PMI harus membuatnya lebih bijak mengatur waktu.
“Status saya sebagai PMI menjadikan saya harus cermat membagi waktu antara bekerja dan berlatih dan mengikuti lomba-lomba. Saya harus mencari tempat-tempat untuk berlatih, tidak mungkin di asrama kan, nanti bisa mengganggu. Ini tantangan bagi saya untuk menemukan tempat yang cocok untuk berlatih, misalkan di taman atau studio khusus,” ungkapnya.
Roni pun mengatakan jika ia menghormati lingkungan kerjanya dengan meminta izin pada supervisornya setiap kali akan manggung.
“Setiap ada kesempatan untuk saya tampil, satu minggu sebelum acara saya harus ijin dengan supervisor saya di pabrik,” pungkasnya.
Di samping penanjakan kisah suksesnya yang baru dirintis, Roni ternyata menyimpan kesedihan karena memiliki kedua tangan dengan kulit mengelupas.
“Saya alergi obat di pabrik, ini dapat dilihat dari kulit saya yang mengelupas. Lihat ini, sangat mempengaruhi penampilan saya,” ujarnya sambil memperlihatkan kedua tangannya dengan kulit mengelupas berwarna putih tulang.
“Saat bekerja di pabrik, awalnya para atasan tidak tahu ya. Setelah saya adukan ke mereka kalau saya alergi obat di pabrik, mereka sempat mengecam saya. Mereka bilang, teman-teman saya tidak ada yang alergi, kenapa hanya saya yang alergi. Akhirnya, mereka memindahkan saya ke tempat yang lain,” ungkapnya sedih.
Namun takdir berpihak padanya, justru kepindahan tersebut memberi keuntungan untuk membukakan mata para atasan bahwa ia bisa dipercaya. Roni dipindahkan tak hanya menjadi operator, tetapi juga sebagai penerjemah karena ia bisa berbahasa Mandarin lisan dan tertulis.
“Supervisor saya pun juga meminta untuk membantu teman-teman lain yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Tak hanya membantu teman-teman Indonesia, saya juga membantu teman-teman Filipina dengan menerjemahkan Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris,” katanya seraya dengan mata berbinar.
Dari situlah, sang supervisor melihat kemampuannya. Jadi di setiap acara yang Roni akan ikuti, sang supervisor selalu mengizinkannya, asalkan itu adalah hari libur baginya.
Menyanyi sebagai sarana belajar bahasa
Terpesona dengan kemampuan bahasa Roni yang bisa berbahasa Mandarin, Taiyu, Inggris dan Indonesia, CNA menanyakan bagaimana caranya mempelajari ragam bahasa tersebut. Roni mengungkapkan bahwa menyanyi baginya bukan hanya untuk meniti karir, melainkan juga mengajarkannya untuk belajar bahasa.
“Saya belajar bahasa Mandarin dan Taiyu dengan cara belajar sendiri. Saya tidak pernah ikut kursus maupun pembelajaran daring. Guru saya adalah buku. Saya membeli buku dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Saya juga mengikuti tes TOCFL level tiga dan lulus,” ujar Roni.
Ia pun juga menambahkan, “Saya bernyanyi Mandarin pun juga bisa membaca teks. Jadi menyanyi ini membantu saya untuk belajar Mandarin dan kemampuan saya juga mendukung saya untuk bekerja,” ungkapnya.
Mengetahui jika masa batas kerja sebagai PMI adalah 12 tahun, maka Roni berharap agar ia dapat tinggal lebih lama di Taiwan dengan menjadi seorang pelajar hingga akhirnya bisa pindah profesi menjadi tenaga profesional yang bisa membukakan karirnya untuk tinggal di Taiwan lebih lama.
“Saya ingin belajar Mandarin dan kuliah di sini serta melanjutkan karir bernyanyi. Kalau status saya sebagai pekerja migran saja, itu hanya terbatas hingga 12 tahun, sedangkan saya punya impian untuk melanjutkan karir bernyanyi saya di Taiwan. Ke depannya saya ingin menjadi pelajar dan berkarir sebagai penyanyi di Taiwan,” tegasnya.
Di akhir wawancara, Roni memberikan pesan bagi para pekerja migran di seluruh Taiwan, jika mempunyai kemampuan, harus berusaha untuk mewujudkannya. Selain mempunyai bakat, cara bijak mengatur waktu bekerja dan berlatih itu adalah kunci keberhasilan.
“Kita harus ingat status kita datang ke Taiwan sebagai pekerja. Asalkan kita dapat izin dari majikan, kita dapat terus mengembangkan diri. Jangan sampai hobi karir kita menghancurkan pekerjaan kita. Namun, kita jangan cuma bekerja saja, kalau punya kemampuan, asahlah dan kembangkan, agar saat kita kembali ke Indonesia tidak dengan tangan kosong, tetapi kita punya dasar, skill, kemampuan dan prestasi!," ujarnya menyemangati.