Taipei, 28 Nov. (CNA) Taiwan tahun depan akan meluncurkan dua program kerja sama pertanian baru di Indonesia, sejalan dengan kebijakan swasembada pangan negara tersebut, kata Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) Bruce Hung (洪振榮) pada Kamis (27/11).
Untuk merayakan 49 tahun kerja sama pertanian Taiwan dan Indonesia, TaiwanICDF hari Kamis menggelar acara peninjauan kembali hasil kolaborasi kedua pihak, kata badan bantuan luar negeri Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan tersebut dalam sebuah rilis pers.
Dalam sambutannya, Hung menyatakan bahwa sejalan dengan kebijakan swasembada pangan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Taiwan pada 2026 akan meluncurkan program kerja sama di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, yang berfokus pada produksi benih jagung serta penguatan sistem produksi dan pemasaran sayuran.
Hung menegaskan bahwa Taiwan berkomitmen untuk terus memperdalam kerja sama dengan Indonesia di bidang pertanian, teknologi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Taiwan juga akan terus menjadi mitra tepercaya bagi Indonesia sebagai anggota masyarakat internasional yang aktif dan bertanggung jawab untuk bergerak bersama menuju pembangunan berkelanjutan, ujarnya.
TaiwanICDF, dalam wawancara surel dengan CNA, mengatakan kerja sama pertanian kedua pihak pada mulanya berfokus pada pembangunan teknik dasar pertanian, di mana Tim Teknis Taiwan (TTM) harus lebih banyak turun langsung, memberikan demonstrasi, serta memanfaatkan sumber daya lokal yang terbatas.
Kini telah ada lebih banyak petani profesional Indonesia yang memiliki kondisi produksi yang lebih modern, dengan tantangan yang berbeda juga, terutama terkait ketidakseimbangan produksi dan pemasaran,serta harga yang dikendalikan tengkulak, dan TTM menyesuaikan bantuannya dengan itu, kata TaiwanICDF.
Pada era 1970–1990, tingkat kemandirian proyek masih rendah, berpusat pada kantor utama TTM, yang kemudian menambah tenaga untuk memulai proyek baru, kata TaiwanICDF. Saat itu, kata mereka, setiap proyek dapat membina sekitar 200 petani.
Memasuki 1990-an melalui rangkaian proyek pengelolaan agribisnis, fokusnya beralih pada pembentukan organisasi petani serta pengembangan sistem pemasaran bersama, sementara komoditas utama diarahkan pada hortikultura terpadu, dan TTM mulai memikul tanggung jawab mencari jalur pemasaran bagi para petani, kata mereka.
Dari sudut perkembangan pertanian, dalam kerja sama kedua pihak yang sudah terjalin sejak 1976, Taiwan dapat memberikan peningkatan dari sisi teknis, sementara Indonesia menawarkan potensi pasar yang besar, kata TaiwanICDF.
Mengikuti pedoman Kebijakan Baru ke Arah Selatan yang diluncurkan pada 2016, Taiwan dan Indonesia telah menyelesaikan serangkaian konsultasi dan penandatanganan dokumen kerja sama pertanian, serta melaksanakan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas, kunjungan timbal balik, dan kegiatan pertukaran lainnya, kata mereka.
"Ke depannya, Taiwan akan terus mengintegrasikan sumber daya sektor publik dan swasta untuk bekerja sama dengan Indonesia, demi mewujudkan manfaat bersama dan menciptakan puncak baru dalam kerja sama pertanian Taiwan–Indonesia," kata TaiwanICDF.
Seiring Indonesia tengah mendorong swasembada pangan, modernisasi pertanian, dan pengembangan rantai nilai industri hilir, peran TTM berkembang dari sekadar penyuluhan teknis menjadi penghubung dalam rantai pasok dan integrator sistem, kata TaiwanICDF.
Fokus ke depannya, kata TaiwanICDF, adalah menghubungkan pengalaman Taiwan, mulai dari sistem perbenihan, produksi dan pemasaran hasil pertanian, hingga inkubasi agribisnis, dengan kebijakan nasional Indonesia.
Tujuan akhir TaiwanICDF, kata mereka, adalah membantu Indonesia meningkatkan ketahanan pangan, memperluas lapangan pekerjaan daerah, menambah pendapatan petani, dan menjadikan Taiwan mitra jangka panjang yang paling terpercaya dalam perjalanan mereka menuju pertanian modern.
Sementara itu, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Arif Sulistiyo kepada CNA mengatakan pihaknya menyambut baik dan mendukung rencana kerja sama pertanian TaiwanICDF.
Sektor pertanian memegang peranan vital dalam ketahanan pangan, pembangunan daerah, serta peningkatan kesejahteraan petani Indonesia, dan Taiwan memiliki inovasi teknologi pertanian, manajemen produksi, serta efisiensi rantai pasok mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, sampai pemasaran, tambahnya.
"Semoga kerja sama dalam bidang pertanian ini berjalan lancar, memberikan hasil konkret, dan menjadi kontribusi positif bagi ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia," kata Arif.
Pada acara Kamis, Yunus Musa dari Universitas Hasanuddin dalam pidato utamanya meninjau kembali hasil program pengembangan benih padi TTM di Sulawesi Selatan serta memperkenalkan kerja sama baru dalam produksi benih jagung.
Turut ditampilkan aplikasi terbaru dari TTM dalam bidang pertanian cerdas, termasuk sistem pemantauan data lahan dan penggunaan teknologi pesawat nirawak dalam manajemen pertanian.
Pada sesi siang, fokus kegiatan diarahkan pada laporan hasil program pembinaan produksi dan pemasaran bawang putih serta bawang merah di Sumatra Utara, dan penguatan sistem pemasaran sayur dan buah di Karawang.
Para guru sekolah pertanian dan perwakilan petani muda berbagi pengalaman tentang bagaimana TTM membantu sekolah pertanian mendorong pembangunan lokal melalui produk "kopi okra", serta kebutuhan nyata petani muda dalam pengembangan industri.
Berbagai pengalaman ini tidak hanya menunjukkan efektivitas nyata Taiwan dalam membantu transformasi pertanian Indonesia, tetapi juga memberikan arah bagi TTM untuk merancang program yang lebih sesuai dengan kebutuhan petani muda lokal di masa depan, kata TawanICDF.
Wakil Sekretaris Jenderal TaiwanICDF, Peifen Hsieh (謝佩芬), menyatakan kegiatan ini tidak hanya meninjau upaya dan kontribusi TTM selama hampir setengah abad, tetapi juga menegaskan komitmen lembaga tersebut dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan transformasi pertanian global.
TaiwanICDF akan terus membantu negara-negara sahabat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendorong model industri berkelanjutan, kata Hsieh.
Lembaga tersebut juga akan tetap berpegang pada prinsip kolaborasi profesional dan penciptaan bersama berbasis lokal, sesuai semangat kebijakan yang dikemukakan Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍), ujarnya.
Acara Kamis turut dihadiri sejumlah perwakilan pemangku kebijakan Indonesia, termasuk dari Dewan Perwakilan Rakyat, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, serta mitra kerja jangka panjang, menurut rilis pers.
Selesai/IF