"The Rope Curse 4: Kuntilanak" akan tayang di bioskop Indonesia 23 Oktober

13/10/2026 20:24(Diperbaharui 13/10/2026 21:38)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Gambar : WOWing Entertainment Group)
(Sumber Gambar : WOWing Entertainment Group)

Taipei, 13 Okt. (CNA) Film horor Taiwan yang berlatarkan Indonesia "The Rope Curse 4: Kuntilanak" (粽邪4:坤蒂拉娜) akan tayang di CGV mulai 23 Oktober, kata bioskop tersebut pada Sabtu (10/10), sementara box office-nya di Taiwan melampaui NT$80 juta (Rp44,9 miliar).

"Sebuah ritual terlarang yang disiarkan langsung dari Indonesia membangkitkan Kuntilanak. Korban pertama jatuh di Taiwan, lalu kutukan itu menyebar," tulis CGV Indonesia dalam unggahan media sosialnya. "Dibintangi Ferry Salim, Andovi Da Lopez, dan Yessica Tamara."

CBI Pictures selaku distributor Indonesia, pada Senin, menambahkan, "Satu klik, kutukan menyebar. Akankah roh yang penuh dendam ini dapat dihentikan? Film horror dengan budaya Tionghoa yang kental, berlatar di Pontianak, Indonesia."

Baca juga: "The Rope Curse 4" tayang, teror kuntilanak Indonesia dilawan ritual kuil Taiwan

"The Rope Curse 4: Kuntilanak" diawali pembunuhan tragis seorang pekerja migran Indonesia di kedai makan di Taiwan, setelah ia menonton siaran langsung yang berisi ritual dukun yang membangkitkan sosok kuntilanak. Pemilik toko kemudian tewas gantung diri.

Seorang wanita Taiwan yang tidak sengaja memasuki lokasi kejadian juga mengalami berbagai keanehan sampai terkena kutukan perpindahan jiwa. Untuk mematahkannya, para kerabat korban dan ahli spiritual dari kedua negara pun bekerja sama.

Seiring dengan penayangan di Indonesia, akan digelar pemutaran gratis khusus masyarakat Indonesia di Taiwan di Century Asia Cinema Ximending, Taipei pada 18 Oktober, dengan pendaftaran di forms.gle/D3i1DbXbyHwfMa7cA

Di Taiwan, film ini telah mencatatkan box office sebesar NT$80.599.658 dan 183.204 penonton per Minggu, pekan ketujuh pemutarannya, menurut data Taiwan Film and Audiovisual Institute.

Baca juga: Pemeran "The Rope Curse 4" ceritakan kisah menarik syuting di Indonesia

Film ini menduduki peringkat pertama box office harian di seluruh Taiwan di hari pertamanya dirilis pada 27 Agustus, kemudian diikuti promosi yang semarak di mana para pemeran hingga pengisi lagu pendamping menemui penonton di bioskop-bioskop di berbagai wilayah.

Ferry, yang memerankan tokoh ahli taoisme Master Lin, sempat datang ke Taiwan untuk menghadiri gala premiere dan kunjungan bioskop. Andovi, yang memainkan kreator konten bernama Mardi, gagal tiba karena penerbangannya dibatalkan seiring erupsi Gunung Anak Krakatau.

Sejumlah penonton membawa dewa-dewi di rumah mereka dan berfoto bersama sutradara Liao Shih-han (ketiga dari kiri) yang membawa Zhong Kui dan pemeran Hangee Liu (kiri). (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Sejumlah penonton membawa dewa-dewi di rumah mereka dan berfoto bersama sutradara Liao Shih-han (ketiga dari kiri) yang membawa Zhong Kui dan pemeran Hangee Liu (kiri). (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Bawa kebudayaan Taiwan

Setelah Bulan Hantu usai, patung Zhong Kui dihadirkan di bioskop. Sejumlah penonton pun ikut membawa patung-patung dewa-dewi di rumah mereka, menurut rilis pers WOWing Entertainment Group selaku pihak produksi.

Zhong Kui, dewa penakluk roh jahat dan pengusir setan dalam mitologi Tionghoa, memang berperan penting dalam keempat seri "The Rope Curse", di mana ritualnya -- yang di Taiwan dikenal sebagai "Tarian Zhong Kui" -- dipraktikkan untuk melawan sosok antagonis gaib.

Di suatu kesempatan, ahli ritual Zhong Kui, Chen Kuan-hao (陳貫豪), hadir di bioskop untuk memimpin upacara pemberkatan, di mana ia membersihkan energi buruk, mendatangkan keberuntungan, dan memohon keselamatan bagi para penonton.

Wilson Hsu (許安植), pemeran gadis Taiwan dengan kemampuan supernatural bernama Jiamin, mengatakan "The Rope Curse" bukan sekadar film horor, melainkan juga turut membawa tradisi kepercayaan rakyat Taiwan.

Senada, aktor senior Henry Yang (楊慶煌) dari film kedua dan Morgan Lee (李興文) dari film ketiga mengatakan "The Rope Curse" mewakili kebudayaan ritual tradisional dan kepercayaan terhadap Zhong Kui sebagai pengusir roh jahat khas Taiwan, dan tidak mudah bagi budaya ini untuk menjangkau pasar luar negeri.

Ahli ritual Zhong Kui, Chen Kuan-hao mengadakan upacara pemberkatan di bioskop. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Ahli ritual Zhong Kui, Chen Kuan-hao mengadakan upacara pemberkatan di bioskop. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Mendobrak tabu

Namun, film juga mengangkat ide nontradisional di mana ritual Zhong Kui dijalankan Jiamin, sementara biasanya dilakukan laki-laki.

Sutradara Liao Shih-han (廖士涵) mengungkapkan bahwa ketika pertama kali mengajukan gagasan itu kepada ahli spiritual, tim produksi sempat merasakan tekanan.

"Zhong Kui adalah dewa pengusir roh jahat yang tugas utamanya menangkap roh-roh jahat tak kasatmata. Jika perempuan memerankan Zhong Kui tetapi tidak mampu menunjukkan wibawa yang cukup kuat, roh-roh tak kasatmata itu akan menyadari bahwa orang tersebut hanya berpura-pura," ujarnya.

Namun, Liao berpendapat bahwa hal-hal yang disebut tabu sering kali merupakan batasan yang dibuat manusia sendiri, sementara para dewa pada dasarnya penuh welas asih.

Hsu pun mengaku sempat gugup, tetapi "zaman terus berubah," dan dirinya terharu karena mendapat kesempatan untuk melakukan upaya yang menghormati tradisi sekaligus berani mendobrak batasan ini. Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut, ia pun menjalani latihan fisik yang intens sejak sebelum proses syuting dimulai.

Kuntilanak

Produser Jeff Tsou (鄒介中) sebelumnya mengatakan pihak produksi merasa latar belakang tokoh Jiamin dan bibinya, Yulan -- yang telah ada di seri-seri "The Rope Curse" sebelumnya -- cocok dihubungkan dengan kisah kuntilanak, sehingga mereka mengambil tema ini untuk film keempatnya.

Liao sempat mengungkapkan bahwa suara tawa jahat di film direkamnya dari seorang praktisi spiritual di Indonesia yang dirasuki kuntilanak.

Di suatu kesempatan, cosplay kuntilanak hadir di bioskop bersama patung Zhong Kui, membuat para penonton berebut berfoto bersama hingga mengantre untuk meminta tanda tangannya.

Cosplay kuntilanak (tengah) berfoto bersama di ASEAN Square, Taichung. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Cosplay kuntilanak (tengah) berfoto bersama di ASEAN Square, Taichung. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

"Kuntilanak" itu juga sempat "menghantui" wilayah hiburan malam Distrik Xinyi, Taipei dan menyapa masyarakat Indonesia di ASEAN Square, Taichung -- kawasan yang menjadi tempat berkumpulnya pekerja migran dan imigran baru.

Tak (hanya) horor

Meski film ini mengangkat kisah mistis, banyak penonton yang datang dengan niat menguji nyali malah berakhir menangis deras, terharu oleh hubungan keluarga emosional antara Jiamin dan Yulan, menurut pihak produksi.

Menurut pihak produksi, berbeda dari film-film horor murni yang umumnya mengandalkan adegan mengejutkan dan kekerasan berdarah, seri "The Rope Curse" sejak awal selalu berfokus pada kepercayaan dan tradisi rakyat Taiwan, budaya kuil, serta emosi kemanusiaan yang mendalam.

Kuntilanak yang dalam film digambarkan sebagai sosok yang sangat menakutkan juga merupakan seorang perempuan yang semasa hidupnya mengalami kekerasan kejam dan tidak dapat beristirahat dengan tenang karena dipenuhi rasa ketidakadilan dan dendam, menurut pihak produksi.

Vera Chen (陳雪甄), pemeran Yulan, juga berbagi bahwa ketakutan dalam film ini sesungguhnya berakar pada cinta. "Kali ini, kami menghadapi kuntilanak sebagai sosok antagonis utama. Namun, keberadaan dan makna simbolisnya sebenarnya mencerminkan bentuk kasih sayang keluarga yang ekstrem," ucapnya.

Pemeran, sutradara, produser, dan ahli ritual Zhong Kui berfoto bersama. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Pemeran, sutradara, produser, dan ahli ritual Zhong Kui berfoto bersama. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Penyanyi Fran (法蘭) juga mengungkapkan perasaan sendunya saat menciptakan lagu tema, "I Would" (讓我), ketika ia sering tidur di rumah sakit untuk menemani ayahnya tahun lalu.

"Seseorang yang dulunya seperti harimau, ketika sakit berubah menjadi seperti kucing kecil. Saya merasa begitu sedih melihatnya dan sangat ingin menggantikan rasa sakit yang dialaminya. Sama seperti Jiamin dalam film, karena memiliki seseorang yang ingin dijaga dan dilindungi, saya pun ingin menjadi lebih tangguh dan lebih kuat," ujarnya.

Seorang penonton di lokasi sembari menangis mengungkapkan bahwa ibunya telah meninggal dunia dan film ini memberinya penghiburan, menurut pihak produksi.

Penonton lainnya berbagi bahwa setelah menyaksikan film, ia memperoleh banyak kekuatan dan merasa semua orang adalah sosok Zhong Kui pelindung baginya.

Seorang nenek berusia hampir 90 tahun juga berbagi bahwa ia telah mulai mengikuti film ini sejak seri keduanya, dan berharap akan terus bersambung.

Film pertama, kedua, dan ketiga "The Rope Curse" mencatatkan box office sebesar masing-masing NT$49.273.565, NT$72.143.225, dan NT$80.867.742, dan kini telah tersedia di platform Netflix.

(Oleh Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.