Film horor Taiwan tentang kuntilanak Indonesia dirilis, angkat perpaduan budaya

27/08/2026 14:55(Diperbaharui 27/08/2026 14:55)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Jumpa pers gala premier "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 26 Agustus 2026)
Jumpa pers gala premier "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 26 Agustus 2026)

Taipei, 27 Agu. (CNA) Film "The Rope Curse 4: Kuntilanak" (粽邪4:坤蒂拉娜), yang mengangkat kisah menghadapi teror kuntilanak Indonesia dengan ritual khas kuil Taiwan, dirilis di bioskop di seluruh Taiwan pada Kamis (27/8), dengan aktor tanah air Ferry Salim hadir di gala premier untuk mengajak masyarakat menonton.

Dalam wawancara media di Taipei pada Rabu, Ferry, menjawab pertanyaan CNA tentang pengalamannya berinteraksi dengan agama dan kebudayaan khas Taiwan melalui perannya sebagai ahli taoisme Indonesia bernama Master Lin, mengatakan dirinya tidak terlalu kaget.

Baca juga: Ferry Salim belajar Mandarin hingga ritual keagamaan untuk film horor Taiwan

"Indonesia itu kan kaya dengan budaya. Taoisme itu di Indonesia juga ada. Jadi mungkin ada sebagian kecil yang saya sudah tahu sebetulnya seperti apa, sembahyangnya, ritualnya," kata Ferry.

Hal baru baginya, kata Ferry, adalah menyaksikan patung Zhong Kui -- dewa pembasmi setan dan roh jahat -- dibawa dari Taiwan ke Indonesia bersama ahli spiritual, dan bagaimana dirinya mempelajari ritual-ritual taoisme.

Di depan media Taiwan, Ferry juga meceritakan bahwa masyarakat Indonesia dekat dengan peristiwa-peristiwa mistis, termasuk dengan banyaknya cerita horor yang beredar.

Ditanya tentang hidangan Taiwan apa yang ia nantikan seiring kunjungannya kali ini, Ferry mengatakan dirinya menyukai teh boba, serta biskuit nugat yang diberikan aktris Wilson Hsu (許安植).

Ferry juga terus dipuji "tampan" oleh para pemeran lainnya, hingga disebut mirip penyanyi kelahiran Taiwan Kris Phillips (費翔). Namun, ia terus merendah.

Baca juga: Andovi jajal banyak pengalaman baru dengan berperan di film horor Taiwan

Selain Ferry, film ini juga diperankan sejumlah bintang Indonesia lainnya, termasuk pemengaruh Andovi Da Lopez yang memainkan tokoh kreator konten horor bernama Mardi hingga eks anggota grup idola JKT48 Yessica Tamara yang memerankan gadis kerasukan.

Baca juga: Eks anggota JKT48 Yessica Tamara debut "kesurupan" lewat film horor Taiwan

Hsu, pemeran gadis Taiwan dengan kemampuan supernatural bernama Jiamin, mengatakan bahwa selama di Indonesia, para kru tetap mempertahankan kebiasaan di Taiwan dengan terus berdoa di tempat Zhong Kui setiap sebelum mulai bekerja dan membawakannya permen dan biskuit "karena beliau suka makanan manis."

Hal yang menarik, menurutnya, adalah wajah patung Zhong Kui terlihat "sangat cerah" saat syuting di Taiwan, tetapi "mulai agak kusam" setelah beberapa pekan di Indonesia. "Mungkin beliau agak lelah, karena bagaimana pun harus menyeberangi lautan," tambanya menirukan perkataan ahli spiritual yang menyertai.

"Apalagi setiap hari kami memeluk Zhong Kui," sahut Vera Chen (陳雪甄), pemeran karakter Yulan, bibi Jiamin yang terkena kutukan. "Setiap hari begitu sampai di lokasi syuting, hal pertama yang kami tanyakan adalah, 'Di mana Zhong Kui?' Lalu kami segera membakar dupa dan memohon perlindungan."

"Setiap kali kami tidak memiliki adegan, kami semua berkumpul di dekat Zhong Kui. Kami bahkan tidak berani pergi ke tempat lain," tambahnya, yang sebelumnya juga menceritakan bahwa ia dan rekan-rekannya mengalami berbagai peristiwa mistis selama di Indonesia.

Chen mengatakan dirinya melakukan banyak persiapan baik fisik maupun mental untuk film ini, karena mesti menghadapi kuntilanak yang disebutnya sebagai salah satu sosok hantu terbesar di Asia.

Gala premier "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 26 Agustus 2026)
Gala premier "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 26 Agustus 2026)

Hangee Liu (劉國劭) -- pemeran A-Guai, rekan seperguruan Jiamin -- menceritakan salah satu pengalaman mistisnya di hotel, yang membuatnya langsung berlari keluar kamar tengah malam dan menelepon ahli spiritual, hingga ritual diberlangsungkan di hotel pada dini hari.

Saat Liu mengantar ahli spiritual itu turun, ucapnya, pintu lift sempat tertutup dan terbuka berulang kali. "Kemudian dia (ahli spiritual) berkata, 'Hahahaha, lucu sekali! Aku mau merekamnya.' Begitu dia mengeluarkan ponsel dan membuka kamera, pintu lift langsung tertutup."

Aktor senior Chen Po-cheng (陳博正), pemeran ahli spiritual senior Taiwan sekaligus guru Jiamin bernama Master A-Xi, mengatakan Zhong Kui "sudah banyak membantu" selama syuting di Indonesia. "Kita harus berterima kasih kepadanya."

Menjawab CNA tentang perasaannya bersanding dengan pemeran Indonesia, ia mengatakan dirinya belum sempat berinteraksi, seiring adegannya sendiri diambil di Taiwan. Namun, sambil berkelakar, ia mengatakan Ferry "lebih tampan dari Kris Phillips. Sampaikan kalimat ini kepadanya."

Di sisi lain, aktor muda Taiwan, Travis Fox (胡語恆) mengatakan dirinya bekerja keras belajar bahasa Indonesia untuk perannya sebagai Zhen Hong, anak tokoh pekerja migran Indonesia bernama Mira yang menjadi korban kuntilanak. Namun, ia bersyukur karena para kru setempat membantunya berbicara semakin lancar.

Sutradara Liao Shih-han (廖士涵), menjawab pertanyaan CNA tentang bagaimana film ini menggabungkan taoisme berlatar Indonesia dan Taiwan, mengatakan ia merasa "nilai-nilai dan berbagai hal lainnya sebenarnya kurang lebih sama."

"Namun, yang cukup mengejutkan saya adalah budaya taoisme di Indonesia agak mirip dengan budaya kuil di Taiwan yang saya lihat ketika masih kecil. Karena praktiknya lebih langsung dan memiliki semacam sifat yang lebih ekstrem," ujar Liao.

"Maksud saya, misalnya ketika ingin menanyakan sesuatu, mereka akan membiarkan dewa merasuki tubuh medium secara langsung," kemudian memukul dan menusuk tubuh sendiri, ucapnya, seraya menceritakan pengalamannya menyaksikan secara langsung bersama para pemeran, yang membuat mereka terkejut.

Di sisi lain, produser Jeff Tsou (鄒介中) mengatakan film ini memakan banyak anggaran, apalagi dengan proses syuting di Indonesia selama satu bulan lebih.

Sementara film ini dirilis di Taiwan bertepatan dengan Bulan Hantu dalam kepercayaan Tionghoa, Tsou mengatakan kepada CNA bahwa pihaknya tengah membicarakan rencana pemutaran di Indonesia dengan bioskop CGV, yang disebutnya sedang melakukan peninjauan.

Baca juga: Pemeran film Taiwan tentang kuntilanak ceritakan kisah menarik syuting di Indonesia

Setelah wawancara, juga digelar jumpa pers gala premier di luar LUX Cinema Ximending, yang dimeriahkan sejumlah ritual taoisme dan dihadiri patung dewa-dewi yang dipuja di 12 kuil dari berbagai wilayah Taiwan, yang terlebih dahulu mengikuti arak-arakan keliling kota sebagai bagian dari doa pemberkatan.

Para pemeran, sutradara, dan produser pun mengajak masyarakat untuk menonton, sementara Ferry juga sempat berbicara dalam bahasa Mandarin. "你好,我講國語一點一點。我是Ferry Salim,我很高興來到這裡 (Halo, saya bisa berbahasa Mandarin sedikit. Saya Ferry Salim, saya sangat senang bisa datang ke sini)."

Pemutaran perdana "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di LUX Cinema Ximending hari Rabu. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Pemutaran perdana "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di LUX Cinema Ximending hari Rabu. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Setelah pemutaran pada Rabu malam, seorang perempuan Taiwan bermarga Jung (蓉) yang menonton mengatakan kepada CNA bahwa ia merasa filmnya "sangat bagus," dan ia berharap semesta "The Rope Curse" bisa terus syuting di berbagai negara.

Menjawab pertanyaan CNA tentang bagaimana film ini menampilkan perpaduan budaya Indonesia dan Taiwan, Jung mengatakan "lumayan bagus, karena saya jarang melihat konten terkait hal-hal supernatural Indonesia. Jadi [film ini] membuat kami lebih memahami kuntilanak itu sosok seperti apa."

Perempuan lainnya yang bermarga Yang (楊) mengatakan film ini "sangat bagus, saya sangat merekomendasikannya." Ia juga mengatakan akting para pemeran Taiwan dan Indonesia "sangat baik."

Seorang laki-laki bermarga Lin (林) mengatakan film ini "super bagus," dan perpaduan kedua budaya yang diangkatnya juga "bagus."

Baca juga: Sekitar 80 WNI nobar film 'The Rope Curse 4: Kuntilanak' di Zhongli

Film "The Rope Curse 4: Kuntilanak" diawali kematian tragis Mira -- yang diperankan imigran baru asal Indonesia Ani Nurtianna -- di sebuah kedai makan di Taiwan, setelah menonton siaran langsung Mardi yang berisi ritual dukun yang membangkitkan sosok kuntilanak. Pemilik toko juga ditemukan tewas gantung diri.

Yulan, yang tidak sengaja memasuki lokasi kejadian, kemudian mengalami berbagai keanehan. Dengan bantuan Master A-Xi, ia diketahui terkena kutukan yang membuat sebagian jiwanya terbawa ke Indonesia.

Untuk mematahkannya, Yulan, Jiamin, A-Guai, dan Zhen Hong pergi ke Indonesia dengan membawa patung Zhong Kui. Di sana, mereka didampingi Mardi, yang juga paman Zhen Hong, serta Master Lin, kenalan Master A-Xi. Film ini pun menampilkan ritual khas kuil Taiwan yang menghadapi sosok kuntilanak Nusantara.

Menurut pihak produksi, sejumlah bioskop menampilkan sulih bahasa Indonesia. Di Taiwan utara, misalnya, termasuk Vieshow Cinemas Global Mall Zhonghe, Showtime Cinemas Shulin, Vieshow Cinemas Taoyuan Tonlin, in89 Cinemax Taoyuan Station, SBC Stars Cinema Zhongli, dan Vieshow Cinemas Big City Hsinchu.

Di Taiwan tengah ada Vieshow Cinemas Taichung iFG dan Showtime Cinemas Taichung Station, sementara di selatan terdapat Vieshow Cinemas Tainan FOCUS, Vieshow Cinemas Kaohsiung FE21, dan Showtime Cinemas Gangshan, menurut pihak produksi.

(Oleh Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.