Taipei, 13 Okt. (CNA) Mushola Thoriqul Hidayah di tempat istirahat anak buah kapal (ABK) migran di Pelabuhan Perikanan Fuji, New Taipei, resmi dibuka baru-baru ini, kata Direktorat Jenderal Perikanan (FA), yang berjanji akan terus menyempurnakan fasilitas di kawasan pelabuhan.
FA dalam rilis persnya mengatakan bahwa melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan asosiasi nelayan, fasilitas kehidupan dan istirahat di darat di kawasan pelabuhan terus disempurnakan secara bertahap.
Dengan demikian, ABK migran yang datang dari jauh untuk bekerja dan berkontribusi bagi industri perikanan Taiwan dapat memiliki ruang yang layak untuk menjalankan kegiatan keagamaan dan beristirahat di luar jam kerja, kata FA.
Dalam peresmian pada Jumat (9/10), para tamu undangan, termasuk Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Arif Sulistiyo, bersama-sama membuka selubung papan nama musala. Setelah itu, Asosiasi Nelayan Distrik Jinshan menyerahkan kunci sebagai simbol fasilitas tersebut mulai dapat digunakan.
Setelah upacara, panitia menyelenggarakan pemberkatan, membagikan cendera mata sosialisasi, serta menyediakan beragam hidangan untuk dinikmati bersama.
Para peserta tampak aktif berinteraksi, mencerminkan perhatian dan kepedulian berbagai pihak terhadap kesejahteraan hidup ABK migran, menurut FA.
FA menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 108 ABK migran di Pelabuhan Perikanan Fuji, termasuk 104 yang berkewarganegaraan Indonesia.
Oleh karena itu, ketika Asosiasi Nelayan Distrik Jinshan mendirikan pusat istirahat nelayan baru di sana pada 2025, dengan ruang ibadah dan kamar mandi untuk ABK migran yang telah direncanakan di lantai satunya.
FA memberikan subsidi sebesar NT$790.000 (Rp439,6 juta) untuk pembangunan fasilitas serta pemeliharaan dan pengelolaannya.
Setelah musala ini resmi dibuka, total subsidi yang telah diberikan FA ke Asosiasi Nelayan Distrik Jinshan di sepanjang 2026 mencapai NT$260.000, untuk pemeliharaan dan pengelolaan satu ruang ibadah serta dua fasilitas kamar mandi bagi ABK migran di pelabuhan perikanan Huanggang dan Fuji.
FA menambahkan bahwa pemenuhan kesejahteraan hidup awak kapal asing merupakan salah satu tugas penting dalam pelaksanaan Rencana Aksi Perikanan dan Hak Asasi Manusia.
Saat ini, pelabuhan-pelabuhan perikanan di berbagai wilayah Taiwan telah menyediakan 45 fasilitas kamar mandi dan 18 ruang istirahat, termasuk ruang ibadah, bagi ABK migran, kata FA.
Ke depannya, kata FA, pihaknya akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan asosiasi nelayan untuk menyempurnakan fasilitas di darat di kawasan pelabuhan perikanan secara bertahap.
Upaya ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan industri perikanan yang ramah dengan tetap memerhatikan pembangunan perikanan berkelanjutan dan perlindungan hak asasi manusia, sehingga seluruh ABK migran yang bekerja di Taiwan dapat merasakan kehangatan dan penghormatan, kata FA.
ABK migran di Taiwan secara umum diketahui tinggal di kapal, meski sedang bersandar di pelabuhan.
Selesai/IF