NDHU Taiwan kirim mahasiswa untuk program pengabdian di Indramayu

09/08/2026 11:00(Diperbaharui 09/08/2026 11:00)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber foto: NDHU)
(Sumber foto: NDHU)

Indramayu, 9 Agu. (CNA) Empat belas mahasiswa National Dong Hwa University (NDHU), Hualien, Taiwan menjalani kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Juntiweden, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dari 2 sampai 25 Agustus, bagian dari upaya lebih mengenal Asia Tenggara lewat platform MOE Overseas & New Southbound Internship Program, berdasarkan siaran pers yang diterima CNA, Jumat (7/8).

Menurut NDHU, kegiatan ini juga bekerja sama dengan Migrant CARE Indramayu yang bertindak selaku tuan rumah untuk memfasilitasi seluruh aktivitas para mahasiswa Taiwan. Pemilihan Indramayu sebagai tempat kegiatan mengingat kabupaten ini merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia.

Kepala Desa Juntiweden, Carsudi, menyambut baik kedatangan rombongan Taiwan. Dia mengaku senang dan merasa terhormat karena Desa Juntiweden dipilih sebagai tempat mahasiswa asing untuk melaksanakan pengabdian masyarakat.

“Saya berharap warga dan komunitas di Desa Juntiweden bisa belajar banyak dari teman-teman Taiwan ini. Semoga para mahasiswa betah dan kerasan tinggal di sini,” kata Carsudi di Balai Desa Juntiweden.

Professor Li-fang Liang (梁莉芳) dari NDHU selaku pembimbing kegiatan berharap para mahasiswa bisa belajar banyak setelah tinggal bersama warga selama hampir sebulan.

“Terlepas dari nanti kami akan melakukan banyak kegiatan di sini, tentu ini menjadi kesempatan yang berharga bagi kami, rombongan dari Taiwan, untuk belajar dari masyarakat Indonesia,” ujar Liang, yang sudah puluhan tahun menggeluti riset di bidang migrasi, termasuk meneliti para pekerja migran Indonesia di Taiwan.

Menurut siaran pers dari NDHU, program ini di antaranya fokus pada pemberdayaan masyarakat yang menyasar komunitas pekerja migran, termasuk mantan pekerja migran yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI), calon pekerja migran, dan anak-anak para pekerja migran yang ditinggalkan. Adapun programnya termasuk lokakarya migrasi aman yang membahas hak-hak pekerja migran di Taiwan, perbedaan budaya Indonesia dan Taiwan, hingga sosialisasi kesehatan mental.

Peserta lokakarya diharapkan mampu menjadi pihak yang mengedukasi calon pekerja migran Indonesia, khususnya mereka yang ingin bekerja di Taiwan, supaya mereka tidak terjebak oleh ‘janji manis’ para calo, tidak terjerumus ke dalam praktik kerja paksa, hingga mengetahui apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi tertentu, kata pers rilis tersebut.

Vanny El Rahman, peneliti doktoral di Asia-Pacific Regional Studies, National Dong Hwa University yang juga ikut dalam rombongan menyebut program pemberdayaan ini disusun berdasarkan fakta bahwa masih banyak pekerja migran yang belum bisa membedakan antara menagih haknya atau melawan. 

“Alhasil, mereka kerap pasrah saat menerima gaji di bawah standar yang sudah ditetapkan, enggan menolak saat diminta oleh majikannya untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan utamanya, hingga memilih jalur ilegal karena tidak tahu melakukan apa saat menghadapi masalah,” kata dia.

Selain itu, mereka juga akan menerima pelatihan seputar bagaimana cara warga Taiwan mengolah sampah, Vanny menambahkan.

Di luar lokakarya, para mahasiswa akan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Selain itu, akan ada juga program pendidikan dengan menggandeng SDN Juntiweden II. Para siswa akan diajarkan membuat kaligrafi Mandarin, membaca buku berbahasa Mandarin, hingga bermain papan permainan bersama. Interaksi seperti ini diharapkan bisa menjadi stimulus agar mereka ingin pergi ke luar negeri untuk belajar, bukan hanya untuk bekerja di sektor informal, kata Vanny.

Ia menambahkan, program ini disusun dengan mempertimbangkan fakta banyak siswa-siswi di Indramayu yang tidak lagi tertarik menempuh pendidikan tinggi. “Mereka lebih tertarik untuk langsung bekerja di luar negeri walaupun bekerja di sektor informal, asalkan gajinya lebih tinggi daripada bekerja di Indonesia dengan kemampuan terbatas atau tanpa harus memiliki gelar sarjana,” kata dia.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/ML

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.