Taipei, 8 Sep. (CNA) Taiwan Coffee Festival 2026 pada Selasa (8/9) menggelar kegiatan promosi dan pertukaran kopi serta budaya di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei menjelang pelaksanaan festival utama di Kabupaten Yunlin pada akhir Oktober hingga awal November.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNA, Bupati Yunlin Chang Li-shan (張麗善) mengatakan Indonesia dipilih sebagai salah satu mitra pertukaran karena merupakan salah satu negara penghasil kopi penting di dunia, sementara komunitas Indonesia di Taiwan juga cukup besar, termasuk warga Indonesia yang tinggal, bekerja, menempuh pendidikan, maupun menikah dan menetap di Yunlin.
"Hubungan dan interaksi kami dengan warga Indonesia sangat baik," kata Chang.
Menurut Chang, Pemerintah Kabupaten Yunlin tidak hanya ingin menjadikan kopi sebagai sarana pertukaran, tetapi juga memperluas pertukaran di bidang kuliner dan budaya. Tahun ini, Yunlin secara khusus memperkenalkan kopi Indonesia dan kopi Taiwan kepada pengunjung internasional melalui Taiwan Coffee Festival.
Selain Indonesia, Yunlin juga mengundang pelaku kopi dari Jepang dan Vietnam untuk berpartisipasi dalam festival tersebut.
"Melalui budaya kopi, kami dapat mempererat hubungan antara kedua negara," katanya.
Taiwan Coffee Festival ke-24 tahun ini mengusung tema “Coffee For World”. Festival tersebut akan digelar di Gukeng Green Tunnel, Kabupaten Yunlin, pada 31 Oktober–1 November dan 7–8 November 2026, mulai pukul 10.00 hingga 19.00 waktu setempat, tegas Chang, sekaligus mengajak para warga untuk turut serta menghadiri festival tersebut.
Kepala KDEI Taipei Arif Sulistiyo mengatakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Yunlin tahun ini juga diarahkan untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke pasar Taiwan.
Saat ini, masyarakat Taiwan telah cukup mengenal kopi Gayo dan Mandheling. KDEI berharap lebih banyak kopi dari daerah lain di Indonesia dapat memasuki pasar Taiwan, ujarnya.
Menurut Arif, ekspor kopi Indonesia ke Taiwan saat ini meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah mengikuti pameran kopi di Taiwan, KDEI menargetkan ekspor kopi Indonesia ke pasar Taiwan dapat meningkat hingga dua kali lipat.
Arif mengatakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Yunlin tahun ini merupakan yang pertama bagi KDEI Taipei, meskipun KDEI setiap tahun berpartisipasi dalam berbagai pameran kopi di Taiwan.
Kepala Bidang Perdagangan KDEI Taipei Wara Agustina Rukmini mengatakan partisipasi Indonesia dalam festival tersebut diharapkan menjadi sarana untuk mempromosikan produk Indonesia di Taiwan sekaligus memperkuat pertukaran dan kolaborasi antara masyarakat serta pelaku usaha kedua pihak.
"Harapannya, acara ini bisa menjadi salah satu ajang promosi produk Indonesia di Taiwan, sekaligus wadah untuk saling bertukar," katanya.
Tahun ini, Indonesia akan menempati lima stan, lebih banyak dibandingkan negara lain yang umumnya mendapat dua hingga tiga stan, kata Wara.
Ia mengatakan alokasi tersebut antara lain mempertimbangkan besarnya komunitas Indonesia di Taiwan. Stan Indonesia akan diisi melalui kolaborasi dengan mitra bisnis di Taiwan, dengan menampilkan produk makanan Indonesia, kopi, dan berbagai produk lainnya.
Wara berharap keikutsertaan tersebut tidak hanya menciptakan ruang yang lebih dekat bagi masyarakat Indonesia di Taiwan, tetapi juga membuka lebih banyak peluang kolaborasi dan pertukaran bisnis antara Indonesia dan Taiwan.
Jimmy (林志益), pemilik kedai kopi Q COFFEE yang telah berkecimpung dalam industri kopi sejak 2017 mengatakan kedainya secara rutin menyediakan kopi Indonesia dan Taiwan, dengan sekitar empat hingga delapan jenis kopi dari kedua wilayah tersebut tersedia di tokonya pada suatu waktu.
Ia mengatakan kopi Indonesia memiliki karakter yang sangat beragam dan menggunakan metode fermentasi yang berbeda karena kondisi iklimnya, sementara sebagian besar kopi Taiwan ditanam di dataran yang lebih tinggi dengan suhu yang lebih rendah sehingga buah kopi matang lebih lambat.
Menurutnya, kedua wilayah memiliki kualitas biji kopi yang baik, dengan kekayaan dan kejernihan cita rasa yang menjadi salah satu keunggulannya.
Di Taiwan, kopi Sulawesi disebut menjadi salah satu pilihan yang populer untuk tingkat sangrai ringan, sedangkan Mandheling banyak diminati untuk tingkat sangrai medium hingga gelap.
Lin Pei-Shan (貝珊) dari HuaXiTian Coffee Estate (花囍田咖啡莊園), yang mengelola perkebunan kopi di kawasan Caoling, Desa Gukeng, mengatakan kopi Indonesia dan Yunlin memiliki karakter yang berbeda.
Menurutnya, kopi Indonesia memiliki cita rasa yang lebih jelas, terutama pada biji kopi yang diproses dengan metode natural atau pengeringan dengan sinar matahari. Sementara itu, kopi Taiwan, khususnya dari Yunlin, memiliki karakter terroir lokal yang antara lain menghadirkan aroma bunga, seperti bunga putih dan bunga kopi, serta nuansa teh oolong dan teh hitam.
Taiwan Coffee Festival telah menjadi agenda tahunan yang berkaitan dengan industri kopi dan pariwisata Yunlin. Pada penyelenggaraan 2025, festival tersebut menghadirkan 141 merek dari 13 kabupaten dan kota di Taiwan.
Pemerintah Kabupaten Yunlin mengatakan bahwa tema "Coffee For World" mencerminkan upaya membawa kopi dari Yunlin ke berbagai kota di Taiwan sekaligus menghubungkannya dengan negara dan komunitas kopi di seluruh dunia.
Melalui festival tersebut, Yunlin juga akan mempertemukan pelaku industri kopi lokal dengan pelaku usaha dari berbagai daerah penghasil kopi di Taiwan serta merek kopi internasional.
Kegiatan di KDEI Taipei merupakan bagian dari agenda promosi dan pertukaran internasional menjelang pelaksanaan Taiwan Coffee Festival 2026 di Gukeng Green Tunnel, Kabupaten Yunlin.
Selesai/IF