Taipei, 16 Juni (CNA) Sebuah perahu masyarakat adat yang dibangun warga suku Yami (Tao) hari Senin (15/6) berangkat dari Lanyu (Pulau Orchid) menuju kepulauan Batanes di Filipina, menelusuri kembali jalur laut leluhur yang menghubungkan kedua komunitas dan belum pernah dilayari kapal tradisional selama 300 tahun.
Warga komunitas Tao berkumpul di pelabuhan setempat untuk melepas kru yang berada di atas Ovayan, sebuah kapal papan kayu tradisional yang dikenal sebagai ipanitika, serta memberikan doa dan dukungan.
Perahu yang dapat menampung 20 orang ini dibangun tanpa paku dan selesai pada Maret, menjalani uji coba laut pada 28 April dan mengadakan upacara peluncuran tradisional pada 9 Juni.
Maraos, yang memimpin Indigenous Peoples Cultural Foundation (IPCF), mengatakan masyarakat Tao di Lanyu dan masyarakat Ivatan di Batanes adalah komunitas maritim yang memiliki hubungan erat, di mana bahasa mereka masih lebih dari 80 persen saling dimengerti.
Menurut IPCF, 60 anggota kru akan mendayung secara bergantian menempuh lebih dari 100 mil laut (185 kilometer) melintasi Selat Bashi menuju Batanes, melambangkan warisan bersama antara kedua komunitas.
Kapal tanpa karbon Porrima P111 memimpin armada yang terdiri dari tujuh kapal pendukung yang memberikan pengawalan dan dukungan logistik untuk pelayaran ini, menggabungkan teknologi maritim modern dengan pengetahuan navigasi tradisional.
IPCF mengatakan proyek ini membutuhkan waktu tiga tahun untuk dipersiapkan. Ovayan adalah salah satu perahu papan tradisional Tao terbesar di era modern, dengan panjang sekitar 12 meter, tambah pihaknya.
Dalam upacara peluncuran pekan lalu, Maraos mengatakan penyeberangan ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua hari dari Lanyu ke Pelabuhan Mahatao di Kepulauan Batanes.
Ia menambahkan bahwa setibanya di sana, kedua komunitas akan mengadakan upacara penyambutan di pelabuhan, serta pertukaran lagu dan kegiatan berbagi budaya yang bertujuan mempererat hubungan budaya.
Selesai/