Kaohsiung, 7 Mar. (CNA) Sebuah kano penjelajah tradisional dari Palau tiba di Pelabuhan Kaohsiung pada Sabtu (7/3), di mana Dewan Urusan Kelautan (OAC) Taiwan mengadakan upacara untuk menyambut kru yang melakukan pelayaran Pasifik yang ambisius dengan sepenuhnya dipandu navigasi tradisional.
Kapal tersebut, Alingano Maisu, berlayar dari Palau pada 15 Februari dalam apa yang digambarkan dewan sebagai pelayaran terbesar dari jenisnya, perjalanan selama empat bulan yang menempuh sekitar 6.200 mil laut melintasi Pasifik barat.
Kano ini dikapteni navigator utama Sesario Sewralur, yang memimpin kru beranggotakan 13 orang dari Palau, Taiwan, Amerika Serikat, dan Federasi Mikronesia.
Berbicara di upacara tersebut, Sewralur mengucapkan terima kasih kepada Taiwan atas sambutan hangatnya.
Sewralur mengatakan bahwa kano yang menyeberangi lautan menyatukan orang-orang sebagai satu keluarga. "Satu lautan, satu keluarga."
Taiwan adalah pemberhentian pertama bagi Alingano Maisu, yang akan melanjutkan perjalanan ke Okinawa, Guam, Saipan, serta Satawal dan Yap di Federasi Mikronesia, sebelum kembali ke Palau.
Menurut OAC, kru menavigasi tanpa instrumen modern, melainkan membaca angin dan arus laut, mengamati bintang dan pola benda langit, serta menafsirkan tanda-tanda dari kehidupan laut untuk menentukan arah mereka.
Wakil Menteri OAC Wu Hsin-hsiu (吳欣修) mengatakan pada upacara tersebut bahwa pelayaran ini menunjukkan kedalaman dan ketepatan pengetahuan pelayaran Austronesia yang diwariskan turun-temurun.
Selama berada di Kaohsiung, kru akan mengadakan pertukaran budaya dan kegiatan pendidikan maritim dengan kelompok Pribumi, komunitas pelaut, dan institusi akademik Taiwan, kata dewan tersebut.
Pada Sabtu pagi, kano tersebut dikawal menuju Kaohsiung dari perairan dekat Teluk Dapeng oleh kapal layar dari universitas dan kelompok pelayaran Taiwan.
Selesai/ja