Pameran foto bersama RSF dan CNA resmi dibuka

12/01/2026 16:06(Diperbaharui 12/01/2026 16:07)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Seorang wanita berdiri di tengah galeri foto pada pameran “Shooting the World of Tomorrow” di Taipei pada Senin. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)
Seorang wanita berdiri di tengah galeri foto pada pameran “Shooting the World of Tomorrow” di Taipei pada Senin. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)

Taipei, 12 Jan. (CNA) Reporters Without Borders (RSF) dan Central News Agency (CNA) pada Senin (12/1) meluncurkan pameran fotografi bersama di Taipei untuk menandai ulang tahun ke-40 LSM yang berbasis di Prancis tersebut.

Pameran yang bertajuk "Shooting the World of Tomorrow" ini menampilkan 40 foto karya jurnalis dari seluruh dunia dengan tiga topik -- Lingkungan, Pengasingan, dan Krisis -- bersama dengan 13 foto pemenang penghargaan karya jurnalis foto CNA. Pameran di Taipei ini merupakan kelanjutan dari tujuh pemberhentian sebelumnya di Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

 

Direktur Biro Asia-Pasifik RSF, Cédric Alviani. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)
Direktur Biro Asia-Pasifik RSF, Cédric Alviani. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)

Cédric Alviani, direktur Biro Asia-Pasifik RSF, menyebutkan peringkat Taiwan sebagai negara dengan skor tertinggi dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia RSF 2025, dan mengatakan bahwa keikutsertaan karya jurnalis foto CNA "mengubah pameran ini menjadi sebuah pertukaran budaya."

Berbeda dengan banyak karya RSF yang menggambarkan kehidupan di bawah perang atau kehancuran, Alviani mencatat bahwa foto-foto CNA lebih berfokus pada politik domestik, olahraga, dan isu sosial, sehingga menambah nuansa "lebih hidup" pada pameran yang "jika tidak, akan terasa cukup suram."

Presiden CNA Anne Hu. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)
Presiden CNA Anne Hu. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)

"Sering dikatakan bahwa jurnalisme adalah draf pertama dari sejarah, jadi di mana posisi kita dalam sejarah?" kata Presiden CNA Anne Hu (胡婉玲) dalam pidatonya pada upacara pembukaan.

Mengacu pada ledakan AI dan pertanyaan seputar nilai-nilai serta krisis eksistensial yang dihadapi jurnalisme, Hu mengatakan bahwa "masih terlalu dini untuk menilai" dan mengimbau masyarakat untuk menghargai "jurnalisme foto berkualitas manusia."

Karsten Tietz, direktur jenderal German Institute Taipei, juga menyoroti perang kognitif Rusia dan Tiongkok terhadap Eropa dan Taiwan, dengan mengatakan bahwa penyebaran gambar palsu membuat "foto nyata dan otentik untuk menunjukkan kebenaran" menjadi semakin penting.

Ruth Evelin Pasaribu (kedua dari kanan) dari KDEI Taipei turut hadir sebagai tamu undangan pembukaan pameran foto RSF bersama CNA. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)
Ruth Evelin Pasaribu (kedua dari kanan) dari KDEI Taipei turut hadir sebagai tamu undangan pembukaan pameran foto RSF bersama CNA. (Sumber Foto : CNA, 12 Januari 2026)

Kepala Bidang Pariwisata dan Perhubungan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Ruth Evelin Pasaribu yang hadir sebagai undangan menilai pameran ini memperlihatkan bagaimana media semakin berkembang dan memberikan kontribusi positif. 

"Setiap jurnalis yang mengambil foto ini memiliki sisi yang berbeda dan mereka menunjukkan ada pesan di balik foto-foto tersebut," kata Ruth.

Ia juga mengapresiasi bagaimana media di Taiwan seperti CNA menyampaikan informasi kepada semua pihak termasuk komunitas Indonesia yang ada di Taiwan. 

"Kami melihat bahwa sejauh ini media itu sangat bekerjasama dengan KDEI dalam memberikan informasi yang sangat positif untuk komunitas Indonesia khususnya yang ada di Taiwan. Untuk bisa mengedukasi juga masyarakat kita yang memang memiliki latar belakang yang berbeda," kata Ruth seraya menyatakan pihaknya pun akan sangat terbuka jika ke depan RSF atau CNA hendak berkolaborasi dengan Indonesia dalam pameran dan pertukaran karya visual seperti ini. 

Pameran ini gratis untuk umum dan berlangsung hingga 11 Februari di No. 209, Jalan Songjiang.

(Oleh Chao Yen-hsiang, Jennifer Aurelia, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris
How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.