Washington, 9 Jan. (CNA) Seorang mantan pejabat Pentagon mengatakan pada Selasa (6/1) bahwa Tiongkok tidak mungkin berhasil menangkap para pemimpin Taiwan dalam operasi militer udara cepat karena sistem pertahanan udara Taiwan yang luas.
Kris Osborn, mantan pakar di Kantor Asisten Sekretaris Angkatan Darat, menulis di situs berita pertahanan 19FortyFive bahwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada Sabtu (3/1) adalah contoh dari "serangan pemenggalan kepala" modern, yang bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan lawan untuk bertempur tanpa kehancuran besar-besaran.
Ia mengatakan operasi tersebut mengandalkan intelijen yang tepat, pengawasan, dan serangan terhadap target-target militer utama serta infrastruktur listrik, yang memungkinkan pasukan khusus AS menangkap Maduro dengan "sedikit atau tanpa kerusakan yang tidak diinginkan."
Osborn mencatat bahwa Venezuela hanya memiliki "sejumlah kecil pertahanan udara buatan Rusia, yang tampaknya telah dihancurkan dengan cepat oleh pasukan AS," sementara Taiwan mengoperasikan jaringan pertahanan udara yang "jauh lebih luas dan rumit," sehingga serangan helikopter atau pesawat menjadi sangat sulit meskipun Tiongkok memiliki kemampuan intelijen.
AS melancarkan serangan udara di Caracas, Venezuela pada Sabtu pagi dan menahan Maduro.
Dalam konferensi pers pada hari yang sama, pejabat militer tertinggi AS Jenderal Dan Caine mengatakan helikopter AS yang membawa pasukan ekstraksi memasuki wilayah udara Venezuela pada malam hari dan di ketinggian rendah, sementara jet tempur memberikan perlindungan.
Maduro kemudian diterbangkan ke New York bersama istrinya untuk menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan geng yang ditetapkan sebagai organisasi teroris, tuduhan yang telah ia bantah.
Selesai/ja