Taipei, 10 Jan. (CNA) Tentara siber Tiongkok melancarkan 2,63 juta upaya peretasan terhadap infrastruktur kritis (CI) Taiwan setiap hari pada tahun 2025, yang menunjukkan peningkatan sebesar enam persen dibandingkan tahun 2024, menurut Biro Keamanan Nasional (NSB) Taiwan pada hari Minggu (4/1).
Dalam sebuah laporan berjudul "Analisis Ancaman Siber Tiongkok terhadap Infrastruktur Kritis Taiwan pada 2025," badan keamanan Taiwan mengatakan bahwa sektor energi dan rumah sakit mengalami "lonjakan serangan siber dari aktor ancaman Tiongkok yang paling signifikan dari tahun ke tahun."
"Serangan siber yang dilakukan oleh tentara siber Tiongkok melibatkan empat taktik utama, yaitu eksploitasi kerentanan perangkat keras dan perangkat lunak, distributed denial-of-service (DDoS), rekayasa sosial, dan serangan rantai pasokan," jelas laporan tersebut.
Eksploitasi kerentanan perangkat keras dan perangkat lunak menyumbang lebih dari setengah upaya intrusi, sebut laporan itu.
"Lima kelompok peretas Tiongkok teratas, yaitu BlackTech (黑科技), Flax Typhoon (亞麻颱風), Mustang Panda (野馬熊貓), APT41, dan UNC3886, melancarkan operasi siber terhadap CI Taiwan dengan fokus pada lima sektor utama, termasuk energi, layanan kesehatan, komunikasi dan transmisi, administrasi dan lembaga, serta teknologi," kata laporan tersebut.
Setidaknya 20 kasus penyebaran ransomware dalam upaya mengganggu operasi rumah sakit besar diidentifikasi pada tahun 2025, sebut laporan itu.
Sepanjang tahun, jumlah serangan siber terhadap infrastruktur kritis Taiwan memuncak sekitar peringatan satu tahun pelantikan Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada bulan Mei, dan juga meningkat kembali selama perjalanan Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (蕭美琴) ke Eropa pada bulan November, menurut laporan tersebut.
Badan keamanan tidak menyebutkan berapa banyak dari upaya intrusi yang berhasil.
"Sepanjang tahun 2025, lembaga keamanan siber dan dinas intelijen di seluruh kawasan Indo-Pasifik, NATO, dan Uni Eropa berulang kali mengidentifikasi Tiongkok sebagai sumber utama ancaman keamanan siber global," kata laporan itu.
NSB mengadakan dialog keamanan informasi dan konferensi teknis dengan lebih dari 30 negara di seluruh dunia pada tahun 2025, kata lembaga tersebut, dan bekerja sama erat dengan "teman dan sekutu internasional" untuk "memperoleh intelijen tepat waktu tentang pola serangan tentara siber Tiongkok."
Lembaga tersebut mengatakan bahwa mereka "Melakukan investigasi bersama terhadap node relay berbahaya, sehingga mendukung pengambilan keputusan pemerintah, kesiapsiagaan respons, dan semakin meningkatkan ketahanan serta kapasitas perlindungan CI Taiwan secara keseluruhan."
Selesai/ML