PMI dilecehkan pria tak dikenal saat rapikan halaman rumah di Miaoli

29/03/2026 11:30(Diperbaharui 29/03/2026 11:49)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Seorang pria tak dikenal menyentuh pipi pekerja migran Indonesia perempuan di wilayah Baishatun di Kelurahan Tongxiao, Kabupaten Miaoli, Kamis. (Sumber Foto : Kontributor pribadi)
Seorang pria tak dikenal menyentuh pipi pekerja migran Indonesia perempuan di wilayah Baishatun di Kelurahan Tongxiao, Kabupaten Miaoli, Kamis. (Sumber Foto : Kontributor pribadi)

Taipei, 29 Mar. (CNA) Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan baru-baru ini tiba-tiba disentuh pipinya oleh orang tidak dikenal, yang memasuki halaman rumah tempat dirinya sedang beres-beres di sebuah wilayah wisata populer di Kelurahan Tongxiao, Kabupaten Miaoli, menurut pengakuannya.

Lo Tiao-pin (駱調彬), pemilik rumah tradisional tersebut sekaligus pihak majikan, hari Jumat (27/3) menyampaikan kepada media bahwa sehari sebelumnya, hanya ada PMI tersebut yang sedang merapikan taman di halaman.

Saat itu, seorang pria yang mengenakan topi bisbol dan masker, tampak seperti wisatawan, menghampirinya untuk mengobrol, tetapi berpura-pura akrab, berjalan masuk sendiri ke ruang altar tanpa izin, kata Lo.

Melihat ada minuman di samping, pria itu membuka dan mengambil beberapa kaleng untuk dimasukkan ke dalam tasnya, dan sebelum pergi sempat menyentuh pipi PMI perempuan itu, menurut Lo, pendiri situs web Baishatun Mazu dan Baishatun Matsu Internet TV.

 

Perawat migran tersebut mengatakan bahwa saat itu ia sedang jongkok untuk mengganti pot bunga di halaman, dan menjawab pertanyaan pelaku dengan sikap ramah.

Tak disangka, ujarnya, pria itu tiba-tiba mendekat dan mengulurkan tangan menyentuh pipinya. "Saya kaget," ucapnya, seraya menyebut perilaku itu "sangat tidak sopan".

Lo menegaskan bahwa rumah yang terletak di wilayah Baishatun yang populer karena kegiatan ziarah Mazu itu merupakan ruang pribadi, bukan tempat wisata. Masuk tanpa izin sudah merupakan tindakan tidak pantas, apalagi jika sampai terjadi dugaan pelecehan seksual, "Ini tidak bisa dimaafkan," ucapnya.

Oleh karena itu, kata Lo, ia membagikan rekaman terkait untuk mengingatkan warga setempat agar lebih waspada, serta mengimbau masyarakat dari berbagai daerah yang datang ke Baishatun untuk berziarah dengan tulus agar tetap menghormati ruang hidup dan privasi warga setempat.

(Oleh Kuan Jui-ping dan Jason Cahyadi)

Selesai/ja

(Sumber Foto : Kontributor pribadi)
(Sumber Foto : Kontributor pribadi)
How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.