Taipei, 1 Apr. (CNA) Seniman pribumi Taiwan, Siyat Moses mengatakan bahwa dirinya tertarik pada "campuran budaya" di pusat kota Taoyuan, setelah menjalani penelusuran lapangan di sana, kata Indigenous Peoples Cultural Foundation (IPCF).
Ia melihat keberadaan pekerja migran dan imigran baru yang hidup berdampingan, serta lanskap campuran seperti bioskop dan toko perhiasan, sebagai cerminan identitas pribadinya, menurut siaran pers IPCF.
"Karya saya akan kembali pada penggunaan material yang beragam untuk merespons konsep 'pertukaran' dan perubahan berkelanjutan di Taoyuan," ucap Moses yang berasal dari suku Seediq.
Ia menjadi satu dari tiga seniman pribumi Taiwan yang berpartisipasi dalam program pendahulu Pulima Art Festival 2026 yang menghubungkan tim sejarah-budaya dan ekologi lokal di Taoyuan, menurut IPCF.
Pada 27 hingga 30 Maret, mereka melakukan penelusuran di Taoyuan, menggali dan mengumpulkan memori lokal yang akan menjadi sumber inspirasi bagi karya residensi seni dan lokakarya di masa depan, kata IPCF.
Tim menelusuri cerita lokal di kawasan kota tua, dimulai dari pusat keagamaan Kuil Jing Fu Gong, menyusuri gang-gang sempit, mengumpulkan budaya kuliner dari pasar lama, serta melalui tur malam untuk menelusuri legenda dan kisah lokal, kata IPCF.
Mereka menyusuri sepanjang Sungai Laojie untuk mendengarkan kisah revitalisasi sungai, juga mengunjungi Chintan Park untuk mengamati bagaimana kolam pertanian bertransformasi menjadi taman lanskap.
Selain itu, mereka menjelajahi kawasan Qingpu yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, mendengarkan kenangan masa kecil masyarakat setempat, serta mengunjungi Komunitas Ba Li untuk menyaksikan dampak pendidikan pangan dan pembangunan komunitas.
Seniman pertunjukan dari suku Saisiat, maya' a taboeh hayawan, mengatakan, "Dalam perubahan yang cepat, sering kali hanya foto dan ingatan manusia yang dapat menghubungkan masa lalu dan masa depan."
Becermin dari transformasi Qingpu, karya-karyanya akan berfokus pada pengalaman manusia, menggali emosi mendalam dari perubahan tempat tinggal melalui persepsi tubuh, menurut IPCF.
Sementara itu, Ali Istanda dari suku Bunun mengatakan dirinya mengamati adanya rasa kehilangan yang muncul pada masyarakat lokal akibat perubahan tersebut.
Ia berharap dapat mentransformasi kesedihan ini menjadi perspektif baru, dan memberikan dukungan psikologis yang positif bagi para peserta melalui karyanya yang menggabungkan citra hidrologi kolam khas.
Para seniman akan menjalani residensi di KIRI International Indigenous Cultural and Creative Park, dengan mengolah elemen-elemen kehidupan yang dikumpulkan, seperti serat tanaman, kain bekas, atau tekstur kolam irigasi, melalui teknik seperti karya anyaman, cetak grafis, dan penulisan berbasis tubuh, kata IPCF.
Masyarakat umum dapat menyaksikan proses kreatif para seniman selama periode studio terbuka pada Juli hingga Agustus, serta mendaftar terlebih dahulu untuk mengikuti lokakarya partisipatif guna terlibat dalam proses penciptaan bersama, menurut IPCF.
Karya-karya dan pengalaman hidup para seniman ini akan saling melengkapi dan bersanding dengan hasil program Pulima, dan dipamerkan dalam Taiwan Design Expo 2026 di Taoyuan.
Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Departemen Urusan Pribumi Kota Taoyuan, dan ditampilkan di area satelitnya, KIRI International Indigenous Cultural and Creative Park, menurut IPCF.
IPCF berharap melalui rangkaian kegiatan seni yang berkelanjutan, kantor mereka di kawasan Chintan Park yang akan rampung dibangun pada 2027 tidak hanya akan menjadi sebuah bangunan fisik, tetapi juga platform budaya yang hidup bersama dengan masyarakat lokal, berkolaborasi, dan terus menjadi ruang untuk bercerita.
Selesai/IF