Taipei, 1 Apr. (CNA) Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan bahwa pemerintah telah meminta dua perusahaan petrokimia terbesar di Taiwan untuk meningkatkan produksi seiring perang di Timur Tengah yang terus mengganggu pasokan minyak global, sehingga mendorong kenaikan biaya kantong plastik.
Menurut media lokal, Yeedon Enterprise Co., pemilik merek beras terkemuka di Taiwan, San-Hao Rice, melaporkan bahwa biaya kantong plastik 3 liter telah meningkat dua kali lipat dari NT$4 (Rp2,119) hingga NT$10 karena kekurangan bahan baku yang terus berlanjut akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Dalam sebuah sesi tanya jawab legislatif, legislator oposisi dari Kuomintang, Wang Yu-min (王育敏), menanyakan kepada Cho tindakan apa yang telah diambil pemerintah untuk mengatasi kekurangan etilena, turunan minyak bumi dan bahan baku utama untuk kantong plastik.
Cho menjawab bahwa pemerintah telah menginstruksikan CPC Corp., Taiwan, yang dikelola negara, untuk menutupi kekurangan produksi etilena saat ini.
Pemerintah akan menyediakan jumlah bahan baku yang dibutuhkan kepada CPC Corp. pada bulan April, dan perusahaan tersebut akan meningkatkan produksi etilena bulanan dari 60.000 ton metrik saat ini menjadi 79.000 hingga 80.000 ton, kata Cho.
Cho mengatakan pemerintah juga telah meminta Formosa Petrochemical Corp. (FPCC) untuk meningkatkan produksi. Perusahaan tersebut mengatakan tidak dapat meningkatkan produksi sebanyak CPC Corp., dengan jumlah peningkatan akhir yang masih belum dikonfirmasi.
Cho menambahkan bahwa pasokan minyak bumi dan gas alam cair "hampir stabil" hingga bulan Juni.
Wang merekomendasikan agar Kabinet membentuk satuan tugas lintas lembaga untuk menahan dampak ekonomi dari perang dan mencegahnya memengaruhi industri semikonduktor serta harga kebutuhan pokok sehari-hari.
Selesai/ja