Taipei, 15 Okt. (CNA) Sejumlah organisasi mahasiswa hari Rabu (14/10) memprotes Shih Hsin University, menuntut transparansi alokasi sumber daya kampus dan kebebasan berpendapat dengan mendatangi malam perayaan hari jadi universitas yang dihadiri sejumlah selebritas dan pejabat, hingga memicu kericuhan.
Shih Hsin belakangan ini mendorong transformasi organisasi dengan menggabungkan kantor administrasi jurusan menjadi kantor bersama di tingkat fakultas, yang memicu penolakan mahasiswa. Renovasi perpustakaan untuk menyediakan fasilitas hiburan, seperti ruang karaoke, juga dikritik karena dinilai mengalihkan sumber daya ke hal yang tidak mendesak.
Pihak universitas telah beberapa kali memberikan klarifikasi. Namun, organisasi mahasiswa tetap tidak puas, dan mengadakan aksi di kampus pada 8 Oktober untuk meluncurkan sebuah gerakan protes.
Gerakan ini menuntut pihak kampus untuk "mengembalikan kantor administrasi dan sekretaris jurusan, transparan dalam alokasi sumber daya kampus, mengembalikan hak memperoleh pendidikan, dan mengembalikan kebebasan berpendapat."
Pihak kampus hari Rabu menggelar acara perayaan 70 tahun berdirinya Shih Hsin di Taipei Arena, yang menarik banyak mahasiswa untuk hadir seiring dengan penampilan sejumlah alumni yang kini menjadi selebritas.
Di luar lokasi, organisasi mahasiswa Shih Hsin menggelar orasi sambil membawa poster tuntutan, didukung kelompok-kelompok dari National Taiwan University dan National Chengchi University serta Serikat Pekerja Pendidikan Tinggi Taiwan.
Setelah orasi, anggota kelompok mahasiswa dan serikat sempat berusaha memasuki arena untuk menyampaikan tuntutan secara langsung, tetapi berulang kali dihalangi petugas keamanan. Kericuhan menyebabkan dorong-dorongan dengan pertengkaran verbal hingga ada peserta aksi yang jatuh.
Pimpinan organisasi mahasiswa Shih Hsin, Lin Cheng-hsi (林承熙), dan sejumlah rekannya memiliki tiket sehingga berharap dapat memasuki arena. Namun, petugas keamanan mensyaratkan agar mereka menurunkan poster-poster protes. Setelah berunding cukup lama tanpa mencapai kesepakatan, para peserta aksi kembali ke luar.
Lin mengatakan mereka memiliki banyak pertanyaan mengenai alokasi sumber daya kampus. Pihak universitas memiliki dana untuk menyewa Taipei Arena dan mengadakan undian berhadiah NT$1 juta (Rp556 juta) untuk hadirin, tetapi enggan mengalokasikan dana tambahan untuk perangkat lunak berlisensi untuk perkuliahan, ujarnya.
Ia juga menyoroti ruang kelas yang pendingin udaranya rusak serta mikrofon yang tidak diperbaiki. Selain itu, penggabungan kantor administrasi dan layanan sekretaris jurusan telah menimbulkan berbagai kesulitan bagi mahasiswa dalam kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari, ucapnya.
Lin menegaskan pihak kampus tidak dilarang menyelenggarakan perayaan hari jadi secara besar-besaran, tetapi seharusnya lebih memerhatikan persoalan yang dihadapi mahasiswa setiap hari serta menjelaskan secara transparan bagaimana sumber daya dialokasikan.
Ia juga menyampaikan seruan kepada dewan pengurus universitas agar memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan kampus dan mencegah pendidikan dijadikan sebagai sarana mencari keuntungan.
Menanggapi, pihak universitas pada malam hari mengatakan kepada media bahwa setiap orang wajib mematuhi ketentuan masuk ke lokasi acara dan tidak diperbolehkan menerobos paksa pembatasan akses.
Petugas di lokasi menjalankan pemeriksaan tiket masuk dan pengamanan untuk memastikan keselamatan serta kelancaran acara, dan ketentuan terkait tidak seharusnya dilanggar secara sewenang-wenang, kata pihak kampus.
Pihak universitas menyatakan menghormati hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat serta memerhatikan kepedulian dan tuntutan mahasiswa terkait urusan kampus.
Namun, kata pihak kampus, penyampaian pendapat harus dilakukan melalui cara yang rasional dan sesuai hukum, bukan dengan menerobos pembatasan di lokasi atau mengganggu ketertiban acara. Terlebih lagi, tindakan tersebut tidak boleh membahayakan keselamatan peserta lainnya.
Pihak universitas menyatakan akan mengklarifikasi kronologi kejadian dan mengambil langkah penanganan yang sesuai.
Pada tahun akademik 2025/2026, Shih Hsin memiliki 660 mahasiswa dari luar Taiwan, termasuk sepuluh dari Indonesia, menurut data terbaru Kementerian Pendidikan.
Terletak di Distrik Wenshan, Taipei, universitas swasta ini dikenal unggul dalam bidang komunikasi sejak didirikan dan merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi di Taiwan yang paling representatif dalam bidang media dan humaniora, menurut situs web Komite Penerimaan Mahasiswa Luar Negeri.
(Oleh Chen Chih-chung dan Jason Cahyadi)
Selesai/ja