Taipei, 14 Okt. (CNA) Dennis Blair, mantan direktur intelijen nasional di bawah Presiden Amerika Serikat Barack Obama, pada hari Rabu (14/10) memuji keputusan Taiwan dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah latihan militer tahunan berskala besar menjadi upaya pertahanan seluruh elemen masyarakat.
Berbicara secara virtual di sebuah konferensi keamanan di Taipei, Blair mengatakan kepada para hadirin bahwa keputusan Taiwan untuk mengubah latihan Han Kuang dari "murni militer" menjadi apa yang ia sebut sebagai "latihan pertahanan nasional" adalah keputusan yang sangat baik.
Dengan melakukan hal tersebut, Taiwan akan "memastikan bahwa semua kemampuan Taiwan dimobilisasi dan dikerahkan," kata Blair, mantan laksamana Angkatan Laut AS yang pernah memimpin pasukan AS di Pasifik sebelum pensiun pada tahun 2002.
Ia berpendapat bahwa upaya total Taiwan untuk menunjukkan tekadnya dalam mempertahankan diri akan membantu meyakinkan negara-negara yang sejalan dan mitra regional untuk memberikan bantuan dalam keadaan darurat.
"Dan tentu saja, membantu Taiwan sangatlah penting bagi semua negara maritim."
"Bagaimanapun juga, jika Taiwan dapat diintimidasi untuk menyerahkan sebagian kedaulatannya, maka Jepang, Filipina, Vietnam, Malaysia, Korea, semua negara di dunia harus bertanya-tanya, kawasan ini harus bertanya-tanya apakah mereka yang berikutnya," ujarnya.
Latihan Han Kuang tahunan telah menjadi latihan perang utama Taiwan sejak 1984, untuk menguji kesiapan tempur negara tersebut jika terjadi kemungkinan invasi dari Tiongkok.
Awalnya hanya melibatkan personel militer dari semua cabang angkatan bersenjata, latihan ini dalam beberapa tahun terakhir telah diperluas untuk memasukkan latihan ketahanan pertahanan seluruh elemen masyarakat guna mendorong operasi sipil-militer yang aktif.
Blair juga menyarankan dalam pidatonya agar Taipei terus berupaya memantau aktivitas maritim dan menegakkan hukum di perairan di bawah yurisdiksinya, karena Tiongkok terus mengirim kapal sipil dan pemerintah ke perairan Taiwan.
Selain upaya pemantauan dan penegakan hukum ini, ia berpendapat bahwa Taiwan membutuhkan kampanye diplomasi dan sosialisasi publik yang aktif, serupa dengan yang dilakukan Filipina dalam perselisihan dan konfrontasinya dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan.
"Tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan bahwa klaim dan operasi Tiongkok itu ilegal dan tidak kompeten. Untuk memenangkan dan mempertahankan perhatian dunia, diplomasi publik Taiwan harus inovatif dan segar. Taiwan tidak boleh membiarkan Tiongkok membentuk kebiasaan baru dalam persepsi publik internasional."
Blair menyampaikan pernyataan tersebut secara jarak jauh dalam Konferensi Internasional Keamanan Jalur Laut 2026, yang diselenggarakan oleh Dewan Urusan Kelautan Taiwan.
Pada pembukaan konferensi satu hari tersebut, Lii Wen (李問), wakil sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, berterima kasih kepada para mitra sehaluan karena bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap tindakan destabilisasi Tiongkok di Laut Cina Timur, Selat Taiwan, dan Laut Cina Selatan.
Ia menyerukan kerja sama internasional dan regional yang lebih besar untuk memperkuat kemampuan peringatan dini dan agar mitra internasional mempertahankan kehadiran maritim mereka melalui langkah-langkah seperti operasi kebebasan navigasi dan kerja sama regional untuk memerangi kejahatan maritim.
Selesai/ml