Taipei, 14 Okt. (CNA) Ketua Kamar Dagang Taipei Wang Ling-lin (王令麟) mendesak pemerintah Taiwan meninjau kebutuhan tenaga kerja di sektor jasa dan mempertimbangkan pelonggaran aturan perekrutan pekerja asing serta izin kerja bagi mahasiswa asing untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, sembari menyambut kebijakan yang tahun ini membuka kesempatan bagi sektor perhotelan untuk merekrut pekerja teknis asing.
Kinerja ekspor Taiwan di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi tinggi menunjukkan hasil yang cemerlang. Namun, sektor jasa yang berhadapan langsung dengan konsumen, seperti restoran, pusat perbelanjaan, dan ritel, menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja meski permintaan bisnis tetap tinggi.
Dalam siaran persnya, Wang mengatakan sejumlah anggota dan perwakilan industri belakangan ini terus menyampaikan masalah kekurangan tenaga kerja kepada Kamar Dagang Taipei. Persoalan tersebut terutama terjadi di sektor restoran, ritel, dan layanan garis depan. Sejumlah pelaku usaha telah lama kesulitan mencari pekerja sehingga terpaksa mempersingkat jam operasional, mengurangi layanan, bahkan menghentikan usaha.
Wang menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kenaikan upah minimum secara berkelanjutan dan perlindungan hak-hak pekerja. Ia juga mengapresiasi langkah Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan yang tahun ini memperluas kesempatan bagi sektor perhotelan untuk merekrut pekerja teknis asing.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mulai memperhatikan persoalan kekurangan tenaga kerja akibat rendahnya angka kelahiran dan perubahan struktur demografi.
"Jika hotel berbintang lima sudah bisa mulai merekrut tenaga kerja asing, apakah sektor jasa lain yang juga mengalami kekurangan tenaga kerja serius, termasuk hotel, restoran, salon kecantikan dan tata rambut, serta minimarket, juga bisa mengambil langkah lebih jauh?" ujarnya.
Wang mencontohkan Jepang, yang juga telah lama menghadapi persoalan rendahnya angka kelahiran, penuaan penduduk, dan kekurangan tenaga kerja di sektor jasa. Pada masa pemerintahan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, Jepang secara bertahap memperluas penerimaan tenaga kerja asing. Sistem Specified Skilled Worker yang mulai berlaku pada 2019 turut mencakup sektor jasa makanan dan akomodasi.
Jepang juga mengizinkan mahasiswa asing yang memperoleh izin untuk bekerja di luar jam kuliah. Karena itu, mahasiswa asing kini lazim dijumpai bekerja di minimarket, restoran, dan berbagai tempat layanan lainnya.
Wang mengatakan mahasiswa asing, lulusan mahasiswa perantauan Tionghoa dan mahasiswa asing lainnya, serta pekerja teknis asing di Taiwan saat ini tunduk pada aturan berbeda berdasarkan status, sektor industri, dan jenis pekerjaan. Kondisi tersebut membuat perusahaan di sektor jasa garis depan masih menghadapi sistem yang rumit dan kurang fleksibel.
Ia menambahkan bahwa meskipun sama-sama bekerja di sektor jasa garis depan, beberapa jenis pekerjaan telah terbuka bagi tenaga kerja asing atau mahasiswa melalui program magang, sementara pekerjaan lain yang juga mengalami kekurangan tenaga kerja berkepanjangan masih menghadapi berbagai pembatasan.
Wang menyarankan pemerintah pusat meninjau kembali kebutuhan tenaga kerja di sektor jasa dan mempertimbangkan sistem yang lebih fleksibel bagi pekerja asing serta mahasiswa asing, khususnya untuk industri yang mengalami kekurangan tenaga kerja serius dalam jangka panjang.
Ia mengatakan kebijakan tersebut tidak harus langsung diterapkan secara menyeluruh, melainkan dapat dimulai melalui uji coba yang kemudian dievaluasi. Menurutnya, Taipei cocok dijadikan lokasi uji coba sebelum kebijakan tersebut diperluas secara bertahap ke kota dan kabupaten lainnya.
(Oleh Chiang Ming-yen dan Agoeng Sunarto)
Selesai/ja