Taipei, 24 Sep. (CNA) Pekerja Migran Indonesia di Taiwan disarankan menerima konseling mental berkala untuk mencegah kerentanan stres di tengah sibuknya bekerja di rantau, disampaikan oleh Nina Rini Suprobo, dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM) kepada CNA belum lama ini, usai kajian UM terhadap beberapa PMI di Taiwan.
Sebelumnya, pada Minggu (13/9), empat dosen dari UM memberikan seminar kesehatan mental di Masjid Agung Taipei. Selain itu, para dosen tersebut juga mengunjungi salah satu shelter (tempat penampungan) pekerja migran Indonesia (PMI) di ZHongli dan kunjungan ke Wanli Community untuk menemui para Anak Buah Kapal (ABK) migran di pekan yang sama.
Selain Nina, kegiatan seminar kesehatan mental tersebut diisi juga oleh Mika Vernicia Humairo, Dian Puspita Ningtyas Laksana dari Departemen Kesehatan Masyarakat UM; dan Rizqie Putri Novembriani dari Departemen Kebidanan, Fakultas Kedokteran UM. Kegiatan penyuluhan sosial (pensos) tersebut bertajuk “Cakap, Tanggap, Terampil di Negeri Orang : Pekerja Migran Sehat, Selamat, Berdaya”.
Melalui ketiga kegiatan yang terpisah, para peneliti yang juga dosen tersebut memberikan skrining kesehatan mental untuk mengidentifikasi tingkat stres psikologis pada PMI di Taiwan. Instrumen yang digunakan adalah Depression Anxiety Stress Scales-21 (DASS-21) pada subskala stres. Total responden yang berhasil dijangkau sebanyak 68 PMI yang tersebar di tiga lokasi kegiatan utama, disampaikan oleh Mika, salah satu peneliti yang terlibat.
Ada 68 responden yang mengisi skrining di tiga tempat tersebut dengan rincian di Masjid Agung Taipei ada sekitar 40 orang, kemudian di salah satu shelter di Zhongli sebanyak 14 orang, dan jumlah yang sama untuk kelompok ABK migran di Wanli, New Taipei City, tulis rilis pers yang diterima CNA.
Dari hasil tersebut, Proporsi Normal vs Stres: Tepat 50,00% (34 PMI) berada dalam kategori Normal, dan 50,00% (34 PMI) mengalami indikasi stres ringan hingga sangat berat. Kelompok Kerentanan Tinggi berada di shelter Zhongli mencatatkan tingkat stres tertinggi, di mana 92,86% (13 dari 14 penghuni) menunjukkan gejala stres psikologis.
Sedangkan data di Masjid Agung Taipei, responden sebanyak 40 PMI, dengan 52,50% (21 PMI) menunjukkan indikasi stres (termasuk delapan kasus stres berat dan satu sangat berat) disusul kelompok ABK Wanli: 100,00% (14 ABK) berada pada kategori normal (0% mengalami gejala stres), menurut keterangan tersebut.
Menurut Nina, dari keseluruhan hasil, sebaiknya dilakukan konseling secara berkala bagi PMI di Taiwan dikarenakan ditemukan keadaan stres sedang, berat dan sangat berat.
“Kami mengimbau agar intervensi krisis psikologis di shelter menjadwalkan layanan konseling psikologi tatap muka dan pendampingan kesehatan jiwa darurat bagi penghuni Shelter Zhongli secara prioritas,” kata Nina.
Sama halnya ia pun mengomentari soal dukungan mental komunitas untuk membuka Pojok Konseling berkala secara berkelompok dari hasil skrining pada peserta yang hadir di masjid Daan.
“Untuk menjangkau sembilan kasus stres berat/sangat berat bagi PMI yang melakukan skrining Masjid Agung Taipei diperlukan penguatan sistem rujukan yaitu membangun jejaring penanganan bersama KDEI Taipei, organisasi relawan, dan fasilitas kesehatan lokal di Taiwan untuk rujukan medis kasus berat tersebut,” ungkap Nina yang didukung ketiga dosen lainnya.
Penliti lainnya, Dian Puspita Ningtyas Laksana menjabarkan bahwa hasil analisa secara detail kerentanan ekstrem berada di salah satu shelter Zhongli dengan tingginya angka stres (92,86%) sangat
berkorelasi dengan latar belakang penghuni yang berada dalam situasi krisis, seperti pemutusan
hubungan kerja, sengketa hak ketenagakerjaan, kasus hukum, atau masalah kesehatan emosional
yang terisolasi.
Sementara itu, dinamika stres komunitas di Masjid Agung Taipei, dari 40 PMI yang diperiksa di Masjid Daan, sebanyak 21 PMI (52,50%) mengalami stres. Keberadaan delapan kasus stres berat dan satu sangat berat
mengindikasikan bahwa ada pekerja di sektor domestik/manufaktur tetap menanggung beban
mental tinggi meskipun masih aktif bekerja.
“Beruntung hasil 100% normal pada ABK di Wanli mencerminkan efektivitas mekanisme adaptasi kelompok (peer support) di lingkungan pelabuhan, meskipun pemantauan berkala tetap diperlukan terkait risiko paparan beban fisik ekstrem,” ujar Dian.