Taipei, 24 Sep. (CNA) Tang Chia-hung (唐嘉鴻), Hung Yuan-hsi (洪源禧), Chuang Chia-lung (莊佳龍), Lee Chih-kai (李智凱), dan Shiao Yu-jan (蕭佑然) hari Rabu (23/9) meraih medali perunggu kedua berturut-turut Taiwan dalam nomor beregu putra senam artistik Asian Games.
Taiwan mencetak total skor 239,896 poin di final, berada di belakang Tiongkok dan Jepang yang masing-masing menyabet emas dan perak. Tim bangkit setelah hanya menempati peringkat kelima pada kualifikasi beregu.
Pelatih tim Lin Yu-hsin (林育信) dalam wawancara media mengatakan bahwa setelah melakukan penyesuaian selama satu hari, seluruh anggota mampu menunjukkan kemampuan mereka. "Ini adalah pertandingan yang sangat mengharukan."
Lin mengatakan tim berada di bawah tekanan yang cukup besar untuk memenangkan medali lagi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Ia menyebut dua atlet senior dalam tim, Lee dan Tang, telah membantu para junior. "Selama pemusatan latihan, mereka tidak hanya menjadi teladan, tetapi juga berkomunikasi dengan para junior dan mewariskan pengalaman mereka."
Tang, peraih perunggu palang tunggal putra Olimpiade Paris 2024, mengatakan sambil tersenyum kepada CNA bahwa karena tidak berpartisipasi pada edisi Asian Games sebelumnya akibat baru pulih dari cedera tendon, ia sempat merasa sedikit tertekan.
"Saya berpikir, andai kami tidak mendapatkan medali, apakah orang-orang akan menganggap itu karena saya? Jadi, hari ini saya sedikit menurunkan tingkat kesulitan dan berusaha sebaik mungkin dalam pelaksanaan gerakan. Saya juga percaya mampu melakukannya," ucapnya, yang berhasil menempati posisi teratas palang tunggal.
Tang juga menceritakan bahwa komunikasi tim berlangsung lancar dan santai. "Kalau ada yang ingin disampaikan, kami langsung mengatakannya. Kalau ada pendapat mengenai teknik, kami juga bisa saling berkomunikasi dan berdiskusi. Suasana keseluruhannya sangat santai."
Senada, Lee, peraih perak kuda pelana putra Olimpiade Tokyo 2020, mengatakan memang seperti itulah suasana dalam pertandingan beregu, di mana semua orang memiliki tujuan yang sama dan tidak ada yang bertanding sendirian.
Chuang (22), junior di tim yang baru pertama kali mengikuti Asian Games, turut mendapat pujian dari para senior dan pelatih berkat performanya yang stabil.
Chuang mengatakan ia memang selalu memberikan tekanan besar kepada dirinya sendiri dalam latihan. Ditambah lagi, tim tidak tampil baik pada babak kualifikasi, sehingga tekanan terasa semakin besar. Untungnya, di penampilan final tidak terjadi kesalahan dan performanya juga cukup stabil.
Meskipun menjadi atlet pertama yang tampil dalam banyak nomor, Chuang mengatakan ia merasa tidak terlalu gugup ketika memikirkan "masih ada rekan-rekan setim yang sangat kuat" di belakangnya.
"Saya juga mencoba menyesuaikan tingkat kesulitan dan berusaha menyelesaikan seluruh rangkaian gerakan dengan sempurna," ucapnya.
Sementara itu, Hung (25), juga debutan Asian Games, mengatakan bahwa setelah babak kualifikasi berakhir, ia berdiskusi dengan pelatih dan rekan-rekan setim mengenai cara memperbaiki aspek tekniknya, seiring skornya saat itu tidak ideal.
"Hari ini target kami sangat jelas dan semuanya berjuang demi medali. Karena itu, ketika tampil, mental kami juga lebih teguh," kata Hung, yang berhasil meraih skor 13,800 poin di palang sejajar dan menempati peringkat kedelapan.
"Pada edisi sebelumnya, saya hanya bisa menjadi penonton. Tahun ini, saya bukan hanya terpilih masuk tim nasional, tetapi juga kembali meraih medali perunggu [tim Taiwan]. Kebahagiaan itu benar-benar sulit digambarkan. Namun, rasanya sangat menyenangkan bisa membantu tim," ucapnya.
(Oleh Li Chien-chung dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF