Taipei, 19 Sep. (CNA) Lima dari penerima Tang Prize 2026 menyampaikan kuliah mengenai karya dan gagasan yang mereka kembangkan sepanjang karier pada Sabtu (19/9), setelah menerima penghargaan dalam upacara di Taipei pada Jumat (18/9).
Lima dari enam penerima hadir secara langsung di Taipei Performing Arts Center, sementara Steven A. Rosenberg, salah satu dari tiga penerima Tang Prize bidang Biopharmaceutical Science, tidak dapat melakukan perjalanan ke Taiwan, menurut Tang Prize Foundation.
Keenam penerima tahun ini dianugerahi penghargaan dalam empat bidang: pembangunan berkelanjutan, ilmu biomedis, sinologi, dan supremasi hukum. Mereka adalah ilmuwan atmosfer Susan Solomon, ilmuwan biomedis Rosenberg, Michel Sadelain dan Carl H. June, sejarawan Tiongkok Ge Zhaoguang (葛兆光), serta sarjana hukum konstitusi Yale University Bruce Ackerman.
Pemulihan Lapisan Ozon
Dalam kuliahnya di Taipei pada Sabtu, Solomon mengatakan pemulihan lapisan ozon Antarktika merupakan salah satu contoh paling berhasil tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan kebijakan internasional dapat bekerja bersama menghadapi ancaman lingkungan global.
Penelitian Solomon mengenai chlorofluorocarbons (CFC) membantu menjelaskan hubungan antara bahan kimia tersebut dan lubang ozon di Antarktika. Temuannya turut memberikan dasar ilmiah bagi Protokol Montreal, perjanjian internasional yang secara bertahap menghentikan penggunaan bahan-bahan perusak ozon.
Solomon menjelaskan bahwa CFC dapat bertahan selama puluhan tahun di atmosfer sebelum radiasi ultraviolet memecahnya dan melepaskan klorin. Atom klorin kemudian memicu reaksi kimia yang menghancurkan ozon.
Ia mengatakan keberhasilan Protokol Montreal menunjukkan bahwa solusi lingkungan harus dibuat personal, dapat dirasakan, dan praktis bagi masyarakat. Perjanjian tersebut telah ditandatangani oleh 197 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa dan secara signifikan mengurangi konsentrasi CFC di atmosfer.
Namun, Solomon memperingatkan bahwa pemulihan lapisan ozon masih membutuhkan waktu puluhan tahun. Ia juga menyoroti ancaman baru, termasuk asap dari kebakaran hutan yang semakin parah. Penelitian setelah kebakaran Australia pada 2020 menunjukkan bahwa partikel asap dapat memfasilitasi reaksi yang merusak ozon di luar wilayah kutub.
Demokrasi Slogan Ancam Pemilu
Sementara itu, Ackerman membahas tantangan yang dihadapi demokrasi di era internet. Profesor hukum dan ilmu politik Yale Law School tersebut memperingatkan apa yang disebutnya sebagai demokrasi slogan (sound-bite democracy), ketika platform daring memungkinkan tokoh politik menyebarkan pesan yang cepat, emosional, dan menyederhanakan persoalan kompleks kepada khalayak dalam jumlah besar.
Menurut Ackerman, kondisi tersebut dapat memungkinkan demagog meraih kekuasaan melalui pemilu dengan menggambarkan lawan politik sebagai “musuh rakyat”.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan “Deliberation Day”, sebuah hari khusus beberapa minggu sebelum pemilu ketika warga diberi kesempatan mempelajari isu-isu utama, mendengarkan argumen yang berseberangan, serta mengajukan pertanyaan kepada perwakilan kandidat.
Ackerman mengatakan sekitar 150 eksperimen jajak pendapat deliberatif di berbagai negara menunjukkan bahwa forum semacam itu dapat meningkatkan pengetahuan peserta dan membantu mereka memahami pandangan yang berbeda. Menurutnya, demokrasi membutuhkan institusi yang memberi pemilih waktu untuk berpikir sebelum menentukan pilihan politik.
Momen Penting yang Membentuk Sejarah
Sementara itu, Ge Zhaoguang menggunakan kuliahnya sebagai penerima Tang Prize bidang Sinologi untuk mendorong para sejarawan memperluas perspektif dan memberi perhatian lebih besar pada momen-momen penting yang dapat mengubah arah sejarah.
Ge yang kajiannya mengenai pertanyaan “What is China?” menyebut berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dicirikan oleh “kemajuan berkelanjutan”, ketika temuan baru dapat membuat pengetahuan sebelumnya menjadi usang.
“Sejarah berbeda. Bahkan dengan temuan-temuan baru, kita tetap harus meninjau sejarah hingga kembali ke titik awalnya di masa lampau,” kata Ge.
Sejarawan berusia 76 tahun yang mengkhususkan diri pada sejarah intelektual dan agama Tionghoa itu kemudian memberikan sejumlah contoh untuk menunjukkan pentingnya melihat peristiwa sejarah dari perspektif yang lebih luas.
Ia mencontohkan Great Debate 1258, sebuah perdebatan bersejarah yang menurutnya menjadi titik balik dan membuka jalan bagi Buddhisme Tibet untuk menjadi kekuatan keagamaan dominan dibandingkan Taoisme di Tiongkok.
Contoh lainnya adalah hilangnya kendali Dinasti Ming atas Annam, yang kini merupakan Vietnam, pada 1427. Menurut Ge, Annam kemudian berkembang menjadi basis kekuatan penting di Semenanjung Indochina sekaligus pusat perdagangan Laut China Selatan. Perubahan tersebut turut memengaruhi hubungan Tiongkok dengan kekuatan-kekuatan dunia Barat yang sedang berkembang pada masa Age of Discovery.
Bagi Ge, contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa penelitian sejarah tidak cukup dilakukan dengan membaca dokumen kuno menggunakan “kaca pembesar”. Sejarawan juga membutuhkan “lensa sudut lebar” untuk menempatkan tokoh, peristiwa dan pengamatan sejarah dalam konteks yang lebih luas.
Pendekatan tersebut, katanya, dapat memperluas perspektif sejarawan sekaligus membuka jalur baru dalam penelitian sejarah.
Peringatkan Dampak Pemangkasan Dana Riset AS
Dua peraih Tang Prize 2026 bidang Biopharmaceutical Science, Carl H. June dan Michel Sadelain, memperingatkan bahwa pemangkasan dana penelitian pemerintah Amerika Serikat dapat memperlambat kemajuan ilmu pengetahuan dan mengurangi kesempatan bagi peneliti muda. Mereka mengatakan dampaknya dapat terasa dalam jangka panjang, terutama terhadap regenerasi tenaga kerja ilmiah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Taipei, Sabtu (19/9), setelah Associated Press melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah memangkas atau membekukan hingga US$177 miliar hibah federal sejak kembali ke Gedung Putih. Sektor kesehatan termasuk bidang yang paling terdampak.
June, seorang imunolog dan profesor kedokteran di University of Pennsylvania, mengatakan perubahan kebijakan pendanaan sudah memengaruhi institusi penelitian. Laboratoriumnya, misalnya, harus mengurangi perekrutan ilmuwan dan peneliti baru. Menurutnya, hal ini dapat menimbulkan efek jangka panjang terhadap dunia akademik maupun industri farmasi karena universitas memiliki peran penting dalam melatih generasi ilmuwan berikutnya.
“Penelitian kami sendiri sedang melambat,” kata June. Ia menambahkan bahwa jumlah proyek yang dapat dikerjakan peneliti juga semakin berkurang.
June juga menyoroti hambatan visa bagi peneliti asing. Sekitar separuh anggota laboratoriumnya berasal dari Asia. Menurutnya, pertukaran peneliti antarnegara merupakan bagian penting dari perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga pembatasan mobilitas internasional berpotensi memperlambat kemajuan riset.
Sadelain, profesor kedokteran di Columbia University, mempertanyakan alasan di balik perubahan kebijakan tersebut. Ia menyebut sejumlah alasan yang beredar, mulai dari upaya mengurangi pajak, anggapan bahwa universitas tidak efisien, hingga keyakinan bahwa lembaga riset swasta atau kecerdasan buatan dapat mengambil sebagian peran penelitian.
June, Sadelain, dan Steven A. Rosenberg menerima Tang Prize atas kontribusi mereka dalam mengembangkan terapi TIL dan CAR-T, dua bentuk imunoterapi yang menggunakan sel kekebalan tubuh pasien untuk melawan kanker.
Tang Prize didirikan pada 2012 oleh pengusaha Taiwan Samuel Yin (尹衍樑) dan diberikan setiap dua tahun untuk mengakui kontribusi penting dalam empat bidang tersebut.
(Oleh Chao Yen-hsiang, Sean Lin, Joseph Yeh, Sunny Lai, dan Muhammad Irfan)
Selesai/