Oleh Jason Cahyadi dan Muhammad Irfan, penulis staf CNA
Taiwan mungkin tidak begitu diperhitungkan di kancah sepak bola kekinian. Namun, siapa sangka, pada 1958, tim Taiwan—yang saat itu membawa nama Republik Tiongkok (ROC)—menjuarai Asian Games. Dalam perjalanannya menuju gelar tersebut, Taiwan mengalahkan Indonesia di semifinal di National Stadium, Tokyo, pada 31 Mei.
Arsip CNA mencatat meskipun awan tebal menyelimuti Tokyo, duel di lapangan sangat panas. Sejak awal, Indonesia dan Taiwan langsung terlibat dalam perebutan bola yang sengit dan berlangsung secara tarik-menarik. Kedua tim silih berganti mencoba melepaskan tembakan, tetapi di babak pertama tidak ada yang berhasil merobek jala.
Usai turun minum, peluang tercipta bagi Taiwan ketika Lam Sheung-yee (林尚義) mengoper bola kepada Mok Chun-wah (莫振華), yang kemudian mengirim umpan lambung ke arah garis akhir lapangan, menurut arsip CNA.
Memanfaatkan kelengahan pemain bertahan Indonesia, Chow Shiu-hung (周少雄) menyundul bola dari tengah kerumunan dan mencetak gol di menit ke-67, membuat skor berubah menjadi 1-0 yang bertahan hingga peluit panjang.
Di sepanjang pertandingan, Taiwan melepaskan sepuluh tembakan, sementara Indonesia sebelas, menurut penelusuran Lin Hsin-kai (林欣楷), penulis buku "Mimpi Kita: Perkembangan Sepak Bola Taiwan Selama Satu Abad" (我們的足球夢).
"Dari jalannya pertandingan, perbedaan antara kedua tim sangat kecil," kata Lin kepada CNA, seraya mencatat bahwa Indonesia adalah tim kuda hitam yang performanya mengejutkan, dengan formasi pemain yang relatif muda.
Tim Indonesia tercatat melakukan 17 pelanggaran, sementara Taiwan sebelas, menurut arsip CNA, yang menyebut statistik pertandingan menunjukkan betapa sengitnya persaingan kedua kesebelasan.
Harian Suara Merdeka edisi 2 Juni 1958 mencatat Indonesia "terlalu banyak mendasarkan siasatnya kepada tenaga dan kecepatan, tetapi melupakan formasi penyerangan yang berencana. Ini menyebabkan terputus-putusnya hubungan tim satu sama lain," yang dimanfaatkan Taiwan untuk melancarkan "desakan yang bertubi."
Salah satu pemain andalan Indonesia, sang "Macan Betawi" Tan Liong Houw, juga "tidak bisa berbuat banyak di sekitar magic square karena ia sendiri mendapat tanggung jawab dan pekerjaan yang berat di dalam mengimbangi keuletan-keuletan" para pemain bertahan Taiwan, menurut laporan itu, yang dilansir kembali oleh IDN Times.
"Kekalahan atas Taiwan akibat kurang cepat dalam dari bertahan ke menyerang. Indonesia mendapat empat peluang namun gagal. Sedangkan lawan begitu satu peluang langsung berbuah gol," kata Maulwi, yang juga mantan ajudan Presiden Sukarno, kepada Harian Umum tahun 1957, dilansir Bola.com.
Di final, Taiwan menaklukkan Korea Selatan 3-2 dalam perpanjangan waktu, meski harus bermain dengan sepuluh pemain sejak akhir babak pertama seiring Lam diganjar kartu merah.
Melalui gol kapten Yiu Cheuk-yin (姚卓然), Lau Yee (劉儀), dan Wong Chi-keung (黃志強), Taiwan, yang dilatih mantan pesepak bola legendaris Lee Wai-tong (李惠堂), sukses menyabet medali emas.
Arsip CNA mencatat bahwa ketika bendera ROC perlahan dikibarkan di arena pertandingan, lebih dari 60.000 penonton berdiri dengan khidmat untuk memberikan penghormatan, sementara lebih dari 6.000 pendukung tampak begitu gembira hingga hampir menitikkan air mata.
Setelah tiba di Bandara Songshan pada 4 Juni dengan penerbangan carter, tim berkeliling Taipei dengan menaiki jip dan berjabat tangan dengan masyarakat yang berbaris menyambut mereka.
Hingga kini, Taiwan telah membukukan total tiga medali di sepak bola Asian Games: dua emas dari nomor putra di 1954 dan 1958 serta satu perunggu dari putri pada 1994.
Di sisi lain, usai takluk dari Taiwan, Indonesia menekuk India 4-1 dan sukses membawa pulang medali perunggu. Pencapaian terbaiknya hingga kini.
Keberhasilan Skuad Garuda tak bisa dilepaskan dari tangan dingin pelatih asal Yugoslavia, Antun Toni Pogačnik. Ia meletakkan salah satu dasar permainan sepak bola Indonesia—mengandalkan kecepatan dan ketepatan—setelah menyadari bahwa pemain di Asia Tenggara umumnya memiliki postur tubuh yang relatif pendek, dilansir Antara.
Di Asian Games 1958, Taiwan secara total mengoleksi enam medali emas dari angkat besi kelas menengah, dasalomba, lari gawang 400 meter, tinju, tenis meja putra, dan sepak bola; sebelas perak; serta 17 perunggu, menempatkan mereka di peringkat kelima klasemen.
Pada perhelatan berikutnya di Jakarta, Taiwan dan Israel tidak diikutsertakan karena simpati pemerintahan Sukarno pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan negara-negara Arab, sementara tim Indonesia terhenti di babak grup.
Di Asian Games 2026 yang kembali dihelat di Jepang, tim sepak bola Indonesia absen, sementara Taiwan berlaga di nomor putri dengan nama Chinese Taipei, menunjukkan awal yang solid dengan mengalahkan Vietnam 2-1 pada Senin (14/9) dan Tailan 1-0 Kamis, serta dijadwalkan melawan tuan rumah Senin depan.
Laga klasik
Dikutip dari koran Merdeka terbitan 31 Mei 1958, pertandingan Indonesia kontra skuad Taiwan di semifinal Asian Games ketiga itu adalah "pertandingan tradisionil" yang selalu mencatatkan kekalahan bagi tim Indonesia.
Berdasarkan penelusuran CNA, Indonesia beberapa kali mengalami kekalahan dari pemain-pemain Hong Kong, baik ketika mereka mewakili Hong Kong maupun Taiwan.
Kekalahan Indonesia pertama kali terjadi kontra Taiwan pada semifinal Asian Games II di Manila, Filipina dengan skor akhir 2-4. Yang kedua adalah 1-2 dari Hong Kong di Merdeka Games di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1957, yang membuat tim Garuda harus puas dengan juara dua.
Koran Merdeka mencatat, dua pertandingan ini memiliki cerita yang berkesan bagi tim nasional Indonesia. Di Manila, terjadi cerita "botol kosong dan mercon" yang masih diingat pendukung Indonesia di 1958. Sementara itu, di Kuala Lumpur, pertandingan hampir berakhir ricuh.
Dalam pemberitaan yang dimuat sebelum pertandingan, Merdeka juga menulis apakah laga Indonesia melawan Taiwan di Tokyo akan menjadi "permainan sepak bola yang bermutu tinggi atau pertandingan tinju."
Arsip CNA juga mendokumentasikan bahwa Chow, yang berposisi sebagai penyerang tengah, sempat bertabrakan dengan penjaga gawang legendaris Indonesia, Maulwi Saelan saat membawa bola jauh ke jantung pertahanan Garuda.
Chow sempat kehilangan kesadaran, dan wasit dan petugas medis segera datang untuk memeriksa kondisinya. Ia mengalami cedera ringan pada bahu kanannya dan tidak mengalami masalah serius, kemudian kembali bermain. Namun, pertandingan sempat dihentikan selama dua menit.
Sebelum laga, Indonesia cukup optimistis dengan komposisi pemainnya yang kebanyakan diisi pemain remaja ditambah sejumlah pemain senior seperti Maulwi, Liong Houw, Kiat Sek, dan Him Tjiang. Sementara tim Taiwan, dicatat oleh Merdeka, terdiri dari pemain yang sudah cukup lanjut usia dan memiliki masalah dengan kecepatan.
Toni dalam wawancaranya dengan Suara Merdeka edisi 27 Mei 1958 mengatakan ia memang sengaja memilih pemain-pemain muda sebagai bagian dari peremajaan skuad, dilansir IDN Times.
Indonesia saat itu tengah menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia, dengan mencapai semifinal Asian Games Manila 1954, menjalani tur Eropa Timur medio Agustus-September 1956, menahan imbang Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956, dan menjuarai Pestabola Merdeka Malaysia 1957, menurut IDN Times.
Arsip CNA mencatat bahwa ke-14 tim nasional yang berlaga di Asian Games 1958 memiliki tingkat permainan yang cukup tinggi dan tidak semudah yang dibayangkan untuk dihadapi. Terkadang, pertandingan bahkan berubah menjadi pertempuran yang kacau.
Taiwan (?)
Taiwan, yang datang sebagai juara bertahan, saat itu memang tengah menggenjot prestasi internasionalnya, di tengah persaingan keterwakilan Tiongkok antara ROC dan RRT, menurut tesis magister Lin, yang mengulas sejarah sepak bola Taiwan.
Hal ini membuat ROC merekrut pemain terampil dari Hong Kong untuk pertandingan internasional. Sebagai ganjarannya, pesepak bola lokal Taiwan sebagian besar tersisih dari panggung global, menurut Lin.
Sementara nama Taiwan mentereng di panggung internasional, perkembangan sepak bola di dalam negeri saat itu justru terutama aktif pada tingkat akar rumput, dengan ditopang komunitas-komunitas lokal, menurut Lin, doktor dalam bidang sejarah.
Arsip CNA juga mencatat Wakil Presiden Chen Cheng (陳誠) pada 5 Juni 1958 pagi menyambut dan mengapresiasi para atlet Tionghoa perantauan yang membela ROC di Asian Games, termasuk tim sepak bola.
Kepada CNA, Lin mengatakan skuad ROC untuk Asian Games 1958, 1966, dan 1970 seluruhnya berasal dari Hong Kong, berbeda dengan 1954 di mana ada pemain dari Taiwan, baik penduduk lokal maupun yang baru bermigrasi dari Daratan Utama Tiongkok.
Para pemain pada Asian Games 1958 terlebih dahulu menjalani pemusatan latihan selama tiga bulan di Hong Kong, kemudian terbang ke Taiwan, dan pada hari yang sama langsung ke Jepang, sehingga hubungan mereka dengan dunia sepak bola lokal sangat terbatas, catat tesis Lin.
Namun, hubungan dan kerja sama antara Taiwan dan Hong Kong meneruskan jaringan sepak bola Tiongkok sebelum perang, serta relasi dunia sepak bola Hong Kong dan komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, menurut Lin.
Di samping skuad yang terdiri dari pemain Hong Kong, menurut Lin, komite sepak bola ROC, yang berdiri tanggal 11 Juni 1955, pada 1958 juga belum profesional di bidangnya.
"Di Taiwan, mengenai pemahaman kami terhadap kemampuan teknis 22 orang yang terpilih [untuk Asian Games 1958], semuanya didasarkan pada ulasan di surat kabar. Namun, dalam proses seleksi kali ini, kami sangat mempercayai pendapat para tokoh senior sepak bola Hong Kong," menurut editorial di 偉華體育旬刊 pada 15 Maret 1958.
Namun, skuad ini memang elit. Di antaranya, Yiu, Mok, dan Wong, jika ditambah Ho Cheng-yau (何祥友), membentuk kuartet yang dijuluki "Empat Batang Rokok South China" (南華四條菸), sesuai nama klub mereka, South China di divisi teratas Hong Kong, kata Lin.
Yiu, sang kapten, juga dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Hong Kong pada periode pascaperang dan disematkan julukan "Harta Hong Kong" (香港之寶), kata Lin kepada CNA.
ROC berhenti merekrut pemain Hong Kong setelah 1971, seiring dengan berkembangnya ketidakpuasan kalangan sepak bola Hong Kong atas kebijakan ini.
Hal ini juga membuat Lee, selaku pelatih, menyadari Taiwan terlalu bergantung pada pemain Hong Kong dan sangat membutuhkan pembinaan pesepak bola lokal.
Ia kemudian berulang kali menyerukan agar lembaga-lembaga terkait di Taiwan memberikan perhatian terhadap pembinaan pemain lokal, bahkan secara pribadi melatih pesepak bola putri.
Kekuatan sepak bola putra Taiwan kian tenggelam seiring hubungannya di dunia olahraga ini dengan Hong Kong secara bertahap menjauh, menyisakan kelompok putrinya yang masih menunjukkan taji hingga kini.
Selesai/ja