Taipei, 18 Sep. (CNA) Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan (PPI Taiwan) menyoroti peningkatan jumlah pelajar Indonesia di Taiwan yang kini mencapai sekitar 25.000 hingga 27.000 orang, yang dinilai perlu diiringi dengan penguatan perlindungan dan pendampingan khusus di bidang pendidikan.
Ketua Umum PPI Taiwan periode 2025–2026 Nurul Dzakiyyah mengatakan peningkatan jumlah pelajar juga diikuti dengan semakin beragamnya persoalan yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Taiwan, terutama terkait program magang.
Dalam siniar Fokus Taiwan Indonesia "Ruang Taiwan" bertajuk "Suara Mahasiswa Indonesia di Taiwan", Nurul mengatakan sejumlah persoalan yang dilaporkan kepada PPI Taiwan antara lain jam kerja berlebih tanpa bayaran serta ruang lingkup pekerjaan yang tidak sesuai dengan program studi mahasiswa.
"Kalau misalkan bicara realistis dengan kasus sebanyak ini, dengan pelajar sebanyak ini, kurasa memang kita membutuhkan pejabat setingkat atas pendidikan," kata mahasiswa magister bidang Kesehatan Masyarakat di China Medical University tersebut.
Menurut Nurul , keberadaan bidang khusus yang menangani pendidikan pelajar Indonesia dapat membantu memisahkan persoalan akademik dari cakupan perlindungan warga negara secara umum.
Ia mengatakan selama ini PPI Taiwan berperan sebagai penghubung mahasiswa dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, sementara KDEI memiliki Tim Perlindungan Pelajar Indonesia di Taiwan (TP3I) yang dapat menindaklanjuti berbagai laporan kepada pihak terkait.
"Bukan berarti KDEI mengabaikan laporan-laporan kita, tetapi mereka juga mengurusi rekan-rekan lainnya, pekerja migran Indonesia contohnya," ujar Nurul .
Nurul mengatakan dirinya telah menyampaikan kebutuhan tersebut dalam audiensi bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia pada awal tahun ini bersama PPI Dunia.
Ia menambahkan, kebutuhan akan pejabat atau bidang yang secara khusus menangani pendidikan pelajar Indonesia di Taiwan telah menjadi perhatian PPI Taiwan selama beberapa tahun terakhir.
Kesehatan masyarakat Taiwan menjadi pembelajaran bagi Indonesia
Sebagai mahasiswa bidang kesehatan masyarakat, Nurul juga menyoroti sejumlah kebijakan kesehatan masyarakat Taiwan yang menurutnya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia, salah satunya kebijakan terkait rokok.
Menurut Nurul , Taiwan menerapkan pembatasan terhadap aktivitas merokok di ruang publik, sementara rokok elektrik atau rokok elektronik juga dilarang di Taiwan.
Ia juga menyoroti praktik penyimpanan produk tembakau di minimarket Taiwan yang tidak dipajang secara terbuka seperti di Indonesia.
"Di Taiwan (peraturan) sangat ketat. Ada kebijakan di Taiwan yang kalau mau merokok di publik, di sekitarnya tidak boleh lebih dari lima orang," katanya.
Namun, Nurul menekankan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat tidak dapat diterapkan begitu saja dari satu negara ke negara lain karena terdapat perbedaan karakteristik dan perilaku masyarakat.
Ia mengatakan pengalaman Taiwan tetap dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dengan menyesuaikannya dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan di dalam negeri.
PPI Taiwan gelar Sport Tour Fest
Sementara itu, PPI Taiwan juga akan menggelar PPI Taiwan Sport Tour Fest 2026 pada 25–27 September di National Taiwan University (NTU) dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).
Ketua Pelaksana PPI Taiwan Sport Tour Fest 2026 Sufyan Romzi mengatakan kegiatan tersebut merupakan penggabungan kegiatan olahraga dan budaya yang sebelumnya digelar oleh departemen berbeda di PPI Taiwan.
Nama Sport Tour Fest merupakan gabungan dari konsep olahraga dan budaya, dengan tema "Start, Play, Give", kata Sufyan.
Rangkaian kegiatan mencakup Mobile Legends, bulu tangkis, bola basket, futsal, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), makanan dan minuman, serta pertunjukan seni dan budaya Indonesia.
"Karena menggabungkan dua rumpun itu, ada olahraga dan budaya, kita coba yang namanya tidak mewakili satu rumpun saja. Tetapi kita coba gabungkan, namanya Sport Tour Fest," ujar Sufyan.
Menurut Sufyan, kegiatan tersebut terbuka bagi pelajar, mahasiswa, mahasiswa Taiwan, mahasiswa asing, pekerja migran Indonesia (PMI), serta masyarakat umum.
Selain pertandingan olahraga, panitia juga menyediakan bazar dan kegiatan budaya, termasuk pertunjukan tari, pakaian tradisional yang dapat dicoba pengunjung, serta produk UMKM Indonesia.
Sufyan mengatakan kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat Indonesia di Taiwan untuk memperoleh informasi mengenai pendidikan, khususnya bagi PMI yang ingin membantu anak atau keluarganya melanjutkan pendidikan di Taiwan.
"Untuk teman-teman PMI atau masyarakat Indonesia itu kami sangat terbuka sekali jika anak-anaknya ingin kuliah ke Taiwan, bingung bagaimana caranya, karena teman-teman panitia ini tersebar dari berbagai kota di seluruh Taiwan, dari berbagai kampus, itu juga bisa ditanyakan di sana," katanya.
(Oleh Agoeng Sunarto dan Jennifer Aurelia)
Selesai/IF