Taipei, 26 Agu. (CNA) Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Arif Sulistyo mengajak pekerja migran Indonesia (PMI) menjaga kesehatan mental dan manfaatkan layanan konseling, seiring dengan adanya pergeseran pola aduan yang diterimanya.
Bila sebelumnya aduan didominasi sengketa kerja dengan majikan atau agensi, kata Arif, kini masalah pribadi seperti jeratan pinjaman daring (pinjol), konflik rumah tangga, serta tekanan ekonomi keluarga kian mendominasi.
Dalam wawancara khusus dengan CNA baru-baru ini, Arif memaparkan bahwa dari 1 Januari hingga 8 Agustus, KDEI telah menangani kepulangan 100 jenazah PMI, dengan enam di antaranya disebabkan bunuh diri, mayoritasnya merupakan laki-laki dan dipicu beban finansial pinjol dan tekanan keluarga.
Merespons kondisi tersebut, KDEI menggandeng berbagai komunitas, universitas di Indonesia dan Taiwan, serta lembaga swadaya masyarakat untuk menggencarkan edukasi kesehatan mental.
Arif juga mengapresiasi dan merekomendasikan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti chatbot "AI Angel" pada aplikasi LINE @aiangel yang dikembangkan lembaga swadaya masyarakat Taiwan GOH Migrants, sebagai garda awal bagi pekerja migran untuk mencurahkan isi hati.
Baca juga: GOH Migrant, pusat layanan PMA yang sediakan pelatihan, pengaduan, hingga konsultasi
Arif mengimbau seluruh PMI, khususnya kaum pria dan calon pekerja migran, untuk aktif menyalurkan waktu luang ke dalam kegiatan positif, seperti olahraga, aktivitas keagamaan, maupun organisasi komunitas.
Ia pun mengingatkan agar para pekerja tidak ragu mencari bantuan dan tidak merasa sendirian di Taiwan.
Selain memanfaatkan saluran pengaduan dan konseling saluran siaga 1955 milik Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan, kata Arif, para pekerja juga dapat menghubungi Bidang Ketenagakerjaan KDEI.
"Tubuh perlu dijaga, pikiran perlu diperhatikan, dan perasaan perlu didengarkan. Berangkat ke Taiwan sehat, pulang pun harus sehat dan sukses," pungkas Arif.
Selesai/JC