Taipei, 27 Agu. (CNA) Taiwan perlu mengubah pendekatan tradisional dalam perencanaan industri dengan menempatkan industri yang membutuhkan banyak energi, seperti kecerdasan buatan (AI), di wilayah yang telah memiliki kapasitas listrik dan jaringan listrik memadai, kata seorang eksekutif sektor energi pada Rabu (26/8).
"Dulu, listrik mengikuti industri, tetapi di masa depan, industri harus mengikuti listrik," kata General Manager Fabulous Power Co., Sam Hung (洪向民) dalam New Energy Forum di Taipei.
Hung mengatakan industri AI dan teknologi tinggi sebaiknya dikembangkan di area di mana pembangkit listrik, sumber daya pembangkit, dan sumber daya jaringan sudah direncanakan, daripada melanjutkan praktik membangun kawasan industri terlebih dahulu lalu terburu-buru membangun infrastruktur listrik di sekitarnya.
Usulan ini muncul saat Hung dan panelis lainnya, Kelsey Kuan (關婷怡), membahas tantangan dalam menyediakan listrik yang stabil dan rendah karbon sementara Taiwan memperluas pembangkit energi terbarukan dan industri AI yang boros energi.
"Meningkatkan kapasitas terpasang tidak berarti jumlah listrik terbarukan yang sama akan tersedia 24 jam sehari, tujuh hari satu pekan," kata Hung dalam diskusi panel di forum yang diselenggarakan oleh Business Today.
Tenaga surya dan angin bersifat intermiten, sementara energi panas bumi dapat menyediakan pembangkitan listrik secara terus-menerus dengan faktor kapasitas lebih dari 90 persen, sehingga menjadi pelengkap potensial bagi sumber-sumber tersebut, ujarnya.
Meski memiliki potensi, pengembangan panas bumi di Taiwan masih terkendala oleh risiko eksplorasi yang tinggi, biaya pengeboran, dan skala industri domestik yang terbatas, menurut Hung.
Survei geologi yang lebih komprehensif oleh pemerintah, dikombinasikan dengan investasi dan partisipasi dari perusahaan swasta serta pengguna listrik, akan membantu mengurangi risiko tersebut dan memperluas sektor ini, tambahnya.
Berbicara di panel yang sama, Kuan, general manager Star Trade, mengatakan bahwa kemunculan pusat data kecerdasan buatan (AIDC) akan menciptakan tantangan tambahan bagi sistem kelistrikan Taiwan.
Banyak operator AIDC memiliki komitmen RE100, sementara pasokan listrik hijau di Taiwan masih ketat, kata Kuan.
RE100 adalah inisiatif global di mana perusahaan berjanji untuk mendapatkan 100 persen listrik mereka dari sumber terbarukan.
Oleh karena itu, penyimpanan, mikrogrid, dan sistem manajemen daya yang lebih canggih harus dikembangkan sebelum permintaan tersebut benar-benar muncul, kata Kuan, seraya mencatat bahwa sebuah proyek penyimpanan dapat memakan waktu antara 18 bulan hingga dua tahun sejak memperoleh lahan hingga menyelesaikan pengadaan dan konstruksi.
Fasilitas semacam itu dapat menyimpan kelebihan listrik terbarukan dan mengalirkannya pada periode saat perusahaan membutuhkannya, memungkinkan bisnis menggunakan porsi listrik hijau yang lebih besar dari yang mereka beli, ujarnya.
Kuan juga menyerukan kebijakan pemerintah yang jelas dan konsisten serta standar teknis untuk proyek energi.
"Selama kebijakan dan regulasi jelas, bisnis dapat merespons dengan cepat," katanya.
Selesai/IF