Startup Taiwan jajaki kerja sama dengan mitra lokal Indonesia

26/08/2026 18:52(Diperbaharui 26/08/2026 18:52)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Sejumlah startup asal Taiwan lakukan kunjungan ke Indonesia jajaki peluang kerja samadengan pengusaha lokal (Sumber foto : TTM, 25 Agustus 2026)
Sejumlah startup asal Taiwan lakukan kunjungan ke Indonesia jajaki peluang kerja samadengan pengusaha lokal (Sumber foto : TTM, 25 Agustus 2026)

Jakarta, 26 Agu. (CNA) Sejumlah perusahaan rintisan (startup) Taiwan mengunjungi Indonesia untuk mencari peluang kerja sama bisnis, dengan Kepala Tim Teknis Taiwan (TTM) Dana Kerja Sama dan Pembangunan Internasional (TaiwanICDF) di Indonesia Kao Hsiang-tai (高祥泰) menekankan pentingnya memahami regulasi, kondisi pasar, serta menemukan mitra lokal yang tepat untuk memasuki pasar Indonesia.

HAOSHi Foundation pada 18–21 Agustus membawa sejumlah startup Taiwan, yakni Giant Bio Technology, kapal nirawak akuakultur EZaquaculture, dan Eslitec, mengunjungi Yogyakarta dan Jakarta untuk melakukan kunjungan industri, pertukaran bisnis, serta penjajakan kerja sama. Kantor Perwakilan TTM ICDF di Indonesia turut mengikuti rangkaian kegiatan tersebut untuk membantu perusahaan Taiwan bertemu dengan perusahaan dan lembaga terkait di Indonesia.

Kao mengatakan kepada CNA bahwa perusahaan Taiwan yang ingin memasuki pasar Indonesia perlu memahami ketentuan impor, registrasi produk, Standar Nasional Indonesia (SNI), serta sertifikasi terkait sektor pertanian, pangan, dan bidang lainnya.

Mengingat Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan kondisi pasar yang berbeda-beda di setiap daerah, menemukan mitra lokal, agen, atau saluran distribusi yang dapat diandalkan juga sangat penting, kata Kao.

Dari sisi produk, meski produk Taiwan umumnya memiliki keunggulan dalam teknologi dan kualitas, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan daya beli konsumen Indonesia, kebiasaan penggunaan, serta kebutuhan pasar setempat. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan produk dan model bisnis mereka, katanya.

Khususnya untuk produk teknologi pertanian, perangkat pintar, dan mesin, dukungan teknis, pemeliharaan, serta layanan purnajual juga dapat memengaruhi minat pelanggan untuk menggunakan produk tersebut, tambah Kao.

Karena itu, menurut Kao, perusahaan pada tahap awal dapat melakukan demonstrasi, uji coba, atau proof of concept (PoC) untuk memverifikasi penerapan produk secara langsung dan memastikan kesesuaiannya dengan kondisi serta kebutuhan setempat sebelum secara bertahap memperluas pasar dan skala kerja sama.

Delegasi tersebut pertama-tama mengunjungi Yogyakarta untuk melihat perusahaan dan lokasi budi daya perikanan, serta mempelajari berbagai hal terkait budi daya perikanan cerdas, pemantauan kualitas air, pengelolaan budi daya, dan pencegahan penyakit. Mereka juga mengamati secara langsung berbagai permasalahan yang dihadapi pelaku usaha budi daya perikanan setempat.

Setelah menyelesaikan kunjungan di Yogyakarta, delegasi melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk melakukan penjajakan kerja sama bisnis secara langsung dan pertukaran informasi dengan pelaku industri.

Kao mengatakan kunjungan tersebut telah menghasilkan perkembangan dalam penjajakan kerja sama bagi startup Taiwan.

EZaquaculture tengah berdiskusi dengan sebuah universitas di Yogyakarta mengenai pelaksanaan eksperimen dan uji konsep, dengan perkembangan kerja sama akan ditindaklanjuti melalui pertemuan daring, katanya.

Sementara itu, Giant Bio Technology telah menjalin komunikasi dengan lembaga pemerintah Indonesia yang terkait dengan sektor perikanan untuk mengevaluasi kemungkinan memperkenalkan teknologi dan produk Taiwan untuk diuji coba melalui universitas setempat, kata Kao.

Ia menambahkan, Misi Teknis TaiwanICDF ke depannya akan membantu perusahaan Taiwan mencari mitra kerja sama atau lokasi demonstrasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus membantu perusahaan memahami kebutuhan pasar dan lingkungan administratif setempat guna mendorong kerja sama lebih lanjut antara Taiwan dan Indonesia.

(Oleh Gwyneth Sharon dan Agoeng Sunarto)

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.