Taipei, 28 Agu. (CNA) Bertepatan dengan jatuhnya Festival Zhongyuan pada hari ke-15 bulan ke-7 kalender lunar, Kementerian Dalam Negeri (MOI) Taiwan mengimbau masyarakat untuk tidak perlu merasa takut berlebihan terhadap berbagai pantangan yang beredar di media sosial, Kamis (27/8).
MOI menjelaskan bahwa larangan-larangan tersebut pada dasarnya berakar dari kearifan hidup masa lampau untuk menjaga keselamatan dan ketertiban.
Baca juga: Takhayul bulan hantu Tionghoa yang ternyata turunkan angka kematian
Melalui siaran pers resminya, MOI memaparkan bahwa ritual di Zhongyuan Pudu merupakan salah satu upacara adat terpenting di Taiwan.
Tradisi Pudu merupakan perpaduan nilai bakti dan kebajikan dari Festival Ullambana dalam ajaran Buddha, upacara pengampunan arwah dari Taoisme, serta catatan sejarah imigran awal Taiwan yang menghadapi kerasnya pembukaan lahan, bahaya pelayaran, hingga konflik antarkelompok.
Perpaduan nilai tersebut melahirkan budaya penghormatan dan kepedulian terhadap arwah leluhur maupun arwah telantar, kata MOI.
MOI menerangkan, ritual Pudu digelar secara bergiliran oleh klenteng dan permukiman warga di berbagai daerah.
Beberapa tradisi khas daerah antara lain Festival Zhongyuan Keelung di Taiwan utara yang menampilkan pelepasan lampion air bergiliran antar marga sebagai lambang penerang jalan.
Juga ada Festival Dashiye di Minxiong, Kabupaten Chiayi, yang diakhiri dengan pembakaran replika dewa pelindung yang terbuat dari kertas untuk mengantar arwah kembali ke alamnya.
Di timur laut, ada kompetisi panjat tiang "Chiangku" di Toucheng, Kabupaten Yilan, yang memadukan doa, ketangkasan fisik, dan pembagian sesaji kepada kelompok rentan, lanjut MOI.
Menanggapi pantangan yang marak dibicarakan, MOI meluruskan fungsi praktis di balik kebiasaan kuno tersebut.
Larangan bersiul atau keluyuran tengah malam sejatinya bertujuan mengingatkan warga untuk waspada terhadap tindak pencurian di era ketika fasilitas lampu jalan belum memadai, sebut MOI.
Larangan bermain air di sungai atau laut berkaitan langsung dengan puncak musim panas dan musim taifun yang rawan memicu kecelakaan air, kata MOI.
Sementara itu, larangan menjemur pakaian di malam hari bermula dari tingginya harga kain pada zaman dahulu agar tidak dicuri, sekaligus selaras dengan pola hidup agraris masyarakat, tambah MOI.
Adapun sesaji sup kangkung memiliki makna filosofis "tulus menjamu, namun tak berniat menahan", sebagai simbol doa agar arwah segera melanjutkan perjalanannya dengan tenang setelah menikmati hidangan, kata MOI.
MOI menegaskan esensi ibadah Zhongyuan terletak pada ketulusan niat, bukan pada kuantitas sesaji atau volume pembakaran uang kertas sembahyang.
Oleh karena itu, pemerintah mengajak masyarakat beralih ke metode sembahyang ramah lingkungan, seperti mengganti uang kertas sembahyang dengan beras sembako maupun dialihkan menjadi donasi sosial.
Cara ini tidak hanya efektif menekan polusi udara, tetapi juga mengalirkan rasa hormat kepada leluhur menjadi kepedulian nyata bagi lingkungan hidup dan masyarakat yang membutuhkan, kata MOI.
(Oleh Kao Hua-chien dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC