Taipei, 10 Agu. (CNA) Rombongan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan dan Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia baru-baru ini membahas sejumlah agenda strategis, termasuk pendidikan keagamaan diaspora.
Pada pertemuan yang digelar 3 Agustus lalu, kedua pihak mendiskusikan pentingnya pemahaman terhadap regulasi dalam penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas edukasi masyarakat Indonesia di luar negeri, kata PCINU dalam rilis pers, Jumat (7/8).
PCINU menyebut dalam konteks masyarakat diaspora, kebutuhan pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat di dalam negeri, sehingga diperlukan komunikasi dan koordinasi antara lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, serta komunitas masyarakat Indonesia di luar negeri.
Di sisi lain, PCINU memandang bahwa jaringan pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam konteks masyarakat diaspora.
Kerja sama dapat dilakukan dalam berbagai bidang, seperti pengembangan pendidikan, peningkatan kompetensi pendidik, pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum, serta program pendidikan keagamaan bagi masyarakat Indonesia di Taiwan, menurut PCINU.
"Pesantren memiliki peran penting dalam menjaga tradisi keislaman sekaligus membangun karakter generasi muda. Karena itu, jejaring pesantren dengan komunitas muslim Indonesia di luar negeri perlu terus diperkuat," kata Ketua Tanfidziyah PCINU, Muhammad Ghofur, yang memimpin rombongan.
Menurutnya, penguatan jaringan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di Taiwan yang membutuhkan pendidikan agama yang kontekstual, moderat, dan tetap berakar pada tradisi keislaman ahlusunah waljamaah.
PCINU sendiri telah membangun berbagai aktivitas pendidikan dan keagamaan melalui struktur organisasi dan jaringan ranting di sejumlah wilayah Taiwan, yang mencakup pengajian, pendidikan Alquran, pembinaan keagamaan, kajian keislaman, kegiatan sosial, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam pertemuan, PCINU juga menyampaikan pentingnya memperluas akses informasi dan kesempatan memperoleh beasiswa bagi masyarakat Indonesia, termasuk diaspora.
Menurut Ghofur, masyarakat Indonesia di Taiwan memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui akses pendidikan yang lebih luas. Edukasi menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kapasitas individu sekaligus memperkuat kontribusi diaspora bagi pembangunan tanah air.
"PCINU Taiwan ingin terus membangun jejaring dengan lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah di Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana akses informasi dan peluang beasiswa dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat Indonesia di Taiwan," kata Ghofur.
Ia menambahkan, keberadaan PCINU dapat menjadi salah satu simpul yang membantu menyampaikan informasi program pendidikan kepada masyarakat Indonesia di Taiwan sekaligus menghubungkan mereka dengan lembaga pendidikan di tanah air.
Hal tersebut dinilai penting karena sebagian masyarakat Indonesia di Taiwan memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan, baik pada jenjang perguruan tinggi maupun pendidikan keagamaan, menurutnya.
Ghofur menegaskan bahwa PCINU tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tetapi juga berupaya mengambil peran dalam pendidikan, sosial, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan hubungan Indonesia dengan masyarakat diaspora.
"PCINU Taiwan ingin menjadi bagian dari solusi. Kami ingin membangun jembatan antara masyarakat Indonesia di Taiwan dengan pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, dan berbagai stakeholder di Indonesia," tuturnya.
Menurut Ghofur, keberadaan masyarakat Indonesia di Taiwan harus dipandang sebagai potensi, seiring mereka tidak hanya membutuhkan pelayanan dan perlindungan selama berada di luar negeri, tetapi juga memerlukan ruang pengembangan kapasitas agar dapat berkontribusi lebih besar ketika kembali ke tanah air.
Oleh karena itu, kata Ghofur, program pendidikan dan pemberdayaan menjadi salah satu agenda penting yang terus didorong PCINU.
Sementara itu, Kepala Puspenma Kemenag Ruchman Bashori, menyambut baik kunjungan dan silaturahmi PCINU.
Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat Indonesia di luar negeri, menurut rilis pers.
Penguatan ekosistem pendidikan agama dan pendidikan keagamaan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, dengan pemerintah yang memiliki kebijakan dan program, sementara organisasi masyarakat serta komunitas diaspora memiliki jejaring dan kedekatan langsung dengan masyarakat, sebut rilis pers.
Sinergi keduanya diharapkan mampu memperluas manfaat program pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, demikian disebutkan rilis pers.
Bagi PCINU, pertemuan diharapkan tidak berhenti pada agenda silaturahmi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui program-program konkret.
Sejumlah peluang kerja sama yang dibahas meliputi penguatan akses informasi dan beasiswa, pengembangan jejaring pesantren dan lembaga pendidikan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan pendidikan keagamaan bagi diaspora Indonesia, serta sinergi dalam bidang regulasi dan program pendidikan.
PCINU mengatakan pertemuan ini menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan diaspora, serta komitmennya untuk memperkuat kontribusi masyarakat Indonesia di luar negeri.
Melalui pendidikan yang kuat, jejaring yang luas, dan kolaborasi lintas lembaga, kata PCINU, pihaknya berupaya memastikan bahwa masyarakat Indonesia di Taiwan tetap memiliki akses terhadap pendidikan, pembinaan keagamaan, dan pengembangan kapasitas, sekaligus tetap terhubung dengan tanah air.
Selesai/IF