Taipei, 5 Mar. (CNA) Seorang akademisi seismologi asal Indonesia pada Kamis (5/3) memuji upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi Taiwan yang berbasis sains, mengatakan negaranya sedang belajar dari pengalaman Taiwan di bidang tersebut untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerusakan.
Taiwan dan Indonesia sama-sama berada di wilayah yang aktif secara seismik, kata Dimas Salomo Januarianto Sianipar, lektor di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, dalam sebuah seminar di Taipei.
Sejak gempa berkekuatan 7,3 SR pada 21 September 1999 -- yang menewaskan lebih dari 2.400 orang -- Taiwan terus berkembang dari respons berbasis pengalaman menjadi perencanaan berbasis sains, dan kini menuju tata kelola berbasis informasi dan kecerdasan, ujarnya.
Dimas menyebutkan beberapa faktor kunci yang menurutnya berkontribusi terhadap keberhasilan Taiwan dalam pengurangan risiko bencana gempa bumi, termasuk upaya terkoordinasi antara sektor publik dan swasta, pengelolaan berbasis sains, infrastruktur yang tangguh, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta kesadaran publik.
Dibandingkan dengan Taiwan, Indonesia masih kekurangan kerangka kesiapsiagaan bencana gempa bumi yang terintegrasi dan adaptif yang berlandaskan pada data waktu nyata, pemodelan risiko yang maju, serta keterlibatan masyarakat, tambahnya.
Pada 2023, Taiwan dan Indonesia menandatangani nota kesepahaman mengenai ilmu gempa bumi dan manajemen bencana, yang telah membantu mendorong pertukaran pakar serta penguatan kapasitas dalam pencegahan bencana, kata Dimas.
Belajar dari pengalaman Taiwan, Indonesia juga mulai mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi sendiri pada tahun 2024, tambahnya.
Menurutnya, mengadaptasi kerangka kesiapsiagaan gempa bumi Taiwan yang terintegrasi dan adaptif penting bagi Indonesia karena memberikan "Contoh yang telah teruji tentang bagaimana komitmen politik yang berkelanjutan, perencanaan berbasis sains, regulasi infrastruktur yang ketat, serta integrasi sistem peringatan dini" dapat secara signifikan mengurangi dampak bencana.
Dimas menyampaikan pernyataan itu dalam pidato utama pada forum internasional setengah hari yang diselenggarakan TaiwanICDF, organisasi Taiwan untuk bantuan pembangunan internasional.
Ia sendiri tercatat pernah menempuh studi pascasarjana Academia Sinica dan National Central University Taiwan pada 2017 hingga 2022, kemudian menjadi peneliti pascasarjana di Institut Ilmu Bumi Academia Sinica pada Juli hingga September 2022.
Edisi keempat Forum Development Focus TaiwanICDF berjudul "From COP30 to a Resilience Turn: How Global Disaster Risk Reduction Is Rewriting the Rules".
Forum tersebut diselenggarakan setiap triwulan oleh TaiwanICDF dengan mengundang para pakar lokal dan internasional untuk membahas tren terbaru dalam bantuan pembangunan global, menurut organisasi tersebut.
(Oleh Joseph Yeh dan Jason Cahyadi)
Selesai/ML