Taipei, 3 Mar. (CNA) Konflik yang mengeskalasi di Timur Tengah kemungkinan besar tidak akan segera memicu krisis lintas Selat Taiwan atau secara langsung membahayakan Taiwan dalam hubungan antara Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, tetapi dapat menimbulkan risiko yang semakin besar dengan membebani sumber daya AS dan mempersulit pertemuan Trump-Xi yang akan datang, kata pakar.
Risiko invasi "tidak terlalu tinggi"
Chieh Chung (揭仲), peneliti asosiasi paruh waktu di Institute for National Defense and Security Research, mengatakan Presiden AS Donald Trump jelas berusaha meniru jenis operasi militer singkat dengan intensitas tinggi terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Hal ini akan memungkinkan Trump "Memfokuskan sumber daya AS di Indo-Pasifik untuk persaingan jangka panjang dengan Tiongkok," kata Chieh kepada CNA dalam wawancara telepon hari Senin (2/3).
Namun, Chieh mengatakan bahwa jika pertempuran di Timur Tengah tidak dapat segera diakhiri, pasukan AS kemungkinan besar tidak punya pilihan selain terus mengandalkan serangan udara presisi, karena pengerahan sejumlah besar pasukan darat tampaknya tidak mungkin dilakukan.
Ia mencatat bahwa Komando Indo-Pasifik AS telah lama memperingatkan tentang kekurangan persediaan amunisi berpemandu presisi, dan mengatakan kampanye yang berkepanjangan dapat segera mempengaruhi kesiapan tempur militer AS sendiri, yang nantinya "Melemahkan kemampuannya untuk menghalangi Tiongkok di Pasifik barat."
Meski begitu, Chieh mengatakan risiko invasi Tiongkok ke Taiwan secara langsung "tidak terlalu tinggi," dengan mengutip tujuan strategis jangka panjang Beijing untuk "reunifikasi damai" dan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang masih terbatas untuk memastikan kemenangan cepat, terutama setelah pemecatan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia (張又俠) dan pejabat senior PLA lainnya.
"Setelah pembersihan besar-besaran kepemimpinan militer seperti itu, saya percaya militer Tiongkok -- dan [pemimpin Tiongkok] Xi Jinping (習近平) sendiri -- seharusnya sadar bahwa ini bukan saat yang tepat untuk aksi militer eksternal berskala besar," kata Chieh.
Dampak pada pertemuan Trump-Xi
Chang Wu-ueh (張五岳), penasihat senior di Institute for National Policy Research, mengatakan langkah-langkah terbaru AS terhadap Venezuela dan Iran yang didukung Beijing menunjukkan bahwa Washington tetap fokus pada persaingan strategis dengan Tiongkok.
Dengan waktu yang semakin sempit dan kedua pihak sibuk dengan isu domestik, menjelang pertemuan Trump-Xi yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April di Tiongkok, kecil kemungkinan mereka akan mencapai kesepakatan besar mengenai perdagangan atau Taiwan, tambahnya.
Dengan krisis Timur Tengah yang masih berlangsung, Chieh mengatakan bahwa jika situasi pada akhir Maret berubah menjadi perang atrisi -- yang menunjukkan pasukan AS tidak dapat segera ditarik dari kawasan tersebut -- hal itu akan melemahkan posisi psikologis Trump menjelang negosiasi dengan Xi.
Ia menambahkan bahwa alat Washington untuk menekan Beijing telah menyusut secara signifikan setelah tarif impor timbal balik Trump dibatalkan Mahkamah Agung AS.
Dengan Trump tampak ingin pulang dari Tiongkok dengan kesepakatan besar yang sebagian dapat diwujudkan sebelum pemilu paruh waktu November, posisi tawar Beijing akan sangat diperkuat pada saat pertemuan, catat Chieh.
Akibatnya, Trump mungkin memandang penyesuaian terkait Taiwan tertentu sebagai sesuatu yang retoris dan terbuka untuk negosiasi, kata Chieh.
Ia mengutip kekhawatiran bahwa Trump dapat beralih dari mengatakan Washington tidak mendukung kemerdekaan Taiwan menjadi secara eksplisit menentangnya, atau memberlakukan batasan baru pada pertukaran politik dan militer dengan Taipei.
"Trump mungkin berpikir dia punya banyak ruang untuk interpretasi, tetapi bahkan perubahan kata-kata saja bisa dianggap Beijing sebagai pencapaian penting," tambah Chieh.
Penjualan senjata
Chieh mencatat bahwa jika Trump membuat komitmen tertentu selama kunjungan kenegaraannya ke Tiongkok, janji-janji tersebut dapat "Mengganggu penjualan senjata AS berikutnya ke Taiwan."
Penjualan tersebut, ujarnya, mungkin tidak langsung dibatalkan, tetapi dapat menghadapi pembatasan tambahan, memerlukan lebih banyak solusi alternatif, atau tertunda lebih lama dari yang diharapkan dalam hal pengumuman publik.
Ia juga memperingatkan bahwa senjata yang diharapkan Taiwan untuk dibeli dapat menghadapi penundaan pengiriman yang lebih lama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut.
Sistem yang diincar Taiwan, termasuk sistem rudal Patriot dan National Advanced Surface-to-Air Missile System (NASAMS), dapat menjadi lebih sulit diperoleh jika pertempuran berkepanjangan menguras persediaan AS dan mendorong Israel serta negara-negara Timur Tengah lainnya untuk memperluas kemampuan pertahanan udara mereka.
"Negara-negara NATO sudah memperkuat sistem pertahanan udara mereka sendiri, yang berarti Taiwan mungkin harus bersaing dengan banyak sekutu dekat Washington untuk kapasitas produksi yang terbatas," tambahnya.
Selesai/JC