Oleh Muhammad Irfan, staf reporter CNA
Insiden 228 sering dianggap titik penting dalam demokratisasi Taiwan. Hari yang disahkan sebagai hari libur nasional sejak 1997 ini diilhami dari momen represi oleh rezim Kuomintang (KMT) terhadap sejumlah demonstran, yang turun pasca dipukulnya seorang pedagang tembakau di Taipei oleh agen pemerintah. Ini memicu banyak korban jiwa dan ditetapkannya darurat militer dari 1949 hingga 1987. Namun, apakah peristiwa ini pernah diberitakan di Indonesia?
Berdasarkan sejumlah sumber, pemberitaan media asing terkait dengan insiden tersebut muncul di antaranya di koran The Daily News yang terbit di Perth, Australia. Namun, publikasi tersebut baru muncul satu bulan setelahnya, yakni Maret 1947.
Dalam laporan "Terror in Formosa", penulis John W. Powell, satu-satunya koresponden Amerika yang dapat mengunjungi Formosa saat insiden terjadi, menulis "Bahwa pasukan Pemerintah Tiongkok melakukan beberapa kekejaman yang paling tak terbayangkan untuk menekan demonstrasi. Warga Formosa telah melakukan kerusuhan melawan penindasan yang jauh lebih buruk daripada yang diderita di tangan Jepang."
Powell juga menulis, "Setelah kerusuhan dimulai, Pemerintah mengirimkan pasukan terbang yang menembakkan peluru senapan mesin dumdum ke setiap kelompok yang mereka temui. Jumlah kematian diperkirakan secara konservatif mencapai 5.000."
Berdasarkan penelusuran, di media asing lainnya, seperti The New York Times misalnya, turut menurunkan artikel tentang insiden itu dengan judul "Formosa killings are put at 10,000".
Berita pendek dan ragam sudut pandang
Dari penelusuran arsip media Indonesia di tahun 1940-an yang dilakukan CNA, pemberitaan terkait insiden 228 di antaranya muncul dari koran Tionghoa Sin Po dalam edisi bahasa Indonesia-nya yang terbit pada 8 Mei 1947.
Dalam terbitan pendek berjudul "Akibat Pemberontakan di Taiwan", Sin Po mengutip data CNA bahwa "Berdasarkan raport dari commandant gendarme di Taipei, dalem pemberontakan 28 Februari 400 orang telah terbinasa, 2000 loeka, 72 ilang, dan keroegian materiell ada berdjoemblah 190 milliard dollar nationaal."
Pemberitaan terkait Insiden 228, di antaranya, juga muncul sekitar 1949, empat tahun setelah Taiwan diserahkan Jepang ke pemerintah Republik Tiongkok (ROC) di bawah KMT yang dipimpin Chiang Kai-shek (蔣介石), sekaligus tahun yang sama dengan pindahnya pusat pemerintahan ROC ke pulau tersebut karena kalah perang melawan Partai Komunis Tiongkok (CCP) yang dipimpin Mao Zedong (毛澤東).
Namun, laporan-laporan yang terkait dengan rentetan peristiwa ini, termasuk kondisi sosial masyarakat Taiwan yang dibentuknya, sangat minim, seperti ditulis dalam berita singkat satu kalimat saja.
Majalah Spektra 10 November 1949, misalnya, menulis kalau "Rakjat Taiwan tidak akan mau membantu pemerintah Kuomintang karena pemerintah ini memeras rakjat Taiwan lebih keras dari orang2 Djepang."
Di edisi dua hari sebelumnya, yakni 8 November 1949, Spektra juga memuat tulisan yang menunjukkan situasi Taiwan saat itu yakni "Diantara penduduk Taiwan ada terdapat gerakan kemerdekaan, jang tidak mau dibawah pemerintah Tiongkok Nasionalis, begitu pula tidak setudju dengan pemerintahan Mao. Mereka menghendaki plebisciet dibawah pengawasan internasional."
Sedar Ontwaken, majalah yang terbit dalam bahasa Indonesia dan Belanda sepanjang tahun 1940-an juga menerbitkan satu halaman penuh artikel tentang Taiwan yang menyoroti kehidupan masyarakat adat suku Amis. Uniknya, di bagian penutup, artikel yang terbit pada Juni 1949 dan ditulis Mrs. HLN ini menyebut "Pendoedoek Taiwan jang tergolong intellectuelen (kaoem terpeladjar) telah membikin actie oentoek dapet memerentah poelonja sendiri, bebas dari tjampur tangan pamarentah Tiongkok."
Mengacu pada penelitian Taomo Zhou yang dipublikasi dalam bahasa Indonesia dengan judul "Revolusi, Diplomasi, Diaspora: Indonesia, Tiongkok, dan Etnik Tionghoa 1945-1967", kisruh politik di Tiongkok juga berimbas pada terpecahnya komunitas Tionghoa Indonesia antara yang mendukung KMT dengan mereka yang mendukung CCP. Hal ini juga memengaruhi bagaimana pers Tionghoa Indonesia memberitakan topik tersebut, termasuk pada isu Taiwan.
Majalah Pantjawarna pada terbitan November 1954 misalnya, mempublikasikan satu halaman penuh artikel tentang pulau Taiwan. Majalah budaya dan gaya hidup yang berafiliasi dengan Sin Po, pers Tionghoa-Indonesia veteran yang pada 1948 terbuka mendukung Republik Rakyat Tiongkok memuat paragraf yang menyitir isu soal insiden 28 Februari 1947.
Dalam artikel tersebut, penulis dengan nama Laolang ini mencatat "Bahwa Chiang Kai Shek semula dianggap sebagai pembebas dan saudara, namun ketidakpuasan rakyat memicu pemberontakan dalam tahun 1947 (Pebruari dan Maret) sehingga bilang ribu orang binasa."
Sementara itu, pada Mei 1955, "Majalah Mingguan Bergambar: Lukisan Dunia" juga menerbitkan artikel tentang Taiwan sebagai respons dari usulan Selandia Baru terhadap konflik Taiwan.
Dalam artikel bertajuk "Taiwan Sedjak 1000th Adalah Bagian dari Tiongkok", artikel satu halaman ini memuat profil Taiwan dan sekelumit sejarahnya sembari menegaskan bahwa Taiwan adalah pulau terbesar yang dimiliki Tiongkok.
Kedua media ini menunjukkan posisi mereka pada kepemilikan Taiwan oleh Tiongkok, dan artikel-artikel seperti ini mungkin jadi sekelumit artikel tentang gerakan masyarakat di Taiwan yang pernah terbit di media Indonesia serta bagaimana sudut pandangnya tergantung posisi pers tersebut.
Selesai/JC