Taipei, 26 Feb. (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Rabu (25/2) mengatakan bahwa menghadapi masa lalu Taiwan membutuhkan kebenaran, bukan ketakutan, dengan menekankan bahwa pemahaman yang jelas tentang sejarah sangat penting untuk memperkuat fondasi demokrasi.
Berbicara menjelang peringatan 79 tahun Insiden 228, Lai, yang juga ketua Partai Progresif Demokratik (DPP), menggambarkan peristiwa itu sebagai trauma terdalam dalam sejarah Taiwan, yang telah meninggalkan kesedihan mendalam dan tak terucapkan di banyak keluarga, menurut juru bicara DPP Wu Cheng (吳崢).
Lai menyampaikan pernyataan tersebut dalam rapat Komite Eksekutif Pusat DPP pada hari yang sama, kata Wu.
Lai mencatat bahwa trauma dari insiden tersebut, yang diperparah puluhan tahun penindasan otoriter, membuat banyak orang memilih diam dan mengubur kenangan menyakitkan untuk menghindari kerugian lebih lanjut.
Keheningan seperti itu, tambah Lai, dapat mengaburkan ingatan kolektif dan menciptakan peluang bagi mereka yang ingin memutarbalikkan atau menulis ulang sejarah.
"Menghadapi masa lalu tidak membutuhkan ketakutan, hanya kebenaran," kata Lai, menekankan bahwa keadilan transisional bukan tentang kebencian atau konfrontasi ideologis, melainkan proses mengenang, membersihkan luka, dan penyembuhan.
Seiring pemahaman tentang sejarah Taiwan menjadi semakin jelas, ucapnya, fondasi komunitas demokratis akan tumbuh lebih stabil, dan ia mengimbau persatuan untuk menjaga demokrasi dan kebebasan.
Secara terpisah, lebih dari 60 kelompok masyarakat sipil mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan acara peringatan pada Jumat.
Aksi tahunan ini, yang diluncurkan pada 2017 oleh Nylon Cheng Liberty Foundation dan Tsai Jui-yueh Dance Foundation, tahun ini telah berkembang dengan melibatkan puluhan organisasi peserta.
Penyelenggara mengatakan acara akan dimulai dengan pawai pada pukul 13.30 di Sekolah Dasar Rixin Kota Taipei, melewati beberapa lokasi yang terkait dengan Insiden 228, dan berakhir di depan Yuan Eksekutif.
Insiden 228 merujuk pada pemberontakan sipil di Taiwan dan penindasan brutal oleh pemerintah Nasionalis Tiongkok terhadap mereka yang dimulai pada 28 Februari 1947.
Selesai/JC