Taipei, 26 Feb. (CNA) Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS) melalui pers rilisnya mengabarkan seorang pekerja migran Indonesia (PMI) bernama Wayi, yang mengidap kanker payudara dan memilih pulang ke Indonesia untuk melanjutkan pengobatan, namun baru sembilan hari menjalani pengobatan di Indonesia, nyawa Wayi tak tertolong.
Saat dihubungi oleh CNA, Fajar ketua GANAS mengatakan bahwa pihaknya sudah menangani pelaporan PMI yang sakit tersebut. Namun PMI yang berasal dari Subang, Jawa Barat memilih untuk pulang dan itu merupakan haknya. GANAS pun membantu kepulangan Wayi dengan berkoordinasi ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Bidang Ketenagakerjaan untuk diteruskan kepada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
GANAS meminta, Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Wayi akan menjalani pemeriksaan medis awal di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta sebelum melanjutkan perawatan. Namun selama dua hari terakhir sebelum meninggal dunia tanggal 24 Februari, kondisi Wayi sangat menurun dan memprihatinkan, ungkap Fajar.
GANAS pun kembali merilis keterangan bahwa Wayi, PMI yang telah bekerja di Taiwan selama 15 tahun tersebut telah meninggal dunia.
Wayi sempat didampingi oleh keluarganya saat dirawat di Rumah Sakit Polri. Melalui GANAS, keluarga Wayi menyampaikan bahwa pihaknya mengikhlaskan kepergian Wayi, seperti apapun kondisinya. Keluarga Wayi juga menyampaikan terima kasih kepada KP2MI dan GANAS bahwa kepulangan tidak dipungut biaya sama sekali hingga jenazah dipulangkan di kampung halamannya. Bahkan, KP2MI juga memberikan santunan bagi keluarga.
Wayi merupakan PMI yang bekerja di Taichung sebagai penjaga lansia. Ia divonis mengidap penyakit kanker payudara sudah lama sekitar satu tahun lebih. Wayi baru datang ke GANAS untuk meminta bantuan, saat kondisinya sudah parah. Meskipun GANAS membujuk Wayi untuk tetap berobat di Taiwan mengingat fasilitas kesehatan yang di Taiwan yang lebih mumpuni, tetapi Wayi memilih untuk pulang ke tanah air.
“Yah begitulah PMI di Taiwan ini, karena sibuk bekerja sampai tidak memerhatikan kesehatan, bahkan kalau sakit tidak dipedulikan. Kami baru tahunya juga sudah gawat seperti ini,” ungkap Fajar.
Fajar menuturkan bahwa sebelumnya GANAS sering menerima banyak kasus PMI mengidap sakit kanker servik yang sudah kronis. Ia dan timnya pun berinisiatif untuk mengadakan kelas-kelas informasi dan sarana konsultasi untuk membekali para PMI terhadap penyakit tersebut, terutama para wanita.
“Kami berpesan kalau ada tanda-tanda tidak nyaman atau merasa kurang sehat, segera periksa ke dokter. Jangan ditunda. Namun saya sendiri juga kasihan melihat teman-teman yang tidak bisa libur, bagaimana mereka untuk check up dan berkonsultasi ke dokter untuk pencegahan sakit seperti ini,” ungkap Fajar diiringi harapan agar PMI lebih diizinkan berlibur demi kesehatan dan mengikuti kelas pencegahan sakit kanker.