Taipei, 22 Feb. (CNA) Sebuah stasiun penelitian pertanian di Tainan baru-baru ini mengembangkan varietas wijen baru, "Tainan No. 2", dengan biaya produksi 35 persen lebih rendah dan kandungan minyak yang lebih tinggi, yang meningkatkan daya saing industri wijen domestik Taiwan.
Menurut statistik Kementerian Pertanian (MOA), Taiwan sangat bergantung pada impor wijen, dengan produksi domestik hanya menyumbang sebagian kecil. Pada 2024, impor mencapai 38.149 ton, sementara produksi dalam negeri hanya 1.290 ton.
Untuk memperkuat produksi dalam negeri, stasiun penelitian tersebut telah mempromosikan "Tainan No. 2" kepada para petani lokal. Varietas ini memiliki dua fitur utama -- polong yang tidak mudah pecah dan memiliki kesesuaian yang lebih baik untuk panen mekanis -- yang membantu mengatasi ketergantungan pada tenaga kerja manual dalam produksi wijen di masa lalu, kata Stasiun Penelitian dan Penyuluhan Pertanian Distrik Tainan MOA dalam siaran pers.
Dibandingkan dengan "Tainan No. 1", di mana polongnya cenderung pecah dan menumpahkan biji setelah matang, varietas baru ini mengurangi kehilangan biji menjadi kurang dari 30 persen dan menjaganya tetap stabil di dalam polong setelah matang, kata stasiun tersebut, seraya menambahkan bahwa hal ini secara signifikan meningkatkan efisiensi operasional dan hasil panen.
Dengan varietas "Tainan No. 2", biaya produksinya dapat dipangkas hingga NT$50.000 (Rp26,773 juta) per hektare, dengan biaya keseluruhan turun 35 persen, dan keuntungan bersih meningkat lebih dari 35 persen, kata stasiun tersebut, mengutip uji lapangan terbaru.
Varietas baru ini memiliki batang yang kokoh dan tetap tegak meski terkena angin atau hujan, dengan tinggi polong melebihi 20 sentimeter, serta masa tanam yang mirip dengan "Tainan No. 1" yaitu sekitar 80 hingga 90 hari, kata stasiun tersebut.
Rata-rata hasil panen mencapai sekitar 120 kilogram per 0,1 hektare, sebanding dengan "Tainan No. 1", dengan beberapa area menunjukkan potensi yang lebih tinggi.
Selain itu, varietas "Tainan No. 2" memiliki kandungan minyak antara 48,2 persen hingga 51,8 persen, sementara 100 gram mengandung 1.197 hingga 1.389 miligram kalsium, keduanya lebih tinggi dibandingkan "Tainan No. 1", kata stasiun tersebut.
Varietas ini menandai tonggak penting bagi produksi wijen dalam negeri dalam menuju mekanisasi dan produksi berkelanjutan, tambahnya, serta akan mendukung petani melalui program demonstrasi dan penyuluhan teknis untuk membantu mempercepat peningkatan industri.
Selesai/IF