PMI Hsinchu dipecat pasca kekeliruan penerjemahan aplikasi

12/02/2026 12:18(Diperbaharui 12/02/2026 12:18)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Foto hanya untuk ilustrasi. (Sumber Foto : Unsplash)
Foto hanya untuk ilustrasi. (Sumber Foto : Unsplash)

Taipei, 12 Feb. (CNA) Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) dipecat majikannya setelah kata-katanya kepada pemberi kerjanya diterjemahkan secara keliru oleh aplikasi Google Terjemahan, tulis rilis pers Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS).

Wati (nama samaran), seorang pekerja penata laksana rumah tangga (PLRT) yang baru bekerja empat bulan di Hsinchu menuturkan kepada CNA bahwa ia dipecat oleh majikannya akibat kesalahpahaman. Wati mengaku ia tak paham bahasa Mandarin, jadi sehari-harinya menggunakan Google Terjemahan untuk berkomunikasi.

Nasib malang tersebut berawal saat Wati selalu menyiapkan bubur kacang hijau sebagai sarapan setiap harinya. Suatu hari, ujarnya, ia merasa bosan karena menu yang sama terus-menerus dan ia memasak menu yang lain.

Saat majikan bertanya mengapa pagi itu ia tidak membuat bubur seperti biasanya, Wati mencoba menjelaskan sebisanya dengan bahasa Mandarin seadanya, tetapi sang pemberi kerja tidak memahami maksudnya.

Wati kemudian menggunakan GoogleTerjemahan untuk menuliskan apa yang ingin ia sampaikan, bahwa ia bosan dengan menu yang sama, ujarnya.

Namun, kata "bosan" diterjemahkan sebagai "membosankan", membuat sang pemberi kerja mengira Wati merasa pekerjaannya dan majikannya membosankan, hingga menyimpulkan bahwa ia sudah tidak betah bekerja, ucap PMI tersebut.

Akhirnya, pihak agensi dipanggil untuk mediasi yang menyelesaikan masalah. Namun, keputusan majikan sudah bulat, bahwa mereka beranggapan Wati tidak lagi ingin dipekerjakan, menurut PMI tersebut. 

Fajar, ketua GANAS, saat diwawancarai CNA mengatakan bahwa karena keterbatasan penguasaan bahasa Mandarin, sebuah kesalahpahaman kecil berubah menjadi masalah besar hingga berujung pada pemutusan kontrak kerja.

Fajar memberikan pesan bagi rekan-rekan PMI bahwa menggunakan Google Terjemahan untuk berkomunikasi tidak selalu akurat secara konteks. Satu kata bisa memiliki makna berbeda tergantung situasi, dan kesalahan pemilihan kata dapat berdampak besar, ujarnya.

Fajar berpesan agar PMI menghindari kata-kata bernuansa emosi saat memakai Google Terjemahan, mencontohkan kata "bosan", "capek", atau "tidak suka" sangat mudah disalahartikan. Gunakan kalimat sederhana dan netral, ujarnya.

Dalam kasus Wati, Fajar mencontohkan, jangan menggunakan kalimat seperti "Saya bosan makan ini terus," dan sebagai gantinya, memakai "Saya ingin ganti menu hari ini."

"Jika ada masalah komunikasi, segera minta bantuan pihak ketiga. Hubungi agensi, teman sesama PMI, atau komunitas sebelum konflik membesar. Belajar frasa Mandarin dasar itu penting," ujar Fajar.

Di sisi lain, Fajar mengatakan bahwa ia menyayangkan keputusan Wati yang pulang ke Indonesia sebelum mediasinya membuahkan hasil, maupun pindah majikan. Namun, Fajar mencatat Wati memilih pulang karena ia juga sakit.

"Pelajaran yang harus dipetik kita semua mengenai hal ini adalah pemutusan kontrak bukan selalu karena kesalahan besar. Kadang, hal itu terjadi karena miskomunikasi yang seharusnya bisa dicegah. Kisah Wati adalah pelajaran bersama di negeri orang, bahasa bukan sekadar alat bicara tapi juga alat bertahan hidup," ujarnya.

(Oleh Miralux)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.