Wapres Hsiao berharap pelatihan relawan bencana bantu pekerja migran lindungi masyarakat

08/02/2026 15:03(Diperbaharui 08/02/2026 16:40)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Pelatihan relawan penanggulangan bencana bagi perawat asing hari Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)
Pelatihan relawan penanggulangan bencana bagi perawat asing hari Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)

Taipei, 8 Feb. (CNA) Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (蕭美琴) hari Sabtu (7/2) menghadiri pelatihan relawan penanggulangan bencana bagi pekerja migran, mengatakan Taiwan dan Indonesia sama-sama menghadapi tantangan bencana alam dan ia berharap dari kegiatan ini, para tenaga kerja asing dapat melindungi diri dan orang lain.

Dalam sambutannya di kegiatan tersebut, Hsiao mengatakan "Terima kasih" dalam bahasa Indonesia kepada para pekerja migran, atas kontribusi besar mereka bagi masyarakat Taiwan, menurut rilis pers Kantor Kepresidenan.

Para pekerja migran telah meninggalkan kampung halaman, melampaui batas-batas budaya dan etnis, dan menempuh perjalanan jauh ke tempat yang asing untuk mencurahkan tenaga bagi pembangunan ekonomi Taiwan, sekaligus merawat banyak lansia, kata Hsiao.

Ia juga berterima kasih karena para pekerja migran bersedia meluangkan waktu di sela-sela pekerjaan untuk mengikuti pelatihan relawan penanggulangan bencana guna meningkatkan kompetensi profesional mereka, dan meyakini bahwa pelatihan ini akan membawa manfaat nyata.

Hsiao menyebutkan bahwa Taiwan dan Indonesia sama-sama menghadapi tantangan bencana alam seperti gempa bumi dan topan. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan topan dan banjir menjadi semakin parah, ujarnya.

Beberapa tahun lalu, tambahnya, Indonesia pernah mengalami bencana besar seperti tsunami yang dipicu oleh gempa bumi. Dalam menghadapi bencana alam maupun yang diakibatkan manusia, kata Hsiao, setiap orang diharapkan mengetahui cara melindungi diri sendiri serta menjaga keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (tengah) bersama Kepala KDEI Taipei Arif Sulistiyo (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Taiwan Liu Shyh-fang (kanan) dalam pelatihan Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)
Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (tengah) bersama Kepala KDEI Taipei Arif Sulistiyo (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Taiwan Liu Shyh-fang (kanan) dalam pelatihan Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)

Karena Taiwan menghadapi berbagai tantangan dan risiko bencana alam, kata Hsiao, Presiden Lai Ching-te (賴清德) secara khusus mendorong konsep "ketahanan pertahanan rakyat semesta", di mana pelatihan kekuatan sipil merupakan salah satu pilar yang sangat penting.

Dengan kehangatan dan rasa tanggung jawab yang dimiliki, para pekerja migran sangatlah penting bagi masyarakat Taiwan, kata Hsiao, menambahkan bahwa pemerintah berharap semua orang dapat hidup dengan tenang di negara tersebut dan memahami cara melindungi diri.

Hsiao mengatakan ia berharap, setelah menyelesaikan pelatihan dan menjadi relawan penanggulangan bencana, para pekerja migran dapat kembali ke komunitas mereka untuk membagikan pengetahuan yang telah dipelajari kepada para pemberi kerja dan teman-teman lainnya.

Jika pemerintah terus menyelenggarakan pelatihan serupa di berbagai daerah di Taiwan, kata Hsiao, ia juga mendorong semua pihak untuk mengajak rekan senegara ikut berpartisipasi, agar pengetahuan kebencanaan yang profesional dapat menjadi kekuatan penting yang membuat semua orang merasa lebih tenang dan aman.

Hsiao juga menyampaikan terima kasih kepada para pekerja migran yang menjadikan Taiwan sebagai rumah kedua dan hidup bersama di tanah ini, serta harapannya bahwa semua orang dapat hidup dengan aman dan lancar di negara tersebut.

Menurut sambutan Hsiao, ini merupakan pertama kalinya pelatihan relawan penanggulangan bencana secara khusus diselenggarakan bagi pekerja migran di Taiwan, setelah sebelumnya lebih dari 100.000 relawan telah dilatih.

Dari kiri ke kanan: Menteri Ketenagakerjaan Hung Sun-han, Wakil Presiden Hsiao Bi-khim, Kepala KDEI Taipei Arif Sulistiyo, dan Menteri Dalam Negeri Taiwan Liu Shyh-fang, dalam pelatihan Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)
Dari kiri ke kanan: Menteri Ketenagakerjaan Hung Sun-han, Wakil Presiden Hsiao Bi-khim, Kepala KDEI Taipei Arif Sulistiyo, dan Menteri Dalam Negeri Taiwan Liu Shyh-fang, dalam pelatihan Sabtu. (Sumber Foto : Kantor Kepresidenan)

Sementara itu, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Arif Sulistiyo, dalam sambutannya mengatakan perawat migran Indonesia berada di garis terdepan dalam melindungi pasien ketika terjadi bencana, sehingga pelatihan ini sangat penting bagi mereka.

Ia juga mengatakan pekerja migran Indonesia telah menanggap Taiwan sebagai rumah kedua dan sukarela membantu saat terjadi bencana, dengan menyebut adanya kelompok-kelompok di antara mereka yang membantu pemulihan pasca banjir lumpur di Desa Guangfu, Kabupaten Hualien pada September 2025.

Arif mengatakan pihaknya berharap para peserta pelatihan dapat memahami risiko bencana di lingkungan masing-masing; mengetahui tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah musibah; serta mampu menyebarkan pengetahuan yang telah didapatkan kepada sesama.

Setelah menghadiri pelatihan, Hsiao juga mengunjungi kawasan di dekat Taipei Main Station yang dikenal di kalangan diaspora sebagai "Jalan Indonesia", di mana ia menyapa dalam bahasa Indonesia hingga membeli makan siang.

"Saya sempat mengira mungkin tidak banyak yang mengenali saya, tetapi ternyata saya tetap menerima begitu banyak sapaan hangat dan antusias," tulisnya di takarir sebuah unggahan video di akun Instagramnya.

"Terima kasih kepada para saudara dan saudari pekerja migran Indonesia yang lucu dan penuh kehangatan. Kalian bukan hanya membantu Taiwan, tetapi juga merupakan kepingan paling lembut dan krusial dalam jejaring keselamatan kami," tulisnya.

(Oleh Jason Cahyadi dan Miralux)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.