Taipei, 14 Jan. (CNA) Pusat Pencegahan dan Rehabilitasi Kecelakaan Kerja (COAPRE) Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) Taiwan bekerja sama dengan National Cheng Kung University (NCKU) mengembangkan alat bantu kerja khusus untuk membantu pekerja korban kecelakaan kerja kembali bekerja.
MOL pada Selasa (13/1) menggelar laporan rutin kinerja, di mana COAPRE memaparkan hasil program percontohan “Pengembangan Alat Bantu Kerja Khusus bagi Pekerja Korban Kecelakaan Kerja” yang mulai diuji coba pada 2025.
Dalam program tersebut, NCKU membentuk tim lintas disiplin yang terdiri dari ahli terapi okupasi dan desain industri. Melalui evaluasi fungsi yang mendalam, kunjungan langsung ke lokasi kerja, serta analisis proses kerja, tim mengidentifikasi hambatan yang dihadapi pekerja dan merancang alat bantu yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Pusat tersebut mencontohkan kasus seorang teknisi perawatan mesin yang mengalami cedera pleksus brakialis setelah terkena serpihan akibat ledakan mesin gerinda saat uji coba peralatan. Cedera tersebut menyebabkan kelemahan pada lengan kiri sehingga ia tidak mampu mengangkat tangan dan menjalankan pekerjaan perawatan dalam waktu lama.
Wakil Profesor Institut Ilmu Perawatan Kesehatan NCKU, Chang Jer-hao (張哲豪) menjelaskan bahwa teknisi tersebut harus mengangkat lengan hingga sudut 90 derajat dan mempertahankannya selama lebih dari 30 menit saat bekerja. Namun, alat bantu yang tersedia di pasaran umumnya hanya berfungsi mengurangi kelelahan, bukan menopang sepenuhnya, sehingga tidak memenuhi kebutuhan pekerja tersebut.
Melalui perancangan lintas tim, dikembangkan alat bantu berbentuk eksoskeleton yang mampu menopang gerakan dan kekuatan lengan, memungkinkan pekerja tersebut mempertahankan postur kerja secara stabil dan kembali bekerja di lingkungan yang telah dikenalnya.
Menurut COAPRE, program percontohan tahun 2025 mencakup total 21 kasus, termasuk pengembangan alat bantu khusus dan strategi pencocokan alat bantu.
Ke depan, MOL berharap model kerja sama lintas disiplin ini dapat diperluas ke wilayah Taiwan bagian utara dan tengah untuk meningkatkan kapasitas pengembangan alat bantu serta membangun jaringan dukungan rehabilitasi kecelakaan kerja yang lebih komprehensif bagi para pekerja.
(Oleh Wu Hsin-yun dan Agoeng Sunarto)