Taipei, 14 Jan. (CNA) Malam tahun baru bagi sebagian orang merupakan malam gemerlap pergantian tahun, tetapi tidak bagi Wati (nama samaran) istri dari Lutfi pekerja migran Indonesia (PMI). Wati menerima kabar bahwa suaminya mendapat kecelakaan tunggal dan dalam keadaan kritis di ICU, pada Rabu (31/12) tahun 2025 lalu, ujar Wati yang dihubungi oleh CNA lewat telepon genggamnya.
Pada hari nahas tersebut suaminya keluar dari mes untuk berbelanja keperluan dengan menggunakan sepeda listrik. Karena gelap, ia tak bisa melihat jalanan, dan kemudian menabrak tembok yang berjarak tiga rumah dari mesnya. Pada saat dibawa ke rumah sakit, Lutfi tidak sadarkan diri. Namun tidak ada luka luar, hanya luka dalam yaitu cedera otak yang membuatnya sempat muntah darah, ujar istri Lutfi.
Lutfi, PMI yang berasal dari Kediri, Jawa Timur ini mengalami patah rahang belakang, patah kaki sebelah kiri, rusuk bagian bawah patah dan cedera otak kritis, ungkap sang istri.
Pada hari itu juga Lutfi dioperasi dan harus tinggal selama beberapa hari di ICU, Kaohsiung Show Chwan Memorial Hospital.
Sempat sadar dan merasa lebih baik, Lutfi akhirnya keluar dari ICU dan hanya dirawat di ruang biasa. Namun beberapa hari kemudian Lutfi dinyatakan harus dioperasi lagi pada (14/1) dan masuk ICU kembali, ujar Wati sang istri.
Kali ini ia harus melakukan operasi kaki dengan memasang pen dan harus mengeluarkan biaya NT$62,000 (Rp33.076.778) per pen. Satu kaki membutuhkan 2 pen, dan istrinya hanya bisa membayar untuk 1 pen terlebih dahulu karena tidak ada biaya.
Wati mengatakan keseluruhan biaya saat ini yang harus ditanggungnya sebesar NT$300,000 lebih termasuk biaya ICU sebesar NT$50,000 selama 10 hari.
Istri Lutfi tak menyangka jika di akhir tahun 2025 mereka mendapat cobaan yang berat, padahal, keduanya baru saja memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah sekian lama tidak pulang, ujar Wati yang berasal dari Indramayu dan telah bekerja di Taiwan selama 10 tahun ini.
Kepada CNA, Wati mengucapkan terima kasih kepada majikan Lutfi yang sangat baik. Majikan suaminya itu tetap membayar gaji Lutfi secara penuh dan teman-teman pabrik Lutfi yang berada Kaohsiung juga membantunya. Namun, Wati mengatakan bahwa biaya rumah sakit dan pengobatannya masih belum cukup.
Saat dihubungi oleh CNA, Fajar, ketua Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS) mengatakan bahwa, ia menerima laporan mengenai kecelakaan tunggal yang terjadi pada Lutfi melalui sang istri.
“Istrinya menghubungi saya untuk meminta bantuan. Saya bersedih mendengar berita kecelakaan PMI seperti ini. Semoga kita dijauhkan dari segala marabahaya dan diberikan kesehatan selalu. Untuk kasus Lutfi, semoga dibukakan sisi kemanusian dari kita semua,” ujar Fajar.