Taipei, 15 Jan. (CNA) Mekarnya bunga prem yang tidak merata di Suku Luanshan di Kabupaten Taitung, Taiwan tenggara, merupakan akibat dari kerusakan akibat taifun tahun lalu yang dikombinasikan dengan kondisi medan perbukitan di daerah tersebut, menurut kepala asosiasi pertanian.
Ho Chieh-chen (何介臣), anggota komite tetap Asosiasi Pengembangan Pertanian Organik Taitung, mengatakan kepada CNA pada Rabu (14/1) bahwa pohon prem yang tidak terkena angin kencang telah berbunga secara normal, sementara pohon yang terdampak berbunga lebih lambat karena batang yang baru tumbuh masih lunak.
Ho, yang juga seorang petani prem, mengatakan bunga prem biasanya mekar sekitar satu bulan sebelum Tahun Baru Imlek dan musim tahun ini diperkirakan akan berakhir pada awal Februari.
Beberapa pohon prem yang rusak akibat bencana badai pada Agustus tahun lalu baru menumbuhkan daun kembali pada bulan September dan Oktober, kata Lu Po-sung (盧柏松), wakil direktur Stasiun Penelitian dan Penyuluhan Pertanian Distrik Taitung Kementerian Pertanian.
Lu mengatakan daun-daun tersebut belum sepenuhnya gugur, yang mengganggu perkembangan kuncup dan pembungaan serta membatasi mekarnya bunga tepat waktu hanya pada pohon yang tidak rusak.
Pembungaan telah mencapai sekitar 40 hingga 50 persen di daerah dengan ketinggian di atas 500 meter, sementara daerah di bawah ketinggian tersebut hanya sekitar 10 hingga 20 persen yang berbunga, kata Lu.
Ia mengatakan kerusakan akibat taifun juga menyebabkan siklus pembungaan terganggu, dengan beberapa pohon memiliki cabang yang berbunga dan tidak berbunga secara bersamaan.
Lu mengatakan diferensiasi kuncup yang buruk telah mempersingkat periode pembungaan dari tujuh hingga delapan hari menjadi sekitar tiga hingga empat hari, setelah itu kelopak mulai berguguran.
Selesai/IF